Teman-teman tahu nggak asal mula nama negara kita ini?? kalau belum tahu, neh tak kasih tahu. Asal mula sebutan nama Indonesia sehingga menjadi istilah hukum yang dicantumkan dan digunakannya dalam UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Simak baik-baik ya…..
Istilah nama Indonesia terbentuk dari suku kata : Indonesia yang berasal dari kata latin yaitu ; India atau Hindus dan suku kata Nesia yang berasal dari kata Yunani ; Nesos, yang berarti Pulau, yang selanjutnya dapat diartikan sebagai negara kepulauan.

Yang menemukan nama Indonesia adalah
James Ricardson Logan seorang ahli hukum kelahiran Skotlandia, ia menerbitkan : The Journal Of Indian Archipelago and Eastern Asia pada tahun 1847. Dengan terbitnya karangan Rusel Jones di majalah Archipel 6, SECMI 1973, yang berjudul Ear Logan and Indonesia, maka tumbuhlah pengertian dan anggapan baru tentang nama Indonesia. Dalam buku karangan Rusel Jones, ia berhasil mengungkapkan jasa GSW Eart seorang ahli hukum inggris kelahiran London (1813-1865). Ia telah menjelajahi “The Eastern Seas” sampai Australia, telah menulis : On The Leand Characteristic Of The Papuan, Australia and Melayu Polynesia Nation (1850). diterbitkan dalam Journal J.R logan Volume IV. Sebelum GSW. Earl yang berjudul : Sepertu tersebut, orang-orang Hindu menyebut “Dunia Kepulauan” dengan nama Dwipantara. Oleh sarjana-sarjana Eropa khususnya para sarjana Inggris memberi nama “Dunia kepulauan” selalu dihubungkan dengan nama Hindia. Dwipantara atau Nusantara disebut juga dengan nama “Indian Archipelago”, nama yang diciptakan oleh John Crawfued dalam bukunya History of The Indian Archipelago”. John Crawfued telah memberikan perubahan menonjol karena telah dapat merubah sedikit kebiasaan lama untuk menanamkan daerah sebelah timur gangga dengan sebutan India beyond the ganges atau Ultra gangetic India yang merupakan pengaruh penamaan yang ditinggalkan oleh Ptolomeus seorang Alexandria. Kamudian timbul sebutan lagi, yaitu East India.

Selanjutnya Hirce St. John memakai istilah Indian Archipelago dalam bukunya yang berjudul The India Archipelago, Its History and Present State (1953). Juga J.H. Moore memakai dalam karyanya yang berjudul Notice Of The Indian Archipelago and Adjecent Countries (1837).

Pada tahun 1869 sarjana A.R Wallace menerbitkan buku berjudul Malayana Archipelago. Para sarjana Prancis seperti halnya Dr. Pichard dalam bukunya Phisycal Histoy of Mankind telah menggunakan sebutan malaisian untuk menamai orang-orang berkulit sawo matang yang mendiami wilayah dwipantara. Akhirnya lahirlah istilah malaysia archipelago sebagai bandingan terhadap istilah A.R. Wallace, sedangkan di kalangan sarjana Prancis tumbuh istilah Oceania et Malasia.

Dengan berdasarkan beberapa tulisan, nampak bahwa mula pertama yang menciptakan rintisan nama Indonesia adalah GSW. Earl. Selanjtnya beliau sendiri lebih menyukai istilah Melayunesia dengan alasan karena istilah Indonesia ternyata lebih luas isinya hingga mencakup penduduk kepulauan Maladewa, dalam istilah JR Logan istilah Indonesia mulai muncul secara teratur ke arah penempatannya secara mantap.

Nama Indonesia itu kemudian menjadi terkenal dan tenar berkat jasa Prof. Adolf Bastian, guru besar Ethologi pada Universitas Berlin yang menulis buku Indonesia Order Die Inselndes Malaychen Archiples. Pada tahun 1913 muncul satu nama lain, seperti dipakai nama pelopor Indiche Partij yang telah dibubarkan oleh Belanda. Mereka mendirikan kembali partai baru dengan nama Partij Insulinde. Dimana nama tersebut merupakan ciptaan dari Multatuli pada tahun 1859 dalam bukunya Max Haveelar. Insulende sama dengan Indonesia, yang berasal dari kata Inseln, artinya pulau-pulau dan kata indie yang berarti Indo atau Hindus. Insulinde diciptakan untuk mengganti sebutan Indian Archipelago.

Perkembangan populer nama Indonesia masih terus berlanjut, terutama setelah tahun 1922 Universitas Leiden mendirikan jurusan Indologi dalam lingkungan Vereenigne Faculteiten Der Rochten En Letteren En Wijs Begeerte dibawah pimpinan Prof. C. Van Vollenhoven. Dengan semakin terkenalnya nama Indonesia, secara ilmiah mempengaruhi para pemuda dan mahasiswa kita yang belajar di Belanda menjadi makin tertarik perhatiannya, hingga pada tahun 1925 mereka merubah nama perhimpunan Indische Vereeninging menjadi Indonessesche Vereeninging yang kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia. Sejak itu mulailah untuk pertama kalinya istilah Indonesia digunakan dalam arti politik, karena yang dimaksud Indonesia oleh Perhimpunan Indonesia adalah wilayah Nederland Indie. Apabila kemudian pada hari Sumpah Pemuda tahun 1928, nama Indonesia diikrarkan menjadi nama bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia, maka indie yaitu bagian wilayah Indian Archipelago yang dikuasai Belanda. Dan sejak tanggal 17 Agustus 1945 itu semua sebutan Nederlandsche Oost Indische atau variasinya diganti menjadi Indonesia. Sebutan Indische Archipelago diganti menjadi archipel Indonesia dan sebagainya. Ngantuk ya baca ini, ya abis banyak kata asingnya, aku juga pegel mostingnya,tapi nggak masalah, karena berbagi itu indah,apalagi sejarah negara kita sendiri.

A.     AUGUST COMTE (1798-1857)

Positivisme adalah paham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan yang benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metode ilmu pengetahuan.

Positivisme adalah ajaran bahwa hanya fakta atau hal yang dapat ditinjau, melandasi pengetahuan sah.

Comte yakin bahwa kemampuan akal-budi manusia untuk mengenal gejala dunia agak terbatas, oleh karena itu manusia harus bersahaja dalam aspirasinya untuk mencari pengetahuan yang layak disebut ilmiah. Ia harus membatasi usahanya, dan hanya mengolah data indrawi yang obyektif dan nyata. Ada tiga hal yang dapat dilakukannya yaitu :

1.      Menerima dan membenarkan gejala empiris sebagai kenyataan

2.      Mengumpulkan dan menggolong-golongkan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka

3.      Meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang berdasarkan hukum-hukum itu, dan mengambil tindakanyang merasa perlu.

Dalam abad yang ke-19 banyak sarjana yakin bahwa seluruh alam termasuk dunia sosial akan dikuasai oleh hukum alam. Hukum itu berperan dengan lepas, bebas dari kemauan manusia. Pandangan ini disebut determinisme. Bukanlah manusia membangun dunia dan memberi arah kepada sejarahnya, melainkan hukum yang otonom. Sejarah dimengerti sebagai proses otonom yang berevolusi dari sendirinya dan tidak mungkin diberhentikan atau dibelokan oleh manusia. Maka manusia harus ikut saja dan mengadaptasikan diri. Ketidaktahuan manusia menyebabkan pepercahan masyarakat, konflik antar kelas sosial, dan segala akibat negatif dari keadaan tidak pasti di bidang-bidang sosial, politik, dan etis.

  1. Hukum Evolusi Masyarakat

Pandangan Comte tentang masyarakat bercorak “Holistis”. Masyarakat dilihat sebagai kesatuan, yang dalam bentuk dan arahnya tidak bergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan, otomatis perkembangan akal-budi manusia. Akal-budi dan cara orang berfikir berkembang dengan sendirinya. Proses itu berlangsung tahap demi tahap dan merupakan proses alam yang tak terlelakan dan tak terhentikan. Perkembangan itu dikuasai oleh suatu hukum universal yang berlaku bagi semua orang dimana pun dan kapan pun.

Comte membedakan tiga tahap dalam proses perkembangan akal-budi yaitu tahap religius, tahap metafisik, dan tahap positif.

a.)    Tahap agama

Fetisysme dan animisme termasuk bentuk-bentukpaling awal dari cara berfikir manusia. Alam semesta dianggap berjiwa. Ciri utama animisme ialah bahwa dunia dihayati sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus.

Politeisme merupakan bentuk pemikiran yang lebih maju. Pikiran manusia mulai menyatukan dan mengelompokan semua benda dan kejadian alam dengan berdasar pada kesamaan-kesamaan diantara mereka. Bukan lagi tiap-tiap desa atau tiap-tiap sawah yang mempunyai jiwanya atau rohnya sendiri, melainkan tiap-tiap jenis atau kelas. Roh-roh pelindung dari masing-masing desa diganti dengan satu dewa. Jadi politaisme harus kita lihat sebagai usaha akal-budi manusia untuk mengatur, menertibkan dan menyederhanakan alam semesta yang pusparagan dan merupakan suatu kemajuan.

b.)    Tahap Metafisika

Dalam tahap ini semua gejala dan kejadian tidak lagi dilihat sebagai langsung disebabakan oleh roh, dewa, atau yang mahakuasa. Sekarang akal-budi mencari pengertian dan penerangan dengan membuat abstraksi-abstraksi dan konsep-konsep metafisik. Menurut Comte, sebenarnya tahap kedua ini hanya suatu modifikasi saja dari tahap pertama.

c.)    Tahap Positivisme

Pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal-budi beerdasarkan hukum yang dapat ditinjau, diuji, dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental. Manusia diharapkan mampu untuk menerapkan dan memanfaatkannya demi suatu penguasaan atas lingkungan alam dan perencanaan masa depan yang lebih baik. Dalam tahap positif ini agama harus menimbang dan menyerahkan hegemoninya atas ordre intellectuelle (Wilayah akal-budi) kepada ilmu pengetahuan empiris.

Kesimpulan Comte ialah bahwa gagasan-gagasan yang dahulu mendasari struktur masyarakat dan negara, sekarang harus ditinggalkan sebab sudah using. Oleh karena itu harus diganti dengan konsep-konsep dan bentuk-bentuk yang rasional. Inti ajaran Comte dapat kita rumuskan sebagai berikut :

1.         Sejarah pada pokoknya adalah proses perkembangan bertahap dari cara manusia berfikir, dan.

2.      Proses perkembangan ini bersifat mutlak, universal, dan tak terelakkan.

Sehubung dengan teori evolusi Comte, bahwa ia tidak manganut determinisme yang radikal. Ia tidak mengajarkan bahwa manusia sama sekali tidak bebas dan sama sekali tidak berpengaruh atas proses evolusi. Walaupun ia berpendapat bahwa proses evolusi akal-budi serta pemantulannya oleh masyarakat berjalan terus dan pasti mencapai tujuannya, namun menurut dia manusia juga masih memainkan peranan bebas. Oleh karena itu peranannya manusia dapat mempercepat atau memperlambat datangnya zaman baru.

  1. Statika dan dinamika sosial

Dengan statika sosial dimaksudkan semua unsur strukturalyang melandasi dan menunjang orde, terbit, dan kestabilan masyarakat. Statika sosial itu disepakati oleh anggota dan karena itu disebut volonte general (kemauan umum). Mereka mengungkapkan hasrat kodrati manusia akan persatuan, perdamaian, dan kestabilan. Tanpa unsur-unsur struktural struktual ini kehidupan bersama tidak dapat berjalan. Pertengkaran dan perpecahan mengenai hal-hal yang dasar, sehingga suatu kesesuaian paham tidak tercapai, menghancurkan masyarakat.

Dinamika sosial adalah daya gerak sejarah yang pada setiap tahap evolusi mendorong ke arah tercapainya keseimbangan baru yang setinggi dengan kondisi dan keadaan zaman. Dalam abad ke-18 dinamika sosial paling menonjol dalam perjuangan dan usaha untuk mengganti gagasan-gagasan agama yang lama dengan konsep-konsep positif dan ilmiah yang baru. Tiap-tiap tahap baru cara manusia berfikir menghasilkan bentuk masyarakat yang baru juga.masyarakat baru yang didasarkan atas cara berfikir yang rasional dan positif itu adalah masyarakat industri. industri  itu dimengerti sebagai penyebab perubahan sosial yang besar sekali

B.     HERBERT SPENCER (1820-1903)

1. Hukum evolusi

Di waktu Spencer belajar tentang gagasan Darwin, ia bertekad untuk mengenakan prinsip evolusi tidak hanya pada bidang biologi, melainkan pada semua bidang pengetahuan juga. Ia mengajarkan, bahwa pada permulaannya materi mempunyai struktur serba sama (homogeneous), tanpa diferensiasi. Materi sederhana itu terbentuk dari sejumlah besar partikel-partikel yang semuanya sama, tetapi dalam keadaan terkuasai oleh suatu gaya gerak dari dalam, yang membuat mereka bergabung. Begitu juga dengan proses evolusi masyarakat. Perorangan-perorangan bergabung menjadi keluarga, keluarga-keluarga bergabung menjadi kelompok, kelompok menjadi desa, desa menjadi kota, kota menjadi negara, dan negara menjadi perserikatan bangsa-bangsa.

2. Evolusi masyarakat

Dalam bukunya Social Stastics masyarakat disamakan dengan suatu organisme. Ciri-ciri yang dikenakan pada badan hidup, dapat dikenakan juga pada badan masyarakat. Masyarakat adalah organisme Semua gejala sosial diterangkan berdasarkan suatu penentuan oleh hukum alam. Hukum yang memerintah atas proses pertumbuhan fisik badan manusia, memerintah juga atas evolusi sosial. Manusia tidak bebas dalam hal ini. Ia tidak memainkan suatu peranan bebas dalam mengembangkan masyarakat. Artinya, masyarakat diumpamakan suatu organisme, sebab para anggotanya berkewajiban untuk membangun masyarakat menjadi satu. Masyarakat bisa menjadi badan yang berintegrasi, asal anggotanya menyadari tanggung jawab mereka dan menyesuaikan prilaku mereka dengan norma itu. Menurut Spencer, masyarakat adalah organisme, yang berdiri sendiri dan berevolusi sendiri lepas dari kemauan dan tanggung jawab anggotanya, dan di bawah kuasa suatu hukum.

Sebagaimana Comte membagi tiga tahap evolusi dalam caranya manusia berpikir, demikian Spencer membedakan empat tahap dalam proses penggabungan materi.

a.         Tahap pertama

adalah tahap penggandaan atau pertambahan. Baik tiap-tiap makhluk individual maupun tiap-tiap orde sosial dalam keseluruhannya selalu bertumbuh atau bertambah.

b.         Tahap kedua

adalah tahap kompleksifikasi. Salah satu akibat proses pertambahan adalah makin rumitnya struktur organisme yang bersangkutan.

c.          Tahap ketiga

ialah tahap pembagian atau diferensiasi. Baik evolusi badan maupun evolusi sosial menonjolkan pembagian tugas atau fungsi, yang semakin berbeda-beda. Perbedaan antara kesatuan-kesatuan tambah waktu tambah menyolok.

d.         Tahap keempat

ialah tahap pengintegrasian. Dengan mengingat bahwa proses diferensiasi mengakibatkan bahaya perpecahan, maka kecenderungan negatif ini perlu dibendung dan diimbangi oleh proses mempersatukan. Semakin heterogenlah bagian-bagian, semakin terasa kebutuhan akan adanya koordinasi dan hubungan timbal-balik yang menuju ke keadaan seimbang.

3. Morfologi masyarakat-masyarakat

Spencer membuat juga suatu pengelompokan tipe-tipe masyarakat berdasarkan ciri-ciri mereka. Ia membadakan antara dua bentuk kehidupaan bersama, yaitu masyarakat militaristis dan masyarakat industri.

Dalam masyarakat militaristis orang bersikap agresif. Mereka lebih suka merampas saja daripada bekerja produktif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kepemimpinan atas tipe masyarakat ini berada di tangan orang yang kuat dan mahir di bidang peperangan atau pertempuran.

Masyarakat industry itu adalah masyarakat di mana kerja produktif dengan cara damai diutamakan di atas ekspedisi-ekspedisi perang. Spencer memakai kata “industri” bukan untuk “teknologi” atau “rasionalisasi proses kerja”, melainkan dalam arti kerja sama spontan bebas demi tujuan damai.

Dalam bukunya The Man versus yhe State Spencer menarik beberapa kesimpulan dari tesisnya, bahwa individu bermasyarakat dan bernegara untuk kepentingannya sender. Kerja sama antara orang dimaksudkan untuk melengkapi kekurangan individu. Jadi masyarakat hanya salah satu sarana saja, yang ditambahkan dari luar pada hidup individu. Individu mendahului masyarakat. Oleh karena itu di satu pihak individu mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam, sedang di lain pihak ia merasa lemah dan terbatas dalam kemampuannya, maka atas dasar pertimbangan rasional ia membentuk suatu “kongsi” atau “kumpulan perseroan” atau badan kerja sama, yang disebut masyarakat atau negara.

C.     DARWINISME SOSIAL

1. Teori Naluri

Menurut teori ini, kesatuan masyarakat dan koherensinya disebabkan oleh suatu kecenderungan biologis di dalam diri manusia, yaitu suatu naluri sosial yang disebut herd instinct atau gregarious instinct (naluri kelompok) yang membuat manusia mengakui dan menyukai teman-teman sesama. Manusia disebut sosial karena kodratnya bukan karena kemauannya. Itu sebabnya bahwa pengasingan atau perceraian dari orang lain mengakibatkan hancurnya manusia.

2. Teori Ras

Teori ras didasarkan atas teori poligenetisme, yaituajaran bahwa asal-usul umat manusia tidak dari satu pasang manusia saja, tetapi dari banyak pasang yang berbeda-beda dalam gennya. Pada suatu saat dalam proses evolusi alam, garis pemisah antara makhluk yang tidak berakal-budi dengan homo sapiens dilintasi di berbagai tempat dan berbagai waktu ini telah mengakibatkan bahwa di sana-sini telah muncul kelompok-kelompok manusia yang masing-masing serba sama ke dalam (intra kelompok), tetapi serba beda satu sama lain (antar kelompok). Tiap-tiap kelompok mempunyai struktur genetic sendiri. Jadi bangsa manusia tidak berasal dari satu pasang saja (teori monogenetis), melainkan dari banyak pasang yang berbeda (teori poligenetis).

3. Teori Determinisme

Menurut teori ini ada tiga tipe keluarga yang bersifat dasar yaitu:

a. Tipe family patriarkal yang kokoh dan fungsional bagi masyarakat-masyarakat pengembala. Ciri khasnya ialah si ayah semua putranya yang telah kawin untuk tinggal serumah dengan dia.

b. Tipe family tidak stabil, yang mirip dengan family yang sekarang disebut keluarga inti atau keluarga batih (nuclear family). Tipe ini bersifat agak goyah karena kurang berdaya dalam menghadapi kesulitan ekonomi.

c. Tipe family pangkal (stem family or famille souche). Merupakan semacam keluarga patriarkal, di mana hanya satu dari antara para ahli waris tetap tinggal di rumah orang tua. Yang lain menerima mas kawin, supaya dapat menetap di tempat lain.

4. Teori-teori Evolusi

Terlebih dahulu kita harus membedakan konsep-konsep evolusi, pembangunan (development) dan kemajuan (progress). Kalaw kitra memakai konsep evolusi, kita menole ke belakang yaitu kesuatu keadaan dahulu, lalu menelusuri tahap-tahap pendahuluan yang telah dilalui sebelum sampai kepada keadaan sekarang.

Kata pembangunan berarti bahwa kita melihat ke depan, bertitik-tolak dari apa yang sudah ada sekarang dan menuju suatu keadaan yang akan ada di kemudian hari. Sedangkan kemajuan adalah sama seperti evolusi dan pembangunan, hanya di tambahkan penilaian positif. Keadaan baru dikatakan lebih baik dari pada keadaan sebelumnya.

D.     Ringkasan

Semua teori yang telah kita tinjau, memandang masyarakat sebagai kesatuan nyata yang berdiri sendiri dan mempunyai dinamika dari diri sendiri. Masyarakat melebihi jumlah anggotanya dalam arti bahwa masyarakat mempunyai “ada” yang tersendiri. Dua ciri menonjol pada masyarakat, yaitu kesatuannya dan kesaling tergantungan bagian-bagiannya. Masyarakat atau realitas sosial itu berevolusi dan membuat sejarahnya sendiri lepas dari kemauan dan kesadaran individu-individu bukan mereka yang membangun dan menopang masyarakat, melainkan masyarakat membangun dan menopang mereka.

Semua teori tersebut mengandung sebagian kebenaran. Tetapi dalam keseruruhannya mereka tidak memadai dengan citra manusia yang sebenarnya. mereka tidak menyingkapkan aspek subyektifitas manusia yang bersifat hakiki, yaitu aspek kesadaran dan kebebasan manusia yang membuat dia pencipta dan penanggung jawab hidupnya.

Pancasila

Posted: 26/10/2010 in Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejarah telah mengungkapkan bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberi kekuatan hidup kepada bangsa Indonesia serta membimbingnya dalam mengejar kehidupan lahir batin yang makin baik, di dalam masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.

Bahwasanya Pancasila yang telah diterima dan ditetapkan sebagai dasar negara seperti tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 merupakan kepribadian dan pandangan hidup bangsa, yang telah diuji kebenaran, kemampuan dan kesaktiannya, sehingga tak ada satu kekuatan manapun juga yang mampu memisahkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia.
Menyadari bahwa untuk kelestarian kemampuan dan kesaktian Pancasila itu, perlu diusahakan secara nyata dan terus menerus penghayatan dan pengamamalan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya oleh setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik di pusat maupun di daerah.

B. Batasan Masalah
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini, maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Apa arti Pancsila?
2. Bagaimana pengertian Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia?
3. Bagaimana penjabaran Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia?
4. Bagaimana penjabaran tiap-tiap sila dari Pancasila?

C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Penulis ingin mengetahui arti Pancasila sebenarnya
2. Pada hakikatnya, Pancasila mempunyai dua fungsi yaitu sebagai pandangan hidup dan sebagai dasar negara oleh sebab itu penulis ingin menjabarkan keduanya.
3. Penulis ingin mendalami / menggali arti dari sila – sila Pancasila

D. Sistematika Penulisan
Dalam penyelesaian penyusunan makalah ini penulis menggunakan study kepustakaan, yaitu penulis mencari buku-buku yang berhubungan dengan Pancasila dan kewarganegaraan.

BAB II
PANCASILA DASAR NEGARA

A. Pengertian Pancasila
Pancasila artinya lima dasar atau lima asas yaitu nama dari dasar negara kita, Negara Republik Indonesia. Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit pada abad XIV yang terdapat dalam buku Nagara Kertagama karangan Prapanca dan buku Sutasoma karangan Tantular, dalam buku Sutasoma ini, selain mempunyai arti “Berbatu sendi yang lima” (dari bahasa Sangsekerta) Pancasila juga mempunyai arti “Pelaksanaan kesusilaan yang lima” (Pancasila Krama), yaitu sebagai berikut:
1. Tidak boleh melakukan kekerasan
2. Tidak boleh mencuri
3. Tidak boleh berjiwa dengki
4. Tidak boleh berbohong
5. Tidak boleh mabuk minuman keras / obat-obatan terlarang
Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. sebagai dasar negara maka nilai-nilai kehidupan bernegara dan pemerintahan sejak saat itu haruslah berdasarkan pada Pancasila, namun berdasrkan kenyataan, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila tersebut telah dipraktikan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan kita teruskan sampai sekarang.
Rumusan Pancasila yang dijadikan dasar negara Indonesia seperti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Kelima sila tersebut sebagai satu kesatuan nilai kehidupan masyarakat Indonesia oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dijadikan Dasar Negara Indonesia.

B. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
Dalam pengertian ini, Pancasila disebut juga way of life, weltanschaung, wereldbeschouwing, wereld en levens beschouwing, pandangan dunia, pandangan hidup, pegangan hidup dan petunjuk hidup. Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai petunjuk arah semua semua kegiatan atau aktivitas hidup dan kehidupan dalam segala bidang. Hal ini berarti bahwa semua tingkah laku dan tindakn pembuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pencatatan dari semua sila Pancasila. Hal ini karena Pancasila Weltanschauung merupakan suatu kesatuan, tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain, keseluruhan sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan organis.
C. Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
Pancasila sebagai falsafah negara (philosohische gronslag) dari negara, ideology negara, dan staatside. Dalam hal ini Pancasila digunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan atau penyenggaraan negara. Hal ini sesuai dengan bunyi pembukaan UUD 1945, yang dengan jelas menyatakan “……..maka sisusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu udang-undang dasar negara Indonesia yang terbentuk dalam suat susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada…..”
Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara Indonesia mempunyai beberapa fungsi pokok, yaitu:
1. Pancsila dasar negara sesuai dengan pembukaan UUD 1945 dan yang pada hakikatnya adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum. Hal ini tentang tertuang dalam ketetapan MRP No. XX/MPRS/1966 dan ketetapan MPR No. V/MP/1973 serta ketetapan No. IX/MPR/1978. merupakan pengertian yuridis ketatanegaraan
2. Pancasila sebagai pengatur hidup kemasyarakatan pada umumnya (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat sosiologis)
3. Pancasila sebagai pengatur tingkah laku pribadi dan cara-cara dalam mencari kebenaran (merupakan pengertian Pancasila yang bersifat etis dan filosofis)

D. Sila – Sila Pancsila
A. Sila Katuhanan Yang Maha Esa
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manuasia percaya dan taqwa terhadap Tuhan YME sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

B. Sila kemanusian Yang Adil dan Beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradab menunjang tinggi nilai-nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan –kegiatan kemanusiaan, dan berani membela kebenaran dan keadilan. Sadar bahwa manusia adalah sederajat, maka bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkanlah sikap hormat dan bekerja sama dengan bangsa –bangsa lain.

C. Sila Persatuan Indonesia
Dengan sila persatuan Indonesia, manusia Indonesia menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi dan golongan. Persatuan dikembangkan atas dasar Bhineka Tunggal Ika, dengan memajukan pergaulan demi kesatuan dan persatuan bangsa.

D. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Manusia Indonesia menghayati dan menjungjung tinggi setiap hasil keputusan musyawarah, karena itu semua pihak yang bersangkutan harus menerimannya dan melaksanakannya dengan itikad baik dan penuh rasa tanggung jawab. Disini kepentingan bersamalah yang diutamakan di atas kepentingan pribadi atau golongan. Pembicaraan dalam musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. Keputusan-keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjungjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Dalam melaksanakan permusyawaratan, kepercayaan diberikan kepada wakil-wakil yang dipercayanya.

E. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam rangka ini dikembangkan perbuatannya yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong.
Untuk itu dikembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga kesinambungan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila juga merupakan sumber kejiwaan masyarakat dan negara Republik Indonesia. Maka manusia Indonesia menjadikan pengamalan Pancasila sebagai perjuangan utama dalam kehidupan kemasyarakatan dan kehidupan kengaraan. Oleh karena itu pengalamannya harus dimulai dari setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara negara yang secara meluas akan berkembang menjadi pengalaman Pancasila oleh setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan, baik dipusat maupun di daerah.

B. Saran-Saran
Berdasarkan uraian di atas kiranya kita dapat menyadari bahwa Pancasila merupakan falsafah negara kita republik Indonesia, maka kita harus menjungjung tinggi dan mengamalkan sila-sila dari Pancasila tersebut dengan setulus hati dan penuh rasa tanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

1. Srijanto Djarot, Drs., Waspodo Eling, BA, Mulyadi Drs. 1994 Tata Negara Sekolah Menngah Umum. Surakarta; PT. Pabelan.
2. Pangeran Alhaj S.T.S Drs., Surya Partia Usman Drs., 1995. Materi Pokok Pendekatan Pancasila. Jakarta; Universitas Terbuka Depdikbud.

Pancasila sebagai filsafat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam mempelajari filsafat Pancasila ada dua hal yang lebih dahulu kita pelajari yaitu Pancasila dan Filsafat memeplajari Pancasila melalui pendekatan sejarah supaya akan dapat mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi dari waktu ke waktu di tanah air kita Indonesia peristiwa – peristiwa yang saya maksudkan adalah yang ada sangkut pautnya dengan Pancasila. Melalui pendekatan kami berharap untuk mendapatkan data obyektif dapat menghasilkan kesimpulan yang obyektif pula oleh karena manusia tidak mungkin menghilangkan sikap obyektif sebagai salah satu bawaan kodrat, maka kami bersyukur bila mendapatkan kesimpulan yang obyektif mungkin inter obyektif
Sejarah Pancasila tidak dapat dipisahkan dengan sejarah bangsa Indonesia itu sendiri karena itu dalam tulisan ini kami mencoba mulai dari masa kejayaan bahwa Indonesia merdeka yang kemidian mengalami penderitaan akibat ulah kolonialisme sehingga timbul perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme tersebut kemudian bangsa Indonesia berhasil meproklamasikan kemerdekaan dan berhasil juga menjawab tanatangan tersebut serta mengisi kemerdekaannya itu dengan pembangunnan. Dalam seluruh peristiwa tersebut Pancasila mempunyai peranan penting
Mengingat hal tersebut pertama tama secara runtun kai kemukakan peristwa penyususnan dan perumusan Pancasila agar mengetahui bagaimana duduk persoalan yang sesungguhnya sehingga masing – masing mendapat nilai yang wajar dan tidak I lupakan. Disamping itu hal kedua yang kami anggap penting adalah pengamalan Pancasila. Kami mengkonstatir bahwa pengmalan Pancasila telah dilakukan pada masa – masa sebelum kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 bahkan juga sebelum masa tersebut

B. Perumusan Masalah
Dalam pembuatan karya tulis ini dapat penulis rumuskan sebagai erkut: pengertian Filsafat, guna filsafat, fungsi filsafat, pengertian Pancasila, unsur unsur Pancasila dn fungsi unsur – unsur Pancasila. Dan masalah yang di bahas dalam karya tulis ini untuk lebih terarah dan tidak terlalu jauh maka penulis membatasi masalahnya hanya pada arti fungsi dan guna filsafat Pancasila

C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian dalam penelitian adalah:
1. Metode wawancara dan interview
Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data, komunikasi tersebut dilakuan dengan ialog ( Tanya jawab ) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung wawan cara dapat bersifat langsung yaitu pabila data yang akan di kumpulkan langsung di peroleh dari data ndvidu yang bersangkutan. Wawancara yang bersifat tidak angsg yatu wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memeperoleh keterangandari orang lain maupun dari sumber buku
2. Observasi
Observasi merupakan suatu teknik untuk mengamati secara langsung atau tidak langsung terhadap kegiatan – kegiatan yang sedang berlangsung
3. Angket atau daftar isian
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui tulisan
Metode ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung saama halnya dengan metode wawancara

D. Kerangka Berpikir
Dilihat dari sejarah bahwa Pancasila sebagai dasar negara republik Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, penuis enggunakan erangka berfikir elau pendekatanflsafat Pancasila dan sejarahnya
Di bentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Bung Karno diangkat jadi ketua PPKI dan Bung Hatta menjadi wakil ketua. Cepat dan tindaknya emerdekaan Indonesia sangat tergantung pada bangsa Indonesia sendiri setelah bekerja keras tanpa mengenal lelah dan dukungan seluruh rakyat Indonesia khususnya pemuda – pemuda kita, pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 di dalam rapat tebuka gedung pegangsaaan 56 Jakarta, kemerdekaan indnesia di proklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia

BAB II
ANALISA MASALAH

Istilah filsafat sudah tidak asing lagi di dengarnya istilah ini dipergunakan dalam berbagai konteks tapi kita harus tahu dulu apa itu filsafat dan fungsi filsafat serta kegunaan filsafat dengan uraian yang singkat ini saya mengharapkan agar timbul kesan pada diri kita bahwa filsafat adalah suatu yang tidak sukar dan dapat di pelajari oleh semua orang di samping itu saya menghrapkan agar kita tak beranggapan filsafat sebagai suatu hasil potensi belaka dan tidak berpijak realita dengan cara ini saya mengharapkan dapat menggunakan sebagai modal untuk memepelajari pancasila dari sudut pandang filsafat
Agara setiap orang yang belum mengetahui tentang pancasila dari sudut falsafat
a. Di dalam bukunya elements of Philiosofi Kattsott 1963 tentang perenungan filsafat
b. Di dalam bukunya filosofi
c. Selanjutnya mengutip pendapat Van Melsen yang yang intinya adalah menggambarkan flsafat sebagai refleksi di dalam ilmu pengetahuan
d. Di dalam bukunya Perpectivies In Social Philosophy Back 1967
Dan kita menganal filsafat pancasila dari sejarah pelaksanaannya diantara bangsa – bangsa barat tersebut bangsa belandalah yang akhirnya dapat memegang peran sebagai penjajah yang benar – benar yang menghancurkan p\rakyat Indonesia mengingat keadaan perjuangan bangsa Indonesia kita harus mengetahui perjuangan sebelum tahun 1900
Sebenarnya sejak waktu itu pula mempertahankan kemerdekaan dengan cara bermacam – macam perlawanan rakyat Indonesia untuk menemtang kolonialisme, belanda telah berjalan dengan hebat. Akan tetapi masih berjalan sendiri – sendiri dan belum ada kerja sama melelui organisasi yang teratur
Dan kita harus mengetahui unsur – unsur pancasila yang menjiwai perlawanan terhadap kolonialisme jika pejuangan bangsa Indonesia mengetahui dan teliti dengan seksama maka unsur – unsur pancasila merupakan semangat dan jiwa perjuangan tersebut kita harus menganalisa dalam pembahasan seperti:
1. Apa unsur – unsur ketuhanan dalam penjajahan belanda
2. Unsur kemanusiaan dalam penjajahan belanda yang menghancurkan rakyat indonesia dengan tidak ada perikemanusiaan, suatu siksaaan yang di derota rakyat indonesia
3. Unsur persatuan terhadap penjajahan belanda yang memecah belah persatuan
4. Unsur kerakyatan terhadap penjajahan belanda tentang kebebasan untuk mendapatkan pendidikan dan seolah olah rakyat kecil tidak ada artinya
5. Unsur yang terakhir yaitu keadilan tentang penjajahan belanda tidak ada keadilan untuk mendapatkan kebutuhan kebebasan hak

BAB III
INTI PEMBAHASAN MASALAH

A. Pengetian Filsafat
Tulisan ini saya menggunakan istilah pengertian dan bukan definisi. Dalam hal ini ada beberapa pendapat yang antara lain mengatakan bahwa pada hakekatnya sukar sekali memberikan definisi mengenai filsafat, karena tidak ada definisi yang definitif . Sebenarnya pendapat yang demikian ini tidak hanya mengenai filsafat saja akan tetapi juga menganai definisi lain. Terhadap berbagai kata berikut ini misalnya ekonomi, hukum, politik kebudayaan negara masyarakat manusia , juga terdapat definisi itupun bermacam-macam pula.
Oleh karena itu dalam tulisan ini saya ingin mengemukakan pengertian mengenai filsafat dan cirri-ciri berfilsfat, dengan cara ini saya mengharapkan dapat menggunakannya sebagai modal untuk mempelajari Panca Sila dari sudut pandang filsafat.
1. Pengertian menurut arti katanya, kata filsfat dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Yunani terdiri dari kata Philein artinya Cinta dan Sophia artinya Kebijaksanaan. Filsafat berarti Cinta Kebijaksanaan, cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh.
Kebijaksanaan artinya Kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti Hasrat atau Keinginan yang sungguh-sungguh akan kebenaran sejati.
2. Pengertian umum dari pengertian menurut kata-katanya tersebut di atas filsafat secara umum dapat diberi pengertian sebagai ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran hakekat atai sari atau inti atau esensi segala sesuatu dengan cara ini jawaban yang akan diberikan berupa keterangan yang hakiki. Hal-hal mana sesuai dengan arti filsafat menurut kata-katanya
3. Pengertian khsusu, karena filsafat telah mengelami perkembangan yang cukup lama tentu dipengaruhi oleh berbagai factor, mislanya ruang, waktu, keadaan dan orangnya. Itulah sebabnya maka timbul berbagai pendapat mengenai pengertian filsafat yang mempunyai kekhususannya masing-masing.
Ada berbagai aliran didalam filsafat ada suatu bukti bahwa bemacam-macam pendapat yang khsusu yang berbeda satu sama lain. Misalnya.
– Rationalisme mengagunggkan akal
– Materialisme mengagunggkan materi
– Idealisme mengagunggkan idea
– Hedonisme mengagunggkan kesenangan
– Stoicisme mengagunggkan tabiat salah
Aliran – aliran tersebut mempunyai kekhususan masing-masing dengan menekankan kepada sesuatu yang dianggap merupakan inti dan harus diberi tempat yang tinggi , misalnya kesenangan, kesolehan, kebendaan, akal dan idea.

B. Fungsi Filsafat
Berdasarkan sejara kelahirannya filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan. Pada waktu itu belum ada ilmu pengetahuan lain sehingga filsafat harus menjawab segala macam hal, soal manusia filsafat yang membicarakannya, demikian pula soal masyarakat, soal ekonomi, soal negara, soal kesehatan dan sebagainya.
Kemudian karena berkembang keadaan dari masyarakat banyak problem yang tidak dapat dijawab lagim oleh filsafat. Lahirnya ilmu pengetahuan sanggup memberikan jawaban terhadap problem-problem tersebut, misalnya ilmu pengetahuan alam, Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Ilmu Pengetahuan Kedokteran, Ilmu Pengetahuan Manusia, Pengetahuan Ekonomi dan lain-lain.
Ilmu pengetahuan tersebut lalu berpecah-pecah lagi menjadi lebih khusus. Demikianlah lahirnya berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan kekhususannya masin-masing.

Spesialisasi terjadi sedemikian rupa sehingga hubungan antara cabang dan ranting ilmu pengetahuan sangat kompleks. Hubungan-hubungan tersebut ada yang masih dekat tetapi ada pula yang telah jauh. Bahkan ada yang seolah-oleh tidak mempunyai hubungan. Jika ilmu-ilmu pengetahuan tersebutterus bersusaha memperdalam dirinya akhirnya sampai juga pada filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut diatas filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistim. Filsafat dapat berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetauhuan yang telah kompleks tersebut. Filsapat dapat berfungsi sebagai tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan

Cara ini dapat pula di gunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Cara ini dapat saya gambarkan sepertiorang sedang meneliti sebuah pohon wajib meneliti ke seluruh pohon tersebut, ia tidak hanya meperhatikan daunnya, pohonnnya akarnya, bunganya, buahnya dan sebagian lagi, akan tetapi keseluruhannya dalam menghadapi suatu masalah diharapkan menggunakan berbaga disiplin untuk mengatasinya. Misalnya ada problem sosial tentang kenaikan tngkat kejahatan. Hal ini belum dapat di selesaikan dengan tuntas jika hanya menghukum para pelangarnya saja. Di samping itu perlu di cari sebab pokok. Langkah ini mungkin dapat menemukan berbagai sebab yang saling berkaiatan satu sama lain, misalnya adanya tuna karya, tuna wisma, urbanisasi, kelenbihan penduduk, kurangnya lapangan kerja dan sebagainya. Dari penemuan ini dapat kita ketahui bahwa masalah kejahatan menyangkut berbagai disiplin. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut harus dilakukan pula oleh berbagai disiplin

C. Guna Filsafat
Berdasarkan atas uraian diatas, filsafat mempunyai kegunaan sbb.
a. Melatih diri untuk berfkir kritik dan runtuk dan menyusun hasil pikiran tersebut secara sistematik
b. Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berfikir dan bersifat sempit dan tertutup
c. Melatih diri melakukan peneltian, pengkajian dan memutuskan atau mengabil kesipulan mengenai suatu hal secara mendalam dan komprehensif
d. Menjadikan diri bersifat dinamik dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem
e. Membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan tenggang rasa
f. Menjadi alat yang berguna bagi manusia baik untuk kepentngan prbadinya maupun dalam hubungan dengan orang lain
g. Menyadari akan kedudukan manusia baik sebagai pribadi maupun hubungan dengan orang lain alam sekitar dan tuhan yang maha esa

D. Perjuangan Bangsa Indonesia
Sebelum kedatangan bangsa – bangsa belanda bangsa Indonesia telah mengali sejarahnya yang panjang dengan berbagai liku – likunya. Demikian pula bahwa portugis mendapat perlawanan rakyat Indonesia. Diantara bangsa – bangsa barat tersebut bangsa Belandalah yang akhirnya dapat memegang peranan sebagai penjajah yang benr – benr menghancurkan rakyat Indonesia
Mengingat keadaan yang demikian perjuangan bahwa Indonesia melawan penjajahan belanda dan jepang
1. Perjuangan sebelum tahun 1900
Pada umumnya kita telah mengetahui bahwa bangsa Indonesia telah di tindas dan di cekam oleh penjajah belanda selama tiga setengah abad. Hitungan sejak tahun 1596 yaitu pada waktu orang – orang belanda yang di pimpin oleh Cornelis de Houtman mendarat di Indonesia. Orang – orang belanda bermula berdagang dan di terima baik oleh bangsa Indonesia ternyata dengan sefala daya dan upaya yang penuh kelicikanberusaha menjajah bangsa Indonesia
2. Perjuangan Setelah tahun 1900
Bangsa Indonesia menyadari bahwa untuk mengusir penjajah tidak cukup hanya dengan cara mengadu kekuatan fisik saja akan tetapi perlu adanya cara yang lebihteratur dan terkordinasi serta terpadu. Betapapun ketatnya penjajah engekang bangsa ndonesia untuk menjadi bodoh, namun terbuka juga jalan bagi sekelompokkecil rang ndonesia untuk endapatkan pendidikan

E. Unsur Pancasila Menjiwai Perlawanan Terhadap Kolonialisme
Jika pejuang bangsa Indonesia itu kita teliti dengan seksama maka unsur – unsur Pancasila merupakan semangat dan jiwa perjuangan tersebut diantaranya
a. Unsur Ketuhanan. Pada hakikatnya penjajahan bertentangan dengan ajaran tuhan. Karena penjaahan tidak mengenal cinta kash dan sayang sebagai mana di ajarkan oleh tuhan. Oleh karena itu perlawanan terhadap kolonialisme ada yang di dorong oleh keyakinan melaksanakan tugas – tugas agama
b. Unsur Kemanusiaan. Penjajahan tidak mengenal peri kemanusiaan. Penjajahan pada hakikatnya adalah hendak menemukan kembali nilai – nilai kemanusiaan yang telah di hancurkan oleh penjajah
c. Unsur Persatuan. Di dalam kenyataan memang bangsa Indonesia I pecah- pecah oleh penjajah. Meskipun demikian bangsa Indonesia menyadari bahwa perpecahan akan mengakibatkan keruntuhan sebagaimana semboyan yang berbunyi bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Oleh karena itu bagaimanpun juga persatuan sebagai senjata ampuh tidak hancur sama sekali
d. Unsur Kerakyatan. Kemerdekaan adalah hak segala bangsa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesua denga peri peri keadilan penjajahan bertentangan dengan kemerdekaan dan kebebasan
e. Unsur Keadilan. Iatas sudah di sebutkan bahwa penjajahan tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Hal ini terbukti pada pengalaman bangsa Indonesia yang selama I jaah tidak pernah di perlakukan adil. Apalagi untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya sangat di persukar

F. Pelaksanaan
Pancasila yang unsur – unsurnya di gali dari bangsa Indonesia sendiri kemudian di terima bulat oleh bangsa Indonesia menjadi Dasar Filsafat Negara Republik Indonesia harus di laksanakan
Pelaksanaan Pancasila ada dua macam yaitu:
a. Pelaksanaan Obyektif
Pelaksanaan obyektif adalah pelaksanaan Pancasila di dalam semua peraturan dari yang tertinggi sampai terendah yaitu Undang – Undang Dasar 1945 dan peraturan –peraturan hukum yang ada di bawahnya. Seluruh kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan serta segala tertib hokum di Indonesia harus di dasarkan atas Pancasila
b. Pelaksanaan Subyektif
Pelaksanaan subyektif adalah pelaksanaan di dalam diri setiap orang Indonesia yaitu penguasa, warga negara dan setiap orang yang berhubungan dengan Indonesia

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah penulis berusaha menguraikan masalah dalam setiap babnya penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut
Bahwa nsur – unsur Pancasila memang telah di miliki dan di jalankan oleh bangsa Indonesia sejak dahulu. Oleh karena bukti – bukti sejarah sangat beraneka ragam wujudnya maka perlu diadakan analisa yang seksama. Karena bukti – bukti sejarah sebagian ada yang berupa symbol maka diperlukan analisa yang teliti dan tekun berbagai bahan – bahan bukti itu dapat diabstaksikan sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil – hasil yang memadai. Melalui cara – cara tersebut hasilnya dapat bersifat kritik dan tentu saja ada kemungkinan yang bersifat spekulatif. Demikian pula adaunsur – unsur yang di suatu daerah lebih menonjol dari daerah lain misalnya tampak pada perjuangan bangsa Indonesia dengan peralatan yang sederhana serta tampak pada bangunan dan tulisan dan perbuatan yang ada
Contoh – contoh yang saya tulis diatas, merupakan sebagian bukti atas perjuangan bangsa Indonesia sebagai sejarah bukti – bukti atas peninggalan zaman dahulu misalnya arti dari tiap – tiap bangunan isi dan dan setiap buku tulisan serta lukisan makna dari pembuatan yang ada dengan mengemukakan contoh – contoh ini saya mengharapkan dapat menimbulkan rangsangan untuk elakukan penelitian yang seksama terutama dalam rangka mempelajari filsafat Pancasila dalam tulisan ini setidak – tidaknya saya dapat menyatakan bahwa unsur – unsur Pancasila berasal dari bangsa Indonesia sendiri dan bukan jiplakan dari luar. Unsur – unsur itu telah ada sebelum tanggal 17 Agustus 1945, bahkan sebelum datangnya kau penjajah dan pernah berfungsi secara sempurna

B. Saran – Saran
Dalam karya tulis ini penulis berkeinginan memberikan saran kepada pembaca dalam pembuatan karya tulis ini penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan – kekurangan baik dari bentuk maupun isinya
– Penulis menyarankan kepada pembaca agar ikut peduli dalam mengetahui sejauh mana pembaca mempelajari tentang filsafat Pancasila
– Semoga dengan karya tulis ini para pembaca dapat menambah cakrawala ilmu pengetahuan

DAFTAR PUSTAKA

1. Achmad Notosoetarjo 1962, Kepribadian Revolusi Bangsa Indonesia
2. Notonagoro, Pnacasila Dasar Filsafat Negara RI I.II.III
3. K.Wantjik Saleh 1978, Kitab Kumpulan Peraturan Perundang RI, Jakarta PT. Gramedia
4. Soediman Kartohadiprojo 1970, Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, Bandung Alumni

Mazhab2 Dalam Islam

Posted: 23/10/2010 in Uncategorized

Sebahagian terbesar umat Islam di Indonesia dewasa ini patut ditenggarai hanya mengetahui mazhab2 dilingkungan umat Islam sepanjang mengenai adanya Mazhab Syafi’i (hampir seluruh umat Islam di Indonesia bermazhab ini), Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali dan Mazhab Hanafi. Di bidang apakah mazhab2 itu ? Apakah masih ada mazhab2 lainnya diluar ke-4 mazhab tersebut? Hampir sebahagian terbesar umat Islam di Indonesia tidak memahaminya.

Padahal anatomi mazhab2 umat Islam tidaklah sesederhana itu.

Segera setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam terbelah menjadi 3 (tiga) golongan karena perbedaan pandangan politik, khususnya berkaitan tentang siapakah yang berhak meneruskan kepemimpinan Umat Islam Pasca Rasulullah SAW.  Ketiga golongan itu adalah 1). Golongan Ahlussunah wal Jama’ah (atau disebut juga “Suni”) 2). Golongan Ahlul Bayt atau Syiah Itsna ‘Asyariyyah/ Syiah Duabelas Imam ( atau disingkat “Syiah”), dan 3). Golongan Khawarij. Tetapi yang masih ada sampai kini tinggal Golongan Suni ( 2/3 dari seluruh umat Islam di dunia) dan Golongan Syiah (1/3 umat Islam di dunia), sedangkan Golongan Khawarij sudah tidak ada lagi.

Kemudian sejak awal Abad ke-2 Hijriyah dikalangan umat Islam bermunculan berbagai aliran pemikiran atau Mazhab (School of Thought) sejalan dengan cabang2 Ajaran Islam.

Kemunculan berbagai mazhab ini khususnya terjadi pada Golongan Suni, karena tidak adanya Otoritas Keagamaan pada golongan ini, sehingga setiap ulama pada prinsipnya dapat mengeluarkan fatwa berdasarkan pendapatnya sendiri2 (ijtihad). Akibatnya dilingkungan Suni muncul berbagai aliran pandangan pada setiap cabang ajaran Islam.

Sementara itu Golongan Syiah tetap bisa mempertahankan keutuhan sistem keagamaannya, karena disini terdapat Otoritas Keagamaan yang diakui dan di taati oleh seluruh komunitas Syiah, yaitu Para Imam Ahlul Bayt Keturunan Nabi Muhammad SAW. Segala sesuatu yang berkenaan dengan cabang2 Ajaran Islam  harus dikembalikan kepada Para Imam yang memberikan jawaban melalui fatwa-2 nya. Memang ada juga sebagian kecil dari Golongan Syiah yang memisahkan diri dan membentuk pengelompokan sendiri, misalnya Golongan Zaidiyyah dan Golongan Fatimiyah. Namun secara aqidah, akhlak dan fiqh (Cabang2 Ajaran Islam) kedua golongan yang memisahkan diri itu tidak ada perbedaannya dengan mainstream Golongan Syiah (Duabelas Imam).

Tulisan bertujuan sekedar memberikan pengenalan atas keberadaan mazhab2 yang ada dilingkungan Umat Islam sejalan dengan cabang2 Ajaran Islam.

3 Cabang Ajaran Islam

Sebagaimana telah diketahui bahwa Ajaran Islam terdiri atas 3 cabang ajaran, yaitu :

1.   Aqidah atau Doktrin, yang meliputi subyek2 yang harus dimengerti dan di-imani, seperti : keberadaan Allah, ke-esaan Allah, sifat2 Allah, ke-nabian yang sifatnya universal dan seterusnya (Tauhid dan Nubuwah)

2.   Akhlak atau Moral, yang meliputi subyek2 yang dianjurkan/direkomendasikan untuk di amalkan (dilaksanakan) berkaitan dengan karakteristik spiritual dan akhlak/moral manusia, seperti: adil, taqwa, berani, arif, bersahaja (zuhud), bersih, sabar, setia, jujur, dapat dipercaya, menjaga amanat dan seterusnya. (Pemurnian/pembersihan/penyucian diri/hati).

3.    Hukum atau Fiqh,  yang meliputi subyek2 yang berkaitan dengan cara yang benar dan harus diikuti di dalam menjalankan shalat, puasa, haji, zakat, jihad, ber-amar ma’ruf nahi munkar, jual-beli, sewa-menyewa, menikah, bercerai pembagian warisan dan seterusnya. (Syariat).

Mazhab dan Cabang Ajaran

1. Mazhab Fiqh

Tulisan ini sengaja memulainya dari urutan terbawah, dengan pertimbangan bagian ini mungkin yang paling banyak diketahui oleh umat Islam di Indonesia dewasa ini.

Golongan Suni:

Berkenaan dengan cabang Ajaran Fiqh, dikalangan Suni pada awalnya bermunculan puluhan Mazhab Fiqh, namun karena intervensi Penguasa Islam dimasa lalu, maka mazhab fiqh yang tinggal hanya 4 (empat) mazhab, sedangkan yang lainnya hilang karena tidak mendapat dukungan dari Penguasa Islam. Adapun ke-4 mazhab fiqh itu adalah Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi.

Selain memiliki perbedaan2 yang cukup mendasar seputar aspek2 fiqh di antara ke-4 mazhab itu, ternyata secara internal masing2 mazhab juga memiliki perbedaan yang cukup besar. Misalnya pandangan fiqh Mazhab Syafi’i yang berkembang di Mesir berbeda dengan pandangan fiqh Mazhab Syafi’i yang berkembang di Yaman (kemudian menyebar ke Indonesia). Demikian juga pandangan fiqh Mazhab Hanbali di Iraq berbeda dengan yang ada di Jazirah Arab. Demikian seterusnya, sehingga pada masing2 mazhab fiqh ini juga masih terdapat variasi2 yang cukup besar perbedaannya.

Golongan Syiah:

Syiah tidak mengenal adanya mazhab dalam Cabang Ajaran Fiqh, karena semuanya masalah fiqh berpulang kepada fatwa Para Imam Ahlul Bayt as. Memang didalam penyebutan se-hari dikalangan non-Syiah sering dikatakan bahwa mazhab fiqh golongan Syiah dinamakan Mazhab Ja’fari yang diambil dari nama Imam Ja’far Shadiq as, Imam ke-6 dari urutan ke-12 Imam Syiah.

Hal ini se-mata-2 karena Imam Ja’far Shodiq banyak mendakwahkan soal-2 fiqh, sehingga pendapatnya banyak dijumpai pada bahan2 tertulis. Dan pandangan fiqh Imam Ja’far Shodiq as tersebut tidak ada bedanya sama sekali dengan pandangan Imam2 Ahlul Bayt yang sebelumnya maupun sesudahnya.

2. Mazhab Akhlak

Golongan Suni:

Kajian Ahlak disebut sebagai Tasawuf meliputi banyak mazhab atau Tarekat yang masing2 berdiri sendiri, seperti antara lain mazhab2: Zuhd, Kasyf & Makrifat, Ittihad & Hulul, al-‘Isyraq, al-Hubb, Suluk, Akhlaq, Wahdah al-Wujud.

Berbagai mazhab Tasawuf di masyarakat Suni ini pada hakekatnya dapat dibedakan ke dalam 2 kelompok, yaitu Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Amali.  Pada awalnya tawasuf Suni menolak pendekatan syariat (fiqh) dan kalam (aqidah), sehingga kalangan Fuqaha (Ahli Fiqh) Suni menganggap Tasawuf merupakan paham/mazhab bid’ah dan bertentangan dengan Al Qur’an & Sunnah. Kemudian Al-Ghazali menggabungkan Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Amali serta menyesuaikan dengan Aqidah Asy’ariyah (aqidah Suni) dan Syariah Suni (Fiqh Suni) dengan memperkenalkan Mazhab Tasawuf Dualistik.

Namun karena Fiqh Suni terdiri dari empat mazhab, maka upaya al-Ghazali tidak mendapatkan legitimasi dari kalangan mazhab2 (Tarekat2) Tasawuf yang terlanjur menjamur di dunia Suni, dimana masing2 mazhab/tarekat tersebut lebih mengagungkan para syaikh (guru spiritual) nya masing2.

Golongan Syiah :

Kajian Akhlak dilingkungan Syiah di namakan Irfan sejak awalnya merupakan kajian yang tidak terpisahkan dari cabang Ajaran Islam lainnya, yaitu Aqidah dan Fiqh yang tentunya diyakini oleh Golongan Syiah. Irfan mendorong pensucian diri yang sejalan dengan ketentuan aqidah dan fiqh. Dengan demikian Irfan pada masyarakat Syiah bukanlah merupakan mazhab tersendiri, melainkan merupakan bagian dari keseluruh sistem Ajaran Islam menurut pandangan Syiah.

3. Mazhab Kalam/Aqidah/Ushuluddin.

Golongan Suni :

Munculnya Mazhab Kalam dilingkungan Suni berawal dari perbedaan pandangan dikalangan para Ulama Suni tentang “Takdir”.  Sebagian Ulama berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (termasuk kejadian dan perbuatan manusia) telah ditentukan sepenuhnya oleh Allah SWT. Pandangan ini dinamakan “Jabariyyah” atau “Tauhid Af’ali”. Sedangkan sebagian Ulama lainnya justru sebaliknya berpendapat, bahwa manusia memiliki kebebasan penuh (ikhtiyyar) untuk menentukan takdirnya sendiri. Pandangan ini dinamakan “Qadariyyah” atau “Tauhid Sifati”.

Berangkat dari pandangan “Jabariyyah” dan “Qadariyyah” maka bermunculan banyak mazhab kalam di kalangan Suni, seperti : Mu’tazilah, Murjiah, Batiniah, Asy’ariyah dan lain2-nya. Namun yang patut dikemukakan disini adalah Mazbah Ahluhadist, Mazhab Mu’tazilah dan Mazbah Asy’ariyah saja, sementara mazhab2 kalam lainnya disamping bersifat sektoral (di ikuti sedikit umat Islam pada suatu wilayah tertentu) juga tidak berumur panjang, sehingga pengaruhnya tidak besar terhadap pemikiran Kalam/Aqidah.

Di masa pemerintahan Bani Umayyah, mazhab kalam yang berkembang dan diakui oleh penguasa adalah Mazhab Ahluhadist, yang di dirikan oleh para pengikut mazhab fiqh Hanbali.

Mazhab Ahluhadist in sepenuhnya berpijak pada pandangan “Jabariyyah”, yang sejalan dengan kepentingan politik penguasa Bani Umayyah yang dikenal dalam Sejarah Islam sebagai para penguasa yang dzalim. Dengan berkembangnya pandangan “Jabariyyah”, para penguasa Islam yang dzalim berharap umat Islam dapat menerima semua tindakan penguasa sebagai takdir yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah SWT. Dilain pihak para penguasa Bani Umayyah menindas habis para ulama yang berpandangan “Qadariyyah”.

Kritikan terhadap Mazhab Ahluhadist yang berlandaskan pandangan Jabariyyah, adalah menutup sepenuhnya pintu ikhtiyar (usaha) manusia untuk merubah nasibnya dan juga bertentangan dengan prinsip Keadilan Ilahi.

Menurut Mazhab Ahluhadis, jika seseorang itu miskin, maka hal itu ada memang sudah ditentukan demikian oleh Allah (predestinasi), sekalipun ia berupaya keras, tetap saja miskin.  Demikian juga seseorang berbuat baik atau berbuat jahat adalah karena sudah ditetapkan demikian oleh Allah.

Pandangan Qadariyyah yang diusung oleh Mazhab Mu’tazilah baru berkembang leluasa di masa pemerintahan Kalifah Al Ma’mun, Al Mu’tasim dan Al Watsiq dari Bani Abbas. Adapun tokoh Mazhab Mu’tazilah yang paling terkemuka adalah Wasil bin Atha’. Namun ketika Al Mutawakkil naik menjadi Kalifah Abbasiyah, keadaan berbalik, kini Mazhab Mu’tazillah ditindas habis2an oleh penguasa. Sejak itu kondisi Mazhab Mu’tazilah tidak pernah pulih kembali sampai sekarang.  Artinya sebagai sebuah mazhab yang terorganir sudah punah, namun ide2 atau metoda/dasar2 pemikirannya masih juga di jadikan rujukan oleh segelintir umat Islam dari waktu ke-waktu.  Seperti misalnya, Kelompok Jaringan Islam Liberal yang ada di Indonesia saat ini nampak memiliki kemiripan dalam metoda berpikir Mazhab Mu’tazilah.

Kebalikan dari Mazhab Ahluhadis, maka Mazhab Mu’tazilah justru menitik beratkan kebebasan sepenuhnya setiap individu untuk menentukan nasibnya/takdirnya. Kritikan terhadap Mazhab Mu’tazilah diantaranya pemikirannya seringkali (bahkan pada umumnya) tidak sejalan atau bertentangan dengan prinsip2 syariat, akhlaq dan aqidah Islam yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Kekosongan mazhab kalam dimasa Al Mutawakkil segera di isi oleh Mazhab Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abul Hasan Al Asy’ari. Mazhab ini seperti juga halnya Mazhab Ahluhadist berpijak pada pandangan Jabariyyah. Hanya saja berbeda dengan Mazhab Ahluhadist yang mengharamkan penggunaan metoda rasional dan argumentasi di dalam mengkaji aspek2 aqidah agama (ushul), maka Mazhab Asy’ariyah sampai batas tertentu masih memperkenankan penggunaan metoda rasional dan argumentasi berkenaan dengan pembahasan aspek2 aqidah agama (ushul). Namun metoda rasional dan argumentasi itu tetap berada di bawah lahiriah kata atau teks agama.

Dalam hal pandangan Jabariyyah-nya Mazhab Asy’ariyah ini sama konservatifnya dengan Mazhab Ahluhadist, oleh karena itu pada sisi ini Mazhab Asy’ariyah berada secara bersebrangan dengan Mazhab Mu’tazilah.

Mazhab Asy’ariyah kemudian berkembang menjadi mazhab kalam (mazhab aqidah) bagi sebagian besar Golongan Suni,  para pengikut mazhab fiqh dari Maliki, Syafi’i, Hanafi dan sebagian Hanbali merujukan pada Mazhab Asy’ariyah dalam hal aqidah, sedangkan sebagian lain dari  pengikut mazhab Hanbali (yang merujuk kepada Ibnu Taimiyyah) tetap menolak Mazhab Asy’ariyah, karena mereka mengharamkan penggunaan metoda rasional dan argumentasi dalam kajian aqidah agama dengan alasan atau batasan apapun juga. Mereka itu tetap berpegang pada Mazhab Ahluhadis sebagai mazhab kalamnya. Berbarengan dengan berdiri-nya Kerajaan Saudi Arabia, Mazhab Ahluhadis ini berubah menjadi Mazhab Wahabbi dengan pendirinya Muhammad Abdul Wahab. Didalam perkembangannya kemudian, Mazhab Wahabbi ini tidak saja merupakan mazhab kalam, tetapi juga berupaya menjadi mazhab fiqh sendiri, sekalipun masih tetap berpegang pada pokok2 fiqh Mazhab Hanbali.

Golongan Syiah :

Seperti juga halnya dalam hal cabang ajaran Akhlaq dan Fiqh, maka Syiah kajian aqidah/kalam merupakan bagian yang integral dengan sistem ajaran Islam, sehingga tidak ada mazhab kalam di kalangan Syiah, tetapi justru kajian kalam Syiah mampu melahirkan Ilmu Kalam.

Syiah menolak pandangan Jabariyyah maupun Qadariyyah secara fatalistik. Tidak ada sepenuhnya Jabr dan tidak ada pula sepenuhnya ikhtiyar. Yang ada dalam beberapa hal tertentu bersifat Jabr (predestinasi/ditentukan sebelumnya) dan dalam beberapa hal ikhtiyar (kebebasan mutlak untuk memilih), di antara keduanya terdapat ruang yang sangat luas, dimana disanalah berperan akal (fikr) yang tunduk pada fitrahnya, yaitu akal yang tunduk pada Tauhid Dzati (ke-Esaan Dzat Allah), Tauhid Ibadi (ke-Esaan Allah yang disembah) dan Prinsip Keadilan Allah.

Penutup

Sesuai dengan maksud dan tujuannya semula, maka melalui tulisan singkat ini diharapkan pembacanya memperoleh informasi awal atau pengenalan tentang mazhab2 yang ada di kalangan umat Islam sejalan dengan ke-3 cabang ajaran Islam, yaitu Aqidah, Akhlaq dan Fiqh.

Akhirnya, melalui tulisan ini pula diharapkan dapat menumbuhkan minat bagi para pembacanya untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang segala hal yang terkaitan dengan mazhab2 di dalam masyarakat Islam, melalui penelusuran literatur terkait yang cukup banyak tersedia di toko2 buku dan perpustakaan.

EPISTEMOLOGI USHUL FIQH

Posted: 23/10/2010 in Uncategorized

A. Chozin Nasuha

Guru Besar pada Fakultas Syari’ah

Ketua Konsentrasi Studi Al-Qur’an Pascasarjana UIN Bandung

Pembukaan

Agama (al-dien) adalah ide murni, atau system ide dan kepercayaan yang bersifat Ilahiyah, berkenaan dengan ketaatan pada Tuhan, dan disampaikan kepada nabi-nabi. Dalam Islam, ide murni itu berbentuk wahyu yang termuat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Ide ini tidak bisa diletakkan dalam konteks kemanusiaan. Berbeda dengan pemikiran agama (Islamologi) yang seluruhnya merupakan produk manusia dan sangat berkaitan dengan masyarakat. Konsep ini tidak bisa dipisahkan dari realitas tertentu dan sejarah masyarakat. Karena itu, Islamologi inilah gagasan ide Ilahiah yang dapat diletakkan dalam konteks kemanusiaan. Dengan kata lain, kita harus membedakan antara Agama dan pemikiran Agama. Salah satu pemikiran Agama adalah Ushul-Fiqh. Ilmu metodologi ini memiliki susunan yang pada umumnya terjadi kontroversi antara proposisi-proposisi dengan logika dan bahasa. Meskipun begitu, secara ontologis ilmu ini dapat dikelompokkan menjadi empat point yaitu (1) nilai-nilai aturan hokum (2) dasar-dasar aturan hokum (al-adillah al-syar’iah) (3) cara atau metoda menganalogikan dalil menjadi hokum, dan (4) ketentuan ijtihad, taqlid, dialektika kontradiktif, dan tarjih.

Ushul-fiqh merupakan khazanah kekayaan ilmu yang secara langsung atau tidak langsung, turut memperkaya model keagamaan kita. Pelaksanaan syariat Islam akan susah seandainya ilmu ini tidak ada, sebab ushul-fiqh dianggap sebagai penuntun fiqh yang merupakan jawaban bagi kehidupan kita. Ilmu ini dapat menjawab beberapa masalah yang diajukan, maka agar kita dapat memanfaatkan, kita harus mengetahui jawaban apa yang perlu dibawakan oleh ilmu ini, setelah kita mengajukan pertanyaan. Di sini kita memerlukan jawaban yang benar, dan bukan debat kusir atau jawaban plintiran (safsathah). Lalu muncul pertanyaan, bagaimana kita mencari jawaban yang benar? Masalah ini, oleh kajian filsafat disebut epistemology, dan landasan epistemo-logi ilmu disebut metoda ilmiah. Dengan kata lain, metoda ilmiah adalah cara yang dilakukan itu dalam menyusun pengetahuan yang oleh filsafat ilmu disebut teori kebenaran.

Ushul-fiqh mempunyai ciri spesifik yang tersusun mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi). Ketika landasan ini saling berkaitan, maka ontology ushul-fiqh terkait dengan epistemologinya, epistemology ushul-fiqh terkait dengan aksiologinya, dan begitulah seterusnya. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemilogi ushul-fiqh, maka kita harus mengaitkannya dengan ontology, dan aksiologi. Tetapi dalam tulisan ini, kita hanya membahas tentang  epistemology, dan itu pun memakai kerangka berfikir penelitian ilmu social.

1. Pendekatan Humanistik

Permasalahan yang sering muncul adalah bahwa kerja ushul-fiqh itu objektif atau subjektif. Demikian karena banyak sekali materi fiqh yang dikelola melalui ushul-fiqh, beda pendapat antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Cara berfikir ushuliyun selalu memakai pendekatan kwalitatif, maka oleh sebagian ilmuan dianggap tidak objektif. Berbeda dengan paradigma ilmu yang memakai  pendekatan kwantitatif, yang serba ilmiah dan terkontrol. Hal ini diakui oleh ushuliyun sendiri, dan tidak akan menolak.

Memang kerja ushul-fiqh sedikit mengabaikan prinsip objektifitas, jika istilah objektif sebagai aturan ilmu yang harus terukur, ada keberulangan, dan perilaku yang dapat diramalkan. Hampir semua ushuliyun tidak berfikir seperti itu, karena ushul-fiqh berhubungan dengan perilaku manusia (af’al mukallafin), maka subjektivitas tetap memiliki peran tersendiri. Ushul-fiqh yang selalu menekankan pada pendekatan subjektivitas, biasanya disebut studi humanistik. Paham ini berpandangan bahwa fiqh yang dikelola oleh ushul-fiqh bukan harga mati, tetapi wilayah interpretative.

Menurut pandangan ahli-ahli rasional, teratur, atau sistematik, perilaku manusia bersifat kontektual berdasarkan makna yang diberikan di lingkungannya. Kalau ilmu di luar humaniora lebih ditekankan pada ‘kedisiplinan’, humaniora justru kearah interpretasi alternatif. Posisi ilmu humaniora, termasuk ushul-fiqh adalah pada ‘siapa’ dan menentukan ‘apa yang dilihat’. Menurut paham ini realitas perbuatan manusia termasuk fenomena yang cair dan mudah berubah. Fenomena ini bersifat polisemik yang memerlukan penafsiran. Jadi kerja ushul-fiqh selalu bergerak pada ‘koma-koma’ bukan berhenti pada satu titik.

Persoalan objective ilmiah dan subjektivitas tidak ilmiah, memang telah lama ditujukan pada semua ilmu agama, termasuk ushul-fiqh. Apalagi ilmu ini menyajikan penafsiran dan hermeunitika. Tentu saja penafsiran semacam ini keberatan jika dikait-kan dengan penilaian objektif dan subjektif. Tetapi muncullah beberapa tokoh sosio-log yang mengatakan bahwa objektivitas itu hanya berlaku bagi ilmu alam. Dengan kata lain, ilmu agama memiliki kateristik tersendiri. Karena itu subjektivitas interpre-ter yang sering memasukkan resepsi, kepekaan, akal sehat, dan pendapat yang terbuka, mestinya tidak harus sama persis dengan “self-understanding”. Itulah maka objektivitas dalam ilmu social, ilmu budaya, termasuk ushul-fiqh tidak bisa absolut.

Ketika ushul-fiqh dianggap sebagai karya pemikiran dalam Islam (tsaqafah Islamiah), muncullah dilematis apakah ushul-fiqh itu sebagai ilmu atau sebagai seni berdebat. Begitu pula ketika para ilmuan melihat perdebatan dalam Islam antara ahli hadits dan ahli rakyu, dalam memecahkan konsep syari’ah, mereka bertanya, apakah ushul-fiqh itu Agama atau ilmu agama. Kalau ushul-fiqh dipandang sebagai Agama, (bukan ilmu agama) lalu sampai dimana kita memperlakukannya sebagi sumber data untuk membangun teori yang dianggap objective. Kenyataan ini membutuhkan kesadaran baru yang menjadi ciri postmodernisme. Yaitu bahwa representasi, suatu penyajian dalam perbandingan mazhab misalnya, tentang suatu aliran ushul-fiqh, pada dasarnya tidak pernah menyajikan gambaran sebagaimana adanya. Penyajian atau uraian itu telah dibungkus dalam kemasan tertentu. Ushul-fiqh sebagai teks tidak bisa diuraikan apa adanya tetapi mengalami ‘distorsi’ tertentu setelah melalui proses penafsiran (syarah).

Ushul-fiqh selalu muncul dalam kerangka berfikir tertentu dan tidak bisa bebas begitu saja. Tetapi dalam penyajiannya selalu muncul nilai subjektivitas di dalamnya.  Karena itu, meskipun mulanya ushul-fiqh itu gagasan al-Syafi’iy untuk membangun mazhabnya, tetapi dalam perkembangannya, mucullah Ushl-fiqh Zaidiyah, Ushul-fiqh Mu’tazilah, Ushul-Fiqh Syi’ah, Ushul-fiqh Hanafiyah, Ushul-fiqh Zhahiri, dan sebagainya. Lalu apa artinya kebenaran ilmiah ? Kebenaran ilmiah bersifat relatif, kondisional, dan tergantung konsensus atau kesepakatan. Tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu soasial atau budaya termasuk ushul-fiqh. Karena itu, setiap ushuliyyun harus siap menerima kritik atas kekurang tepatan analisanya. Dalam kaitan ini, Abdulwahhab al-Sya’rani berkata : Mazhab kami adalah benar, tetapi mungkin juga salah. Mazhab di luar kami adalah salah, tetapi mungkin juga benar. Demikian ini tertuang dalam kitab klasik berjudul Mizan al-Kubra, maka nilai pluralis ini termasuk ciri postmodernism.

Perkembangan selanjutnya, bahwa ahli-ahli perbandingan mazhab dapat menyusun kesadaran ‘subjektivitas’ yang selanjutnya diarahkan pada penulisan biog-rafi individu (tokoh).

Dalam konteks modernis yang kaku, ushuliyyun berpandangan harus objektif, memiliki otoritas, netral dari mazhab, dan selalu mengolah teks dengan objektif. Padahal fiqh yang dikelola melalui ushul-fiqh selalu berubah karena perubahan waktu dan tempat, akibatnya makna teks bisa plural dan bisa berkembang. Jadi pemikiran semacam itu harus ditata ulang kalau dia akan mempelajari ilmu ushul-fiqh.

Memahami pendapat tokoh memang sangat menarik, sama seperti menariknya mempelajari perbedaan subjective dan objective bagi orang yang berpendapat dan pendukung. Permasalahan ini akan terkait pula dengan soal ilmiah atau tidak ilmiah, ilmuan atau propagandis, akademis atau idiologis, dan begitulah seterusnya. Padahal uraian yang dinilai seperti itu tergantung bagaimana tokoh itu menguraikan.

Pada waktu positivisme menjadi idola setiap ilmuan, semua pemikiran yang tidak objective dinilai lemah, termasuk kerangka kerja ushul-fiqh. Tetapi setelah muncul strukturalisme, dan teori ini bisa diterapkan pada penggalian fiqih yang ijtihadnya ditata rapih, maka bisa ditemukan objektivitas. Terutama jika strukturalis itu berupaya menemukan masalah penting dalam setiap uraian fiqh yang disajikan, seperti kesimpulan: lebih manfaat, lebih maslahat, lebih adil dan semacamnya. Lebih lagi jika semua itu tidak terjebak pada alam khayal realis, melainkan selalu berpegang pada bahasa sebagai alat pemikiran.

Disitu jelaslah bahwa ushul-fiqh yang bisa dipandang bernilai subjective, tidak ilmiah, terlalu keagama-agamaan itu sebenarnya tidak benar. Disiplin ilmu ushul-fiqh tetap mengedepankan aspek kebenaran tertentu sejalan dengan tujuan, metoda, hubungan antara dalil dan mad-lul, dan analisis yang berwawasan lain dengan pendekatan objective. Perbedaan ini tidak berarti bahwa kerja ushul-fiqh itu hanya asal-asalan, melainkan berusaha memahami fenomena liwat subjective yang tidak mungkin terfahami melalui objektivitas.

Mushawwibah dan Mukhaththiah

Di dalam Islam, semua teks (al-Qur’an dan al-Hadits) yang berbentuk zhanni (dugaan) maka makna yang muncul dari teks itu selalu dirumuskan dalam kesimpulan yang berbeda-beda (mukhtalaf fih). Bagi pengikut teori mushawwibah akan mengatakan bahwa semua kesimpulan yang beda-beda itu, yang benar tidak satu, bahkan bisa juga semuanya benar. Demikian jika semua mujtahidnya menampilkan kerangka berfikir yang sejalan dengan jalur ushul-fiqh. Sedangkan pengikut mukhath-thiah akan berpendapat bahwa semua kesimpilan yang banyak itu, yang benar cuma satu saja, apalagi jika beberapa kesimpulan tadi ada nilai kontradiktif.

Penilaian semacam itu muncul karena ushul-fiqh atau kerangka berfikir fiqh memanfaatkan penalaran subjective dan paradigma kwalitative. Penalaran semacam ini kurang memiliki kebenaran pada tingkat tertentu. Kebenaran ushul-fiqh dianggap mengada-ada dan spekulasi yang merancang. Tentu saja asumsi seperti itu tidak selalu benar. Meskipun begitu, pengembangan ushul-fiqh seyogyanya berusaha keras untuk meyakinkan orang lain, bahwa fiqh yang diproduksinya memiliki kadar logika dan kebenaran.

Logika dan kebenaran dalam ushul-fiqh tidak berbeda dengan metoda penelitian ilmu social atau ilmu budaya. Logika tetap menjadi wahana untuk mencari kebenaran. Meskipun begitu, banyak sekali macam-macam logika yang dipergunakan untuk mencapai kebenaran itu. Tetapi tidak semuanya relevan bagi pengembangan ushul-fiqh. Macam-macam logika itu antara lain : (a) logika formal. Logika ini berusaha mencari kebenaran dengan mencari relasi antar muqaddimah shugra dan kubra dengan tujuan untuk menggeneralisasikan natijah yang ada pada setiap syakal (qiyas manthiqi). Logika ini tidak bisa diterapkan dalam ushul-fiqh. karena ushul-fiqh tidak mengejar qiyas-qiyas manthiqi seperti itu, tetapi transferabilitas. (b) logika matematik. Logika ini pencarian kebenaran dengan mencari relasi proposisi menurut kebenaran materiil seperti tiga kali tiga itu sembilan. Logika ini didukung oleh rerata yang pasti  dan terukur. Andalan logika ini adalah adanya dalil, aturan, dan rumus-rumus pasti. Logika semacam ini dimanfaatkan oleh statistika dan bisa berlaku bagi penelitian ilmu social, ilmu budaya, termasuk ilmu agama yang penganut faham posistivistik. (c) Logika reflektif, yaitu cara berfikir dengan sangat cepat, untuk mengabstraksikan  dan penjabaran. Logika ini berlangsung cepat dan bisa memanfaatkan daya intuisi. Dalam ilmu tasawwuf, logika ini disebut pendekatan dzauqi yang bisa berkembang sampai laduni. (d) logika kwalitatif, yakni pencarian kebenaran berdasarkan paparan deskriptif data di lapangan atau di perpustakaan. Kwalitas kebenarannya didasarkan pada realitas yang ada. (e) logika linguistik, yaitu pencarian kebenaran berdasarkan pemakaian bahasa. Logika ini banyak diminati oleh penelitian al-Qur’an dan semacam penelitian yang memerlukan penafsiran.

Dari macam-macam logika di atas, ushul-fiqh cenderung memanfaatkan logika kwalitatif dan logika linguistik. Suatu saat logika reflektif pun dipakai pula, terutama untuk mengembangkan dalil metodologis seperti istihsan dan mashalih mursalah. Logika kwalitatif banyak dipergunakan untuk mengembangkan dalil sosiologis seperti ijma’, qaul shahabi, dan lain-lain. Sedangkan logika linguistik dipergunakan untuk mengembangkan dalil normative, yaitu al-Qur’an dan teks al-Hadits.

Dari segi lain, logika kwalitatif biasanya dipergunakan untuk lingkup kebenaran yang terbatas. Artinya, kebenaran yang dicapai bukan sebuah wacana yang berlaku universal, melainkan hanya pada tingkat local, atau kasus tertentu saja. Karena itu, kebenaran kwalitatif bersifat lebih spesifik dan tidak menghendaki adanya regualitas. Oleh karena itu teks atau kasus yang dikelola memakai logika kwalitatif akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti kebenaran semacam itu lemah, tetapi tetap menggunakan dalil berdasarkan realitas. Itulah suatu fenomena yang oleh Islam disebut rahmatan lil’alamin.

Dulu, penelitian ilmu social dan ilmu budaya diarahkan pada pemikiran objektif dan matematis. Tetapi setelah mereka mulai meninggalkan logika tradisi, dan ingin mencari kebenaran baru yang lebih orisinil, mereka mengejar perkembangan yang disebut postmodernisme. Kalau perkembangan ilmu itu seperti itu, maka akan berte-mu dengan ushul-fiqh yang kebenarannya didasarkan pada argumentasi, imajinasi, dan common sense (akal sehat).

Kebenaran dalam ushul-fiqh adalah nisbi (zhanni) dan relative (mukhtalaf fih), dan menganut hokum probabilitas (ijtihadiah). Titik tolak ushuliyun semacam itu adalah kebenaran kreatif  cerdas, dan tidak menyalahkan orang lain seperti meng-hakimi salah, bid’ah, jumud, dan sebagainya. Tentu saja pendirian ushuliyun seperti itu tidak disetujui oleh agamawan yang taat pada kebenaran matematis.Di antara mereka ada yang berkata : Allah itu satu. Nabi Muhammad itu satu, dan Al-Qur’an juga satu, maka seharusnya pemikiran Islam pun satu pula (bersatu). Padahal sulit dipungkiri bahwa kebenaran kreatif pun akan mampu mewadahi aspirasi kebenaran yang kecil-kecil, yaitu kebenaran yang jarang teradopsi oleh ilmuan yang selalu berfikir global.

Perlu dipertimbangkan, baik oleh pengikut mushawwibah atau mukhaththiah bahwa perilaku manusia (af’al al-mukallafin) adalah unik, dan inilah yang menjadi objek pembahasan ushul-fiqh. Oleh karena itu tuntutan kebenaran dan atau objek-tivitas ushul-fiqh hendaknya dicari bukan seperti fenomena alam. Jika fenomena alam ada hal-hal yang secara fisik teramati, terulang, dan teratur, maka perilaku manusia tidak selamanya bergerak seperti itu, bahkan selalu bias. Tingkat bias ini hanya mampu diolah menjadi objective apabila dilukiskan secara verstehen (mudah terfahami). Jika fiqh yang diproduksi melalui ushul-fiqh tadi dapat diterima oleh masyarakat, berarti dalam ushul-fiqh tadi ada kejelasan. Kejelasan inilah yang disebut kebenaran.

Jadi kalau kebenaran ilmuan objective lebih menyukai penjelasan logis, maka ushul-fiqh menyajikan penjelasan yang berisi penafsiran. Kalau kebenaran objective ingin melihat pembakuan pengamatan yang teratur, maka penglolaan ushul-fiqh bersifat humanistic yang kreatif. Dengan kata lain kebenaran ushul-fiqh lebih menitik beratkan pada aspek humanistic kemanusiaan. Itulah sebabnya, ushul fiqh dinilai unik yang memandang bahwa perilaku manusia satu sama lain tidak selalu sama. Dengan demikian, orang yang berpendapat bahwa Ushul-fiqh al-Syafi’iy itu mirip dengan Manthiq Plato atau Aristotales, itu tidak benar. Karena kebenaran Manthiq memiliki hubungan kausalitas yang jelas dan harus relasional yang memungkinkan kontrol proposisi. Sedangkan kebenaran Ushul-Fiqh ditekankan pada penafsiran logic yang kadang-kadang bercampur dengan intuisi, imajinasi, dan kreativitas. Oleh karena itu, melalui penafsiran semacam ini, Ushul-Fqh lebih mampu memasuki sisi-sisi perso-alan hukum yang berkaitan dengan perilaku umat (af’al al-mukallafin).

Lebih dari itu, kebenaran ushul-fiqh bukan hal yang dirancang ada, tetapi harus dicari dalam konteks. Ushuliyun hanya bertugas menghimpun, mengorganisasi, mengklasifikasi, dan menglola dalil-dalil fiqhiyah untuk keperluan fiqih.

Ushul-fiqh aliran Rakyu dan aliran Mutakallimin

Penerapan ushul-fiqh sering direpotkan ketika ushuliyun akan membuat fiqh, terutama ketika mencari bentuk aliran, apakah ushul-fiqh aliran rakyu atau aliran mutakallimin. Dua aliran ini, secara etimologis memang bertolak belakang. Keduanya memiliki implikasi metodologis yang berbeda. Padahal keduanya sama-sama dimanfaatkan oleh imam-imam mujtahid.

Rakyu adalah aliran dalam ushul-fiqh yang teori-teorinya dibangun atau disusun sesudah fiqh terbentuk. Artinya, mujtahid ini mengamati perilaku orang-orang mukallaf yang ada pada masyarakat, kemudian dia memproduk fiqh secara induktif. Setelah itu disusunlah ushul-fiqh untuk dasar-dasar pengembangannya, di samping kaidah fiqhnya juga. Karena itu, uruf (tradisi), mashalih al-mursalah, dan istihsan di-ambil sebagai dasar hukum fiqh. Ushul-fiqh aliran ini dipakai oleh Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan Mu’tazilah. Dalil-dalil ini, biasanya dirumuskan berdasarkan istiqra (penelitian) untuk mencari bentuk fiqh.

Sebaliknya, jika mujtahid itu menyusun ushul-fiqh dulu, kemudian memproduki fiqh berdasarkan ushul-fiqh tadi, berati ushul fiqh ini disebut aliran mutakallimin. Aliran ini berfikir deduktif, dengan menyesuaikan perilaku umat (af’al al-mukallafin), kepada teori-teori ushul-fiqh tadi. Aliran ini dipakai antara lain oleh Mazhab Syafi’iy, Mazhab Hanbali, Mazhab Zhahiri, dan Mazhab Syi’ah Itsna Asyariyah. Aliran ini tidak mau memakai ‘uruf, mashalih al-mursalah, dan istihsan, karena semua dalil ini bisa bertentangan dengan qiyas ‘am. Aliran ini, tambahan dalil pokoknya adalah istish-hab, yaitu dalil yang memandang persoalan hokum, selama tidak ada dalil yang mengubah maka tetap berlaku sampai sekarang dan masa depan.

Ushul fiqh model ini agak sempit dan seperti membatasi diri pada kondisi lapangan tertentu, terutama jika kita melihat perkembangan kehidupan yang cepat berubah. Akibatnya, teori-teori ushul-fiqh hanya terpaku pada pemahaman dasar (al-Qur’an, al-Hadits, al-Ijma’ dan al-Qiyas) dan beberapa dalil yang berorientasi ke belakang seperti istishhab, dan syara’ man qablana. Dengan kata lain, ada kelemahan bagi aliran ini, yaitu kurang menghargai fenomena dan realitas. Berbeda dengan aliran rakyu yang menggunakan dalil ‘uruf dan istihsan, bisa masuk ke dalam rangka (a) Ushuliyun bisa mengolah semua permasalahan yang muncul di tengah masyara-kat, dengan teori-teori ushul-fiqhnya. (b) Ushuliyun bisa berhubungan langsung secara akrab dengan masyarakat yang memakai mazhab tertentu (c) Ushuliyun dapat menguraikan latar belakang secara penuh, sehingga uraian fiqhnya bisa mengangkat dalil-dalil kulli dengan meninggalkan dalil juz’iy yang sama-sama zhanni.

2. Pendekatan Emik dan Etik

Ada dua cara pandang (pendekatan) yang saling bertolak belakang. Dua pendekatan ini disebut pendekatan emik (fonemik) dan pendekatan etik (fonetik). Awalnya, pendekatan ini muncul dari istilah linguistik, yang dalam ilmu budaya dipopulerkan oleh Kenneth Pike. Dalam Kitab Klasik, teori ini pernah dikembangan oleh Ibn Jinni dan al-Jurjani. Menurut Ja’far Dikki, teori Ibn Jinni dan teori Al-Jurjani saling melengkapi untuk membangun teori linguistik yang baru. Penggabungan dua teori tersebut adalah (a) Penggabungan antara studi diakronik Al-Jurjani dan singkronik Ibn Jinni merupakan hal yang signifikan (b) Teori Ibn Jinni yang mengatakan bahwa bahasa tidak terbentuk seketika, tetapi berproses, dan teori Al-Jurjani tentang hubungan antara bahasa dan pertumbuhan pemikiran, merupakan hal yang saling terkait. Dengan demikian bahasa dengan segala aturannya tumbuh dan berkembang seiring dengan pertumbuhan pemikiran manusia. Teori dua tokoh tadi mengembangkan aliran linguistik Abu Ali al-Farisi, yang kateristik umumnya adalah (a) Bahasa pada dasarnya terbetuk secara system. (b) Bahasa merupakan fenomena social dan strukturnya terkait dengan fungsi transmisi yang melekat pada bahasa tersebut. (c) Adanya kesesuaian antara bahasa dan pemikiran. Dari segi lain, ahli-ahli linguistik mempelajari kamus Maqayis al-Lughat karya Ibn Faris. Tokoh ini meng-embangakan teori gurunya, yaitu Sa’lab yang membedakan antara kata benda sebagai subjek (ism dzat) dan kata benda sebagai sifat (ism shifat). Tampaknya, dari teori semacam inilah muncul gagasan tentang emik dan etik untuk mengembangkan ilmu sosial dan ilmu budaya, dan sekarang dicoba untuk mengembangkan ushul-fiqh.

Secara epistemologis, pendekatan etik dan emik memiliki implikasi yang berbe-da. Jika ushuliyun berusaha mengembangkan ushul-fiqh menurut mazhab universal dengan menggunakan cara-cara yang ditentukan sebelumnya, maka cara ini, oleh teori linguistik disebut etik. Sebaliknya, jika pengembangan ushul-fiqh itu berdasar-kan mazhab regional (mazhab Syafi’iy saja misalnya) maka berarti ushuliyun telah mengembangkan ushul-fiqh dengan pendekatan emik. Bagi ushuliyun bisa juga menggunakan salah satu pendekatan, dan atau menggunakan keduanya. Yang penting mereka memperhatikan konsistensi pemanfaatan keduanya, agar tidak terjadi campur aduk. Kedua pendekatan ini memiliki kelemahan masing-masing dan sekaligus memiliki kekuatan tertentu.

Menurut Marvin Harris, istilah etik dan emik akan berhubungan dengan masalah objektif dan subjektif. Etik bersifat sangat tertutup dalam hal makna, seperti prinsip objektif. Tetapi emik tidak bisa disejajarkan dengan subjektif saja tetapi bisa juga disejajarkan dengan objektif dan subjektif sekali gus. Kalau teori ini diterapkan pada ushul-fiqh universal dan ushul-fiqh regional, maka bisa berhubungan dengan objektif dan subjektif dalam penerapan. Artinya, jika dalam ushul-fiqh tadi ushuliyun mengo-lah dalil normative (tsk al-Qur’an dan teks al-Hadits), maka bisa menemukan objektif dan subjektif. Tetapi jika mereka mengolah dalil metodologis seperti istihsan maka dia akan terjadi subjektif. Jadi perbedaan antara objektif dan subjektif dan penyebutan ushul-fiqh regional dan universal, tergantung penggunaannya.

Jelasnya, pendekatan etik dan emik merupakan landasan norma pengembangan penelitian yang berusaha memahami tingkah laku manusia. Tingkah laku tersebut penuh dengan makna, karena di dalamnya terdapat aneka macam symbol aksi. Begitu pula ushul-fiqh yang mengambil istilah mazhab regional dan mazhab universal, meru-pakan landasan pengembangan ushul-fiqh itu sendiri, yang berusaha memahami tingkah laku manusia (af’al al-mukallafin). Tingkah laku ini penuh dengan makna (penilaian), karena di dalamnya terdapat berbagai aksi (akidah, niat, ucapan, gerakan dan perbuatan).

Pendekatan mazhab regional dan mazhab universal pada dasarnya merefer pada sudut pengembangan ushul fiqh itu sendiri. Jika ushuliyun itu mendasarkan pengem-bangannya pada mazhabnya sendiri, berarti dia mengembangkan ushul-fiqh regional. Dan jika dia menggunakan sudut pandang beberapa mazhab, berarti dia menggunakan ushul-fiqh akurat apabila dia mampu menangkap persamaan dan perbedaan pendapat beberapa tokohnya, selanjutnya dikategorikan dan dicari signifikasi teori secara penuh. Berarti pengambilan mazhab regional lebih memperhatikan teori yang lebih aspiratif. Sebaliknya, pemaparan ushul-fiqh universal lebih tergantung pada kejelian ushuliyun itu sendiri, dalam menampilkan suatu teori secara ilmiah.

Jika ushuliyun itu pengembangannya memilih ushul-fiqh mazhab universal, pada akhirnya dia harus melakukan generalisasi. Pada saat itu dia harus melakukan beberapa hal. (a) dia harus mengelompokkan secara sistematis seluruh pendapat atau teori ushul-fiqh yang ada, ke dalam system tunggal. (b) dia menyediakan ukuran atau kriteria untuk klasifikasi setiap dalil yang menunjang teori-teori ushul-fiqhnya. (c) dia mengorganisasikan teori yang telah diklasifikasikan ke dalam type-type tertentu. (d) menganalisa, menemukan, dan menguraikan setiap teori (qaul) dan argumentasinya ke dalam kerangka system yang telah dibuat, sebelum dia mempelajari ushul-fiqh.

Sebaliknya, pendekatan ushul-fiqh mazhab regional termasuk ushul-fiqh mazhabnya sendiri, merupakan esensi yang shahih untuk fenomena fiqh pada suatu waktu tertentu. Pendekatan ini relevan sebagai usaha untuk mengungkap pola-pola fiqh menurut persepsi mazhabnya. Pendekatan ini menegaskan bahwa konsepnya muncul dari ushuliyun sendiri. Berbeda dengan pengembangan ushul-fiqh universal, ushuliyun berdiri di luar mazhabnya sendiri. Pendekatan pertama (regional) akan terkait dengan keseluruhan teori  mazhabnya, dan akan menekankan pada kenisbian. Pendekatan ini lebih natural dalam mereprosentasikan teori ushul-fiqh dan sejalan dengan konsep ushul-fiqh secara operasional. Sedangkan ushul-fiqh universal ditekankan pada sikap mutlak. Dari satu segi, pendekatan ini kurang natural, dan sejajar dengan teori ushul-fiqh secara kognitif.

Jika kedua pendekatan itu diperbandingkan maka akan tergambar dalam karakte-ristik sebagai berikut.

Pendekatan ushul-fiqh regional adalah (a) Ushuliyun akan mempelajari perilaku masyarakat (af’al al-mukallafin) yang mengikuti mazhabnya sendiri. (b) Ushuliyun hanya mempelajari ushul-fiqh dari mazhabnya sendiri, yaitu ushul-fiqh al-Syafi’iy misalnya, yang ditulis oleh beberapa tokoh mazhab itu. (c) Struktur ushul-fiqh diten-tukan oleh kondisi dan situasi jama’ah yang mengamalkan fiqhnya. (d) Kriteria ushul-fiqh bersifat relatif dan terbatas.

Sedangkan ushul-fiqh universal adalah (a) Ushuliyun akan mempelajari perilaku manusia (af’al al-mukallafin) dari luar mazhabnya sendiri. (b) Ushuliyun akan mempelajari ushul-fiqh dari berbagai mazhab dan membandingkannya satu sama lain. (c) Struktur ushul-fiqh ditentukan oleh ushuliyun itu sendiri dengan membangun konseptual. (d) Kriteria ushul-fiqh bersifat mutlak, ada generalisasi dan berlaku universal.

Dari karakteristik seperti itu, tampak bahwa ushuliyun regional akan menjadikan dirinya sebagai bagian utuh dari mazhab itu. Ushuliyun ini ikut merasakan dan bertindak sebagai partisipan penuh. Kehadiran ushuliyun seperti ini menentukan ke-berhasilan. Tentu saja subjektivitas pun tetap sulit dihindarkan. Apalagi ushuliyun tadi pendukung mazhabnya. Jika dia tidak mampu mengambil jarak, bisa terjadi bias. Sedangkan pengembang ushul-fiqh universal, otoritas ushuliyun sangat menentukan. Kemampuan mereka membangun konsep yang akan diterapkan, amat menentukan keberhasilan.

3. Pendekatan Positivistis dan Naturalistis

Dulu, gagasan positivistic itu dicetuskan oleh Ibn Taymia. Tetapi karena ia wafat dalam tahanan dan buku-bukunya baru beredar setelah lima ratus tahun, maka gagasan semacam itu mandeg, kata Nurcholis Madjid. Setelah muncul falsafat Agust Comte (1798-1875)  dan tulisan Emil Durkheim (1858-1917) banyak ilmuan yang mengambil falsafat ini sebagai pendekatan penelitian. Filsafat ini berfikir statistik dan biasanya menolak pemahaman metafisik dan teologis. Bahkan faham ini sering manganggap bahwa pemahaman metafisik dan teologis terlalu primitif dan kurang rasional. Begitu pula Ibn Taymia mengembangkan pemikiran tekstualis, realistis, dan tidak menerima ta’wil. Ia juga tidak menerima berfikir teologis, terutama pemikiran Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Dalam kitabnya, Al-Radd ‘alal Manthiqiyin, Ibn Taymia menolak berfikir falsafati yang membuat konsep-konsep yang abstrak dan subjektif. Dalam kitab itu, tulisan yang berfikir manthiqi seperti konsep definisi, silogisme dan lain-lain ditolak, yang kadang-kadang dikuatkan dengan menampilkan dalil al-Qur’an. Terhadap pemikiran tasawwuf falsafi, seperti pemikiran al-Hallaj, Abu Yazid al-Busthami, dan Ibn Arabi, semua itu berfikir subjektif dan khayalis, bahkan semua itu dinilai ‘kafir’. Dengan kata lain positifistik lebih berusaha ke arah mencari fakta atau sebab-sebab terjadinya fenomena secara objektif, terlepas dari pandangan pribadi yang bersifat subjektif.

Dalam pandangan Durkheim, dasar pendekatan positivistic adalah logika mate-matis yang penuh teori logika deduktif. Kevalidan karya positivisme dengan cara mengandalkan fakta empiri. Generalisasi diperoleh dari rerata di lapangan. Kalau konsep semacam ini diterapkan pada pemikiran Ibn Taymia, maka ada dua dasar, yaitu (a) teks al-Qur’an dan teks al-Hadits dinilai sebagai pusat, dan pemahaman yang diluar teks  adalah sebagai dunia yang gelap. Maka untuk mengetahui yang gelap itu, ilmuan harus masuk pada tingkat hakikat, yaitu makna empirik (tektualis), bukan ta’wil atau kinayah dan sebagianya. (b) teks tidak dipandang sebagai pusat, tetapi sebagi satu titik dari deretan titik yang disebut kenyataan. Karena kedudukan seperti ini, maka teks tidak harus mengetahui hukum (yang gelap) yang berlaku pada dunia sekitar, tetapi yang gelap-gelap itulah yang lebih menserasikan diri dengan teks.

Biasanya, positivistic lebih menekankan pembahasan singkat dan menolak pem-bahasan yang penuh deskripsi cerita, atau ta’wil, dalam istilah Ibn Taymia. Karena itu, jika ushuliyun akan menggunakan positivistic, otomatis harus membangun teori-teori atau konsep dasar, kemudian disesuaikan dengan kondisi mazhab yang meng-amalkan ushul-fiqh itu. Ushuliyun lebih banyak berfikir induktif agar menghasilkan sebuah verifikatif sebuah bentuk ushul-fiqh yang ingin dibangun.

Ciri-ciri positivistic dapat dilihat dari tiga pilar keilmuan, yaitu (a) aspek ontolo-gis, positivistic menghendaki bahwa perilaku manusia (af’al al-mukallafin) dapat di-pelajari secara independen, dapat dieliminasikan dari subjek lain, dan dapat dikontrol. (b) secara epistemologis, yaitu upaya untuk mencari generalisasi terhadap peng-amalan fiqh dalam masyarakat. (c) secara aksiologis, menghendaki agar pengem-bangan ushul-fiqh bebas nilai. Artinya, ushuliyun dalam menyusun ushul-fiqhnya mengejar objektivitas agar dapat ditampilkan prediksi meyakinkan yang berlaku bebas waktu dan tempat.

Positivistik berbeda dengan naturalistic yang cenderung mengungkapkan peng-amalan fiqh di suatu tempat. Paham ini dipengaruhi oleh teknik berfikir induktif un-tuk mermperoleh ushul-fiqh yang diambil dari pengamalan fiqh di daerah itu. Demikian ini difahami melalui analisis yang netral atau lingkungan alamiah dalam mazhabnya. Dengan kata lain, ushul-fiqh yang dipelajari dengan pendekatan naturalistrik adalah ushul-fiqh yang berangkat dari realita komunitas mazhab fiqh yang diamalkan oleh masyarakat itu.

Posisi ushuliyun yang mempelajari fiqh dengan pendekatan ini seperti orang asing yang belum tahu gambaran ushul-fiqh yang bisa dirumuskan dari daerah itu. Oleh karena itu, di samping dia mempelajari dan mengamati masyarakat, dia juga mengadakan pemetaan lokasi dan merekam apa yang terjadi pada mazhab itu. Ada sebagian ilmuan yang mengatakan bahwa ushuliyun yang mempelajari norma-norma ushul-fiqh di suatu daerah dengan pendekatan ini sama seperti mengguanakan metoda fenomenologi.

Selain menggunakan instrumen perilaku umat (af’al al-mukallafin), pendekatan naturalistic juga memiliki cirri, antara lain (a) realitas umat dapat dipisahkan dari konteksnya, dan tidak selamanya mereka berada dalam konteks itu. (b) penggunaan pengetahuan yang tersembunyi seperti intuisi, itu bisa dibenarkan, karena interaksi manusia pun sering demikian. (c) rancangan ushul-fiqh yang dinegosiasikan adalah penting karena konstruksi mazhab itu akan dikonstruksi oleh ushuliyun yang sedang mencari ushul-fiqh itu. (d) rumusan ushul-fiqh bersifat ideografis atau berlaku khusus bukan bersifat nomotetis atau mencari generalisasi. Karena interpretasi yang berbeda akan lebih bermanfaat bagi realitas yang berbeda pula, karena perbedaan konteksnya. (e) gambaran ushul-fiqh bersifat tentatis, dan belum tentu bisa digeneralisasikan.

Dari cirri-ciri tersebut dapat dinyatakan bahwa penulisan ushul-fiqh dengan pen-dekatan naturalistic adalah lebih membumi. Ushul-fiqh model ini akan mampu memecahkan perilaku umat yang dipelajari, dan bisa membantu keinginan tokoh-tokoh yang menyajikan Mazhab Jogja, atau Fiqh Indonesia, dan sebagainya.             

4. Pendekatan Fenomenologis

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa positivisme memerlukan penyusu-nan teori. Sedangkan fenomenologi justru tidak menunggu-nunggu teori bahkan alergi dengan teori. Pendekatan ini lebih menekankan rasionalisme dan realitas peng-amalan fiqh di tengah masyarakat. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografis yang menitik beratkan pada pilihan dan pandangan pegangan mazhab setempat. Realitas adalah lebih penting dan dominan dibanding teori dan rerata.

Fenomenologi berusaha memahami pengamalan mazhab liwat pandangan dan perilaku pengamal mazhab itu. Menurut faham fenomenologi, ilmu bukanlah bebas nilai dari apa pun, tetapi memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma fenomenologis adalah (a) kenyataan ada dalam diri manusia, baik selaku individu atau kelompok, selalu bersifat majmuk atau ganda yang tersusun secara kompleks. Oleh karena itu pengamalan mazhab Syafi’iy atau mazhab Hanafi atau lainnya yang tersebar di bebe-rapa kawasan, hanya bisa dipelajari secara holistic dan tidak terlepas-lepas. (b) hubungan antara ushuliyun dengan pengikut mazhab di daerah itu saling mempenga-ruhi, mungkin karena diskusi atau saling memberikan komentar.(c) lebih mengarah kepada kasus-kasus fiqhiyah bukan untuk menggeneralisasi karangan atau materi untuk ushul-fiqhnya. (d) ushuliyun akan kesulitan dalam membedakan sebab dan akibat, karena situasi berlangsung secara simultan, (e) inkuiri terkait nilai, bukan bebas nilai, sebagaimana disebutkan di atas.

Fenomenologi merupakan istilah generic yang merujuk kepada semua pandangan ilmu social yang menganggap bahwa kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan social. Dalam pandangan ushul-fiqh, pandangan subjektif dari pengikut mazhab yang dikembangkan ushul-fiqhnya, sangat diperlukan. Subjektivitas akan menjadi shahih apabila ada proses intersubjektivitas antara ushuliyun dengan pengikut mazhab yang dipelajari ushul-fiqhnya itu.

Dalam pengembangan ushul-fiqh, pendekatan fenomenologi tidak dipengaruhi secara langsung oleh filsafat fenomenologi, tetapi oleh perkembangan dalam pende-finisian konsep fiqh atau ushul-fiqhnya, termasuk pendefinisian tafsir al-Qur’an atau ilmu budaya lainnya. Dalam fenomenologi, objek ilmu tidak terbatas pada yang empirik (sensual), melainkan mencakup juga fenomena berikutnya yang terdiri dari persepsi, pemikiran, kemauan, dan keyakinan si subjek yang menuntut pendekatan holistic, menundukkan objek pengembangan ushul-fiqh dalam suatu konstruksi ganda melihat objeknya dalam satu konteks netral, dan bukan parsial. Karena itu dalam fenomenologi lebih menggunakan tata pikir logic dari pada sekedar linier kausal. Tujuan pengembangan ushul-fiqh dengan pendekatan fenomenologi adalah untuk membangun ilmu-ilmu agama, termasuk ushul-fiqh itu sendiri.

Metoda kwalitatif fenomenologi, berdasarkan pada empat kebenaran, yaitu kebe-naran empirik sensual, kebenaran empirik logic, kebenaran empirik etik, dan kebenar-an empirik transenden. Atas dasar cara pencapaian kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan antara ushuliyun dengan masyarakat pengamal mazhab. Keterlibatan ushuliyun dengan umat yang dikembangkan ushul-fiqhnya itu menjadi salah satu cirri utama.

Pendekatan fenomenologi berusaha memahami arti pengamalan fiqh dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang biasa dalam situasi tertentu. Ilmuan fenomenologi tidak berasumsi bahwa mereka mengetahui makna tindakan bagi orang-orang yang sedang dipejalari. Oleh karena itu inkuiri dimulai dengan diam. Diam merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang dipelajari. Yang ditekankan adalah aspek subjek (pengamal fiqh) dari perilakunya. Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subjek yang dipelajari sedemikian rupa, sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.

Mulanya ilmuan tahu dari pengakuan masyarakatnya, bahwa mereka pengamal fiqh Syafi’iy, dari segi ibadah, mu’amalah, mawarits, munakahat, dan sebagainya. Tetapi ilmuan tahu juga bahwa mazhab al-Syafi’iy didukung oleh banyak komentator (ash-hab) terhadap ushul-fiqhnya, sehingga terjadi antara satu konsep dengan konsep lainnya berbeda. Maka ilmuan fenomenologi ingin mengetahui praktek pengamalan fiqh, dikaitkan dengan pola kehidupan bermazhabnya.

Penekanan ilmuan fenomenologi adalah pada aspek subjektif dari pengamal fiqh. Ushuliyun berusaha masuk ke dalam dunia subjek yang dipelajarinya, sehingga ushuliyun mengerti apa dan bagaimana satu konsep yang dikembangkan. Pengamal fiqh dipercayai memiliki kemampuan untuk menfsirkan pengamalannya melalui interaksi. Ushuliyun fenomenologis tidak menggarap data secara mentah. Dia cukup pandai dengan cara memberikan “tekanan” pada pengamal fiqh untuk memberikan makna pada tindakan fiqihnya, tanpa mengabaikan realitas.

Demikian dapat difahami, karena istilah fenomenologi itu berkaitan dengan suatu persepsi, yaitu kesadaran. Fenomenologi akan berupaya menggambarkan fenomena kesadaran dan bagaimana fenomena itu tersusun. Dengan adanya kesadaran ini, tidak mengherankan jika ushuliyun dan pengamal fiqh memiliki kesadaran tertentu terhdap pengamalannya masing-masing. Pengamalan yang dipengaruhi oleh kesadaran itu, pada saatnya akan memunculkan permasalahan baru dan di antaranya akan terkait dengan pola-pola pengamalan fiqh itu tadi.

Perkembangan kesadaran yang diketahui oleh ushuliyun yang menggunakan fenomenologi akan dihadapkan pada sejumlah permasalahan fiqh dan ushul-fiqhnya. Paling tidak ada tiga permasalahan pokok, yaitu (a) Ketidak samaan data yang dihimpun oleh ushuliyun, karena perbedaan minat di kalangan mereka terhadap perilaku suatu mazhab di daerah yang sama (b) Masalah sifat data itu sendiri. Artinya seberapa jauh data tersebut dapat diperbandingkan, atau seberapa jauh data tersebut benar-benar dapat melukiskan gejala yang sama dari pengamal mazhab yang berbeda (c) Menyangkut masalah klasifikasi data yang di antara ushuliyun masih berbeda kriterianya.

Melihat tiga hal tadi, studi fenomenologi bisa dibantu dengan pendekatan etnosains sebagai salah satu alternatif. Pendekatan ini dipandang lebih fenomenologis karena dengan menerapkan model linguistik yang dikenal dengan pelukisan secara etik dan emik, pemaknaan ushul fiqh menjadi lebih lengkap. Dengan cara ini pende-finisian ushul-fiqh merupakan akumulasi dari system ide, dalam istilah “makna” yang diberikan oleh pendukung mazhab pun turut diperhitungkan.

Pendekatan fenomenologi, ada yang mengkritik lagi dan diarahkan pada penglo-laan secara etnografis. Pendekatan ini mengkritik pandangan empirisisme radikal, naturalisme, dan fenomenologi murni. Kalau pendekatan ini diterapkan pada ushul-fiqh, maka (a) Persyaratan ‘illat (alasan hokum) menurut Hanafiyah harus berjangka luas, hingga memungkinkan untuk dijadikan dasar qiyas. Menurut Syafi’iyah ‘illat jangkauannya terbatas, karena hukum itu mengikuti ‘illat. Sedangkan menurut teori etnografis, bahwa ‘illat yang dirasakan oleh pengikut Mazhab Syafi’iy misalnya, belum tentu sejalan dengan konsep ‘illat yang dirumuskan oleh Ushulyun Syafi’iy yang menyusun ushul-fiqhnya. (b) Mengembangkan ushul-fiqh fenomenologis yang memperhatikan ‘dunia moral lokal’ terhadap masalah ekologi yang mengkaji situasi dan lingkungan. Situasi dan lingkungan adalah bagian dari hidup manusia (af’al al-mukallafin) yang akan membentuk dan dibentuk oleh lingkungan setempat dan atau oleh budaya keagamaan setempat. (c) Arahan baru ushul-fiqh diarahkan pada fisik, karena subjektivitas adalah kehidupan fisik di dunia, bahkan sikap simpati dan empati merupakan sifat dasar kehidupan fisik pula. Karena itu, pemahaman fenomenologi perlu mendasarkan fisik ini. Karena fisik merupakan aspek primordial dari sebjek-tivitas manusia sebagai makhluk social. (d) Ushul-fiqh yang diarahkan pada histeo-grafi, yaitu memandang fenomena dalam kaitannya pada kehidupan dan sejarah.

Demikian pengembangan ushul-fiqh, sebenarnya masih bisa dicapai lagi dengan pendekatan yang lain, seperti pendekatan praktek, dan pendekatan emansipatoris. Meskipun begitu, pendekatan-pendekatan yang sudah disajikan di atas, sudah mencukupi untuk mengembangkan ushul-fiqh kita. Wallahu a’lam.

Daftar Bacaan :

Asymawi, Muhammad Sa’id al., Al-Islam al-Siyasiy, Kairo, 1992, Sina Li al-Nasyr.

Aziziy, A. Qadri, Pengembanagn Ilmu-ilmu Keislaman, Jakarta, 2003, Dipertais,

Ditjen, Bagais, Depag RI.

Bisri, Cik Hasan, Model Penelitian Fiqh, Jilid I, Jakarta, Edisi Pertama,2003, Prenada

Media.

Buwaithiy, Muhammad Said Ramadlan, Dlawabith al-Mashlahah Fi al-Syafiat al-

Islamiyah, Beirut, Cet. Ke 5, 1990 M., 1410 H., Muassasah al-Risalah.

Dikki al-Bab, Ja’far, Metoda Linguistik Buku al-Kitab wa al-Qur’an, dalam Al-Kitab

Wa al-Qur’an,karya Muhammad Syahrur, Terjemah Sahiron, Yogyakarta, 2004

ELSAQ Press.

Endraswara, Suwardi, Metodologi Penelitian Kebudayaan, Yogyakarta, 2003 Gajah

Mada Press.

Hasan Hanafi, Dirasah Islamiyah (Islamologi I) Diterjemahkan oleh Miftah Faqih,

Yogyakarta, 2003, LKiS, 

Ibn Taymia, Al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, Beirut tt. Dar al-Fikr.

Ibrahim Abu Sulaiman, Abdulwahhab, Al-Fikr al-Ushuliy, Cet. Ke I, Jeddah, 1993,

1403 H., Dar al-Syuruq.

Mahfuzh, Anas Saidi, Metodologi Penelitian, Hanya Untuk Kalangan Sendiri, tt.

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kwalitatif, Bandung, Cet. Ke 20, 2006,

Remaja Rosdakarya.

Musa, Muhammad Yusuf, Nizham al-Hukm fi al-Islam, Kairo, 1963, Dar al-Kitab al-

Arabiyah.

Raziy, Abu Abdillah Muhammad ibn Umar ibn Husain al., Al-Mahshul fi Ilm al-Usul

Beirut tt. Dar al-Kutub al-Arabiyah.

Sa’di, al-Iraqi, Abdulhakim abdurrahman, al., Mabahits al-Illat fi al-Qiyas ‘ind al-U-

Shuliyyin, Beirut, Pect. Ke I, 1982 M-1406 H., Dar al-Basyair al-Islaiyah.

Sarkhasi, Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Sahal, al., Al-Muharrar fi Ushul al-Fiqh,

Beirut, tt. Dar al-Kutub al-Arabiyah.

Syalabi, Muhammad Musthafa, Ta’lil al-Ahkam, Beirut, 1981 M-1401 H., Dar al-

Nahdlah al-Arabiyah.

Suryasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, 1984,

Penerbit Sinar Harapan.

Niat dalam Ibadah

Posted: 23/10/2010 in Uncategorized

Pendahuluan

Niat adalah ruh perbuatan dan inti sarinya.[1] Perbuatan tanpa niat bagaikan jasad mati tanpa ruh, sedangkan niat adalah ibadah yang disyariatkan yang memiliki pengaruh dalam amal perbuatan dan dengan perbuatan tersebut muncul sebuah hukum yang dapat dibangun di atasnya. Niat adalah dasar dari perbuatan, baik kaedahnya dan ukuran yang dapat membedakan atnara sah, rusak, diterima dan ditolak. Perbuatan bisa dikatakan sah jika niatnya juga sah, begitu juga sebaliknya, jika niatnya jelek, maka perbuatannya juga dikatakan jelek, tentunya hal ini sangat menentukan kesesuaian dengan balasan yang akan diterima di dunia dan di akhirat.

Niat berlaku dalam berbagai bab-bab fikih seperti dalam transaksi perdagangan dan kepemilikan,  tetapi oleh Ibnu Nujaim, niat dijadikan pada perbuatan ukhrowyah sebagi kaidah pertama dari beberapa kaidah-kaedah fikih besar lainnya, yakni kaedah “la tsawaba illa bi niyyatin” (tidak ada pahala kecuali dengan niat).[2] Dan jika terdapat hukum-hukum kebiasaan adat (perbuatan sehari-hari) semuanya tergantung pada niatnya, sehingga niat sangat penting untuk diutamakan dalam segala perbuatan dan menjadikannya sebagai rukun pertama.

Pandangan Al-Qur’an Tentang Niat

Dalam istilah sehari-hari, kata an-nawa (النوى) banyak digunakan untuk pengertian “maksud” atau “tujuan”. Al-Raghib al-Asfahani mengatakan bahwa an-niiyyah (النية) berasal dari kata an-nawa (النوى) Dia mengartikan an-nawa  itu dengan  ثوجه القلب نحو العمل (tekad hati untuk melakukan perbuatan tertentu). Dalam al-Qur’an banyak disinggung masalah niat dalam beberapa redaksi dan istilah yang beragam, walaupun niat tidak disebutkan secara langsung, tetapi substansinya adalah niat,  tujuan dan keikhlasan.

Firman Allah swt dalam al-quran surat al-Bayyinah ayat ke-5 dan Surat al-Zumar ayat 2 dan 11, Surat al-A’raf ayat 29, Surat al-Gofir ayat 14 dan 65, dan Surat Luqman ayat 32 . Di dalam ayat-ayat ini al-ikhlash diformulasikan dengan redaksi kata perintah dalam konteks menjelaskan keadaan dan sifat Nabi dan kaum mukminin. Kedua keadaan tersebut kembali kepada niat dan berbagai implikasinya. Tujuan keikhlasan tidak akan terwujud kecuali dengan menolak kemusyrikan.

Niat juga diungkapkan dengan menggunakan istilah al-iradah. Hal ini dapat dilihat di dalam al-Quran Surat al-Isra’ ayat 19, al-Furqan ayat 62, al-Qoshash ayat 19, al-Baqarah ayat 233 dan 228, Surat Hud ayat 88. Di dalam ayat-ayat tersebut al-iradah diungkapkan dalam makna yang berbeda-beda dalam konteks berbagai macam al-qushud wa al-tasharrufat (tujuan dan perbuatan). Keinginan (iradah) untuk merenugi kekuasaan Allah SWT, rasa menghendaki akhirat dan perbaikan umat dan menunaikan hak-hak wajib baik itu bersifat finansial dan lainnya, semuanya tergantung pada niat dan tujuan. Dengan memformat perbuatan seperti ini menjadikannya bersifat syar’iyah berakibat pada pengaruh (efeknya) dan di bangun di atasnya hukum-hukum yang terkait dengannya.

Niat juga diungkapkan dengan kata al-ibtigo’ (tujuan, sasaran atau target). Misalnya di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 94, at-Tahrim ayat 1, al-Qashash ayat 55, dan Ala ‘Imran ayat 5 dan ayat 85, dan di dalam surat al-Ra’d ayat 22 dan al-Isra’ ayat 28. Di dalam ayat-ayat tersebut al-ibtigo’ muncul sebagai hal () dan sifat (), dalam konteks larangan maupun perintah. Sehubungan dengan ini al-ibtigo’ mengandung makna al-iradah dan al-qashdu. Inilah kemudian menjelaskan bahwa sebab semua perbuatan yang diperintah maupun yang dilarang adalah niat. Perbuatan yang diperintahkan membutuhkan niat, perbuatan yang dilarang pun juga membutuhkan niat.

Pandangan Sunnah Tentang Niat

Niat baik redaksi mapun maknanya muncul pada hadis Nabi. Dalam hadis tersebut Ralullah saw menjadikan niat[3] sebagai salah satu syarat sahnya suatu perbuatan, perbuatan tiada nilainya jika tanpa disertai dengan niat, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab, Nabi bersabda ” Inna maa al-a’maalu bin niyat…..”(perbuatan itu tergantung pada niatnya…….).[4] serta hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra,  Nabi bersabda ” Inna maa yaba’tsu an-naasa ala niyyatihim” (manusia dinilai dengan niatnya”[5] dan masih banyak hadits yang lain yang membicarakan tentang pentingnya niat.

Dalam Lisân al-’Arab dan Mu’jam al-Wasîth, niat adalah bentuk masdar dari kata kerja ”nawâ-yanwî” berati kehendak hati untuk mengerjakan suatu perkara.

نَوَى – يَنْوِيْ نِيَّةً وَ هُوَ عَزْمُ القَلْبِ عَلَى أَمْرٍ مِنَ الأَُمُوْرِ[6]

Dalam Kamus Al Munawwir, berarti maksud hati; hajat; berniat sungguh-sungguh; menjaga; melindungi; berpindah tempat alias hijrah; pergi jauh; menyampaikan; melemparkan.[7] Sedang Dalam Ensiklopedi Al Qur’an diuraikan kata ”an-nawa” pada ayat 95 Q.S. al-An’âm, menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa kenamaan, menjelaskan bahwa an nawa mempunyai dua arti; at-tahawwul min dârin ilâ dârin, dan at-tamar. Dalam istilah sehari-hari an nawa banyak digunakan untuk pengertian maksud atau tujuan. Hasil perubahan arti kata ini menjadi maksud dan tujuan lebih dekat kepada arti pertama karena bepergian ke suatu negeri tertentu tidak terlepas dari tujuannya.

A. Niat Sebagai Syarat Diterimanya Perbuatan

Ada dua syarat yang harus dipenuhi supaya amal perbuatan diterima oleh Allah swt, yang pertama adalah dengan adanya niat yang ikhlas dan benar. Dan yang kedua adalah perbuatan atau pekerjaan tersebut harus nampak jelas, yakni sesuai dengan yang disyariatkan oleh-Nya, bukan bid’ah. Ibnu mas’ud berkata ” Perkataan tidak akan berguna tanpa adanya perbuatan, perkataan dan perbuatan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya niat, dan perkataan perbuatan serta niat tidak akan bermanfaat jika bertentangan dengan Sunnah Rosulullah yang Shohihah.[8]

Keadaan (Mahal) Niat

Konsensus para ulama bahwa tempat niat adalah di hati (al-qalbu). Karena niat yang dimaknai al-qashdu dan al-‘azmu (tujuan dan tekad) untuk melakukan sesuatu perbuatan sumbernya adalah al-qalbu. Inilah inti dari makna hadis innama al-a’malu bi an-niyyat,tidak satu pun di antara para ulama membantahnya.

Silang pendapat justru terjadi pada apakah niat itu harus dilafalkan, apakah pelafalan itu termasuk dalam bingkai hukum syarat atau sunnah. Dengan cara sir atau jahr, dalam semua ibadah atau sebagiannya, atau apakah pelafalan itu termasuk bid’ah atau bukan.

Kemunculan silang pendapat tersebut sangat baru, karena belum dikenal pada masa sahabat dan tabi’in. Memang umumnya para ulama tidak mensyaratkan pelafalan niat, andaikan ada yang berpendapat demikian itu semata-mata muncul dari kalangan muta-akh-khirin fuqaha’ Hanafiyah dan Syafi’iyah. Namun pendapat mereka ini dikoreksi oleh para fuqaha’ yang focus meneliti seputar masalah tersebut.[9]

Tujuan Dari Niat Dalam Ibadah

Tujuan dari niat ibadah ada dua perkara, pertama: membedakan antara ibadah dengan adat (tamyiz al-‘ibadat ‘an al-‘adat), misalnya duduk di masjid untuk istirahat atau I’tikaf, hal ini dapat dibedakan dengan niatnya. Contoh lain: menyerahkan harta apakah akad hibah, hadiyah, atau wadi’ah, atau ditujukan untuk taqarrub (medekatkan diri pada Allah) seperti zakat, sodakah biasa atau sebagai kaffarat. Jika semua ini masih dalam ketidakpastian, maka niat sangat berperan untuk memastikan jenis perbuatan tersebut.

Kedua adalah membedakan antara peringkat ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya (tamyiz mzrztib zl-‘ibadat ba’dhuha min ba’dhin) , misalnya dengan adanya perbedaan ibadah yang wajib, sunnah dan lain-lain yang disyariatkan dalam agama. Antara lain perbuatan shalat ada yang fardhu dan Sunnah, apakah bersifat qadha’ atau ada’.

Niat Yang Ikhlas Dasar Diterimanya Amal

Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan, nafsu, dan keduniaan. Niat itu harus ikhlas karena Allah dalam setiap amal, agar amal itu diterima di sisi Allah. Ibnu Rajab mengemukakan bahwa setiap amal shalih mempunyai dua syarat, yang tidak akan diterima kecuali dengan keduanya; pertama, niat yang ikhlas dan benar. Kedua, sesuai dengan sunnah, mengikuti contoh Nabi SAW.[10]

Dengan syarat pertama, kebenaran batin akan terwujud, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi SAW. “Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung pada niatnya.” Inilah yang menjadi timbangan batin. Dan dengan syarat kedua, kebenaran lahir akan terwujud, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ [11]

Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.

Allah telah menyebutkan dua syarat ini dalam beberapa ayat, di antaranya:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً[12]

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus.

Menyerahkan dirinya kepada Allah artinya, mengikhlaskan amal kepada Allah, mengamalkan dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah. Sedangkan berbuat baik berarti dalam beramal mengikuti apa yang disyariatkan Allah, dan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang haq.[13]

Dua syarat ini, bila salah satunya tidak terpenuhi, maka amal ini tidak sah. Jadi harus ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah, dan benar mengikuti petunjuk Nabi SAW. Lahirnya ittiba’, dan batinnya ikhlas. Bila salah satu syarat ini hilang, maka amal itu akan rusak. Bila hilang keikhlasan, maka orang itu akan jadi munafik dan riya’ kepada manusia. Sedangkan bila hilang ittiba’, artinya tidak mengikuti contoh Nabi SAW maka orang itu sesat dan bodoh (jahil).[14]

Dari uraian di atas, jelaslah betapa pentingnya peran niat dalam amal. Niat itu harus ikhlas, tetapi ikhlas semata tidak cukup menjamin diterimanya amal, selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat dan dibenarkan Sunnah. Sebagaimana tidak akan diterimanya amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat, selagi tidak disertai dengan ikhlas; sama sekali tidak ada bobotnya dalam timbangan amal.

B.     Waktu Niat dan Tempatnya

Menukil kesepakatan ulama, Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa waktu niat itu di awal melakukan ibadah atau perbuatan. Niat tempatnya di hati, bukan diucapkan dengan lisan. Bila yang diucapkan lisan seseorang berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka yang diperhitungkan ialah yang diniatkan, bukan yang dilafalkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, sedangkan niat belum sampai ke dalam hatinya, maka hal itu tidak cukup. Demikian menurut kesepakatan para imam kaum Muslimin, karena sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang pasti.[15] Orang Arab biasa mengatakan:

نَوَاكَ اللهُ بِخَيْرٍ

(Allah menunjukkan kepada kamu kebaikan)

Talafudz (melafalkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW, juga tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun, baik melalui periwayatan yang shahih, dhaif, maupun mursal. Tidak seorangpun sahabat yang meriwayatkan, dan tidak ada seorang tabi’in pun yang menganggap baik masalah ini, dan tidak pula dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang mashur.

C.     Kaidah-kaidah Niat

عَنْ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّياَتِ وَ إِنَّماَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ[16]

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan balasan sebagaimana niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan.”

Tidak diragukan lagi, niat itu merupakan neraca bagi sahnya suatu perbuatan. Niat merupakan kehendak yang pasti, sekalipun tidak disertai dengan amal. Maka dari itu, kadang-kadang kehendak ini merupakan niat yang baik lagi terpuji, dan kadang merupakan niat yang buruk lagi tercela. Hal ini tergantung dari apa yang diniatkan, dan juga tergantung kepada pendorong dan pemicunya; apakah untuk dunia ataukah untuk akhirat? Apakah untuk mencari keridhaan Allah, ataukah untuk mencari keridhaan manusia? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

…ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ…[17]

(…kemudian mereka dibangkitkan menurut niat mereka…)

Karena peranan niat dalam mengarahkan amal menentukan bentuk dan bobotnya, maka para ulama menyimpulkan banyak kaidah fiqh yang diambil dari hadits ini, yang merupakan kaidah yang luas. Kaidah umum dari hadist di atas adalah yang berbunyi :

الأمـور بمقـاصدها

(Segala perkara tergantung dari tujuan niatnya)

Setiap amal perbuatan, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama makhluk, nilainya ditentukan oleh niat serta tujuan dilakukannya. Dalam perbuatan ibadah misalnya, niat karena dan untuk Allah adalah merupakan inti yang menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah, di samping merupakan pembeda tingkatan suatu ibadah, apakah ibadah fardu, sunat, atau mubah, juga dapat merupakan pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain dan anatara ibadah dan bukan ibadah atau amal kebiasaan.

Sedangkan dalam perbuatan yang hubungannya dengan makhluk, seperti mu’amalah, munakahat, jinayah dan sebagainya, niat adalah merupakan penentu; apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah atau sebaliknya tidak bermuatan ibadah. Dalam amal kemasyarakatan dapat diketahui dengan tanda-tanda, petunjuk-petunjuk (qarînah) yang ada, apakah perbuatan tersebut karena Allah atau karena manusia.

Niat di samping sebagai alat penilai perbuatan, juga dapat merupakan ibadah tersendiri seperti dapat dipahami dari hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrânî dari Sahl ibn Sa’d :

نية المؤمن خير من عمله

(Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya (yang tanpa niat)

Dari kaidah umum di atas, para ulama menderivasinya menjadi banyak kaidah-kaidah turunannya, yaitu sebagai berikut :

1.       إن المنوي من العمل إما أن يكون عبادة محضة لا يلتبس بالعادات، وإما أن يكون جنسه مما يشبه العادات[18]

(Niat perbuatan sebagai ibadah mahdhah dan jenis ibadah yang menyerupai adat kebiasaan, tidak boleh dicampuradukkan dengan adat kebiasaan)

Terkait dengan statemen kaidah di atas, maka niat disyariatkan untuk beberapa hal berikut :

Pertama, untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Misalnya seseorang yang memerdekakan seorang hamba, apakah ia niatkan untuk membayar kafarah (tebusan), ataukah ia niatkan untuk nadzar, atau yang lainnya? Atau seseorang mengerjakan shalat 4 rakaat; apakah diniatkan shalat dhuhur, shalat sunnat atau shalat Ashar? yang membedakannya adalah niatnya. Jadi yang penting, untuk membedakan dua ibadah yang sama adalah niat.

Kedua, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat). Misalnya duduk di masjid; apakah duduk istirahat, apakah untuk i’tikaf, Menafkahkan harta dapat dikategorikan sebagai nafkah wajib, hadiah atau tali asih, dan bisa juga sebagai zakat wajib atau sedekah sunat. Begitu juga dengan penyembelihan hewan yang dapat dikategorikan sebagai kurban, sembelihan, pesta, atau jamuan untuk para tamu, kesemuanya sangat bergantung pada niatnya. Yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan adalah niat.[19]

2.       القربات التي لا لبس فيها لا تحتاج إلى نية الإضافة لله تعالى[20]

(al-Qurbat (perbuatan-perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah) yang tidak ada kekacauan dan kesamarann di dalamnya tidak membutuhkan adanya niat khusus)

Seperti iman kepada Allah dan mengagungkan-Nya, takut akan siksanya, harap akan pahala yang diberikan-Nya, tawakkal atas anugerah-Nya, melakukan tasbih dan tahlil untuk-Nya, membaca al-Qur’an dan semua jenis zikir lainnya yang berorientasi pada al-qurbat. Perbuatan-perbuatan tersebut tidak membutuhkan niat-niat pengkhususan, karena karakter dari perbuatan-perbuatan tersebut hanya dapat ditujukan kepada Allah SWT. Selain Allah tidak berhak atas perbuatan qurbat tersebut, sehingga seseorang tidak harus berniat untuk melakukan tasbih, zikir atau menyembah Allah. Akan tetapi amalan-amalan ini membutuhkan niyat al-qashd dan iradati wajhullah, sehingga sebagai bagian dari ibadah, amalan-amalan ini perlu dibarengi dengan niyat ikhlas, al-mahabbah dan ta’zim kepada Allah, mengharapkan pahala dari-Nya, takut akan siksa-Nya, maka niyat ini menjadi keharusan yang ditentukan. Jika seseorang melakukan amalan qurbat semacam ini, dia dalam keadaan lupa, atau terucap di lisannya sedang ia tidur, atau terucap dari lisan seorang gila atau mabuk, semua ucapan dalam keadaan tadi bukan ibadah. Demikian pula kalau seseorang ingin dilihat dalam perbuatannya atau menuntut pujian dan sanjungan, maka dalam keadaan seperti ini pahalnya menjadi berkurang, sejalan dengan berkurangnya keikhlasan mereka.

.


[1] Ibn Qayyim al-Jauziyah, I’lam al-Muwaq-qi’in, hal: III/123 dengan judul an-niyyat ruh al-‘amal wa lubbuhu”.

[2] liaht Al-asybah wa an-nadhoir oleh Ibnu Nujaim al-mishro al-hanafy hal 34.

[3] Redaksi Arab dari hadis akan menyusul:…………lihat Bukhari Juz VII, hal: 231bab 23.

[4] HR. Bukhori 1, Muslim 1908 dan di didalam kutubus sittah dan al-Muwatta’

[5] HR. Baihaqi dalam Syi’bil Iman dan lainnya mengatkan ini Dhoif, lihat pula dalam kitab Fathul Baari 1/11

[6] Ibn Manzhur, Lisanul ‘Arab, (Beirut: Daar Ihya at Turats al-‘Arabi), 14 : 343; Mu’jam al-Wasith, 2 : 965.

[7] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Munawwir Arab Indonesia, cet. XIV (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997).

[8] Jamiul ulum wal hukmi fi syarhi khomsina haditsan min jawamiil kalim oleh Ibnu Rojab al-Hambali ra, hal; 9

[9] Lihat misalnya al-Muhazzab karya ……………………………

[10] Lihat Ibnu Rajab, Jâmi’ al-’Ulûm wa al-Hikam, tahqiq oleh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, (Mu’assassah ar-Risalah, 1419H), h. 12.

[11] (Hadist riwayat Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan Ibnu Majah no. 14 dari hadits Aisyah) dalam Al-Kutub at-Tis’ah, (Syirkah ash-Shahr li Barâmij al-Hâsib, 1996).

[12] Q.S. An Nisa’ : 125.

[13] Ibnu Rajab, Jâmi’ al-’Ulûm…, hal. 13.

[14] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azîm, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1992), I : 616.

[15] Syaikh al-Islâm Ibn Taimiyyah, Majmû’ Fatâwâ, Juz XXVI : 21-24.

[16] Hadist ini di riwayatkan oleh Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyu no. 1, dalam Kitabul Iman no. 54, ada beberapa tempat dalam Shahih-nya, seperti kitab Al-‘Itq, dan lainnya; Muslim, Kitabul Imarah, Bab Innamal A’malu bin Niyyat, no. 1907; Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitabut Thalaq, Bab Fi Ma ‘Uniya Bihi at Thalaq wan Niyat, no. 2201; At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Fadha-ilul Jihad, Bab Man Ja’a fi Man Yuqatilu Riya’an Wa liddunya, no. 1647; An Nasa-i dalam Sunan-nya, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Niyyah fil Wudhu’ no. 59-60; Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab An-Niyyah, no. 4227 dan sebagainya. Selengkapnya lihat Al-Kutub at-Tis’ah, (Syirkah ash-Shahr li Barâmij al-Hâsib, 1996).

[18] Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân,  AL-Qawâid al-Fiqhiyyah…, hal. 54.

[19] Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân,  AL-Qawâid al-Fiqhiyyah…, hal. 54; Lihat juga Imam Nawawi, Syarah Arba’in, hal. 8; Abul Abbas Kholid Syamhudi, “Peran Niat Dalam Amal” dalam http://muslim.or.id/artikel/fiqh-dan-muamalah/peran-niat-dalam-amal-2.html, acessed on 18 Maret 2008.

[20]Al-Qurofi,  Al-Amniyah fi idraki al-niyah, hal: 5, al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Naza’ir, hal: 12.

Pengantar Manajemen

Posted: 23/10/2010 in Uncategorized

BAB I

KOMPETENSI :

1        Menjelaskan Pengertian, Fungsi, Proses dan Peran dalam Manajemen

2        Menjelaskan Manajemen Sebagai Ilmu

3        Menjelaskan Manajemen Sebagai Seni

4        Menjelaskan Manajemen Sebagai Profesi

5        Menjelaskan Efisiensi & Efektifitas

6        Menjelaskan Keahlian (Skill) dan Peran (Roles) dari seorang Manajer.

1.1    Manajemen Sebagai Ilmu (1)

Luther Gullick mendefinisikan manajemen sebagai suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat sistem kerjasama ini bermanfaat bagi kemanusiaan. Manajemen memerlukan disiplin ilmu pengetahuan lain dalam penerapannya misal ilmu ekonomi, statistik, akuntansi dan sebagainya.

1.2    Manajemen Sebagai Seni (2)

Management is the art of securing maximum result with minimum of efforts as to secure maximum prosperity and happiness for both employer and employee and give the public the best possible services.

Management adalah seni untuk mencapai hasil yang maksimal dengan usaha yang minimal, demikian pula mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan maksimal bagi pimpinan maupun pekerja serta memberikan pelayanan yang sebagaik mungkin kepada masyarakat.

Manajemen sebagai suatu seni mempunyai ciri-ciri :

1        Kesuksesan dalam mencapai tujuan sangat dipengaruhi dan didukung oleh sifat-sifat dan bakat para manajer

2        Dalam proses pencapaian tujuan seringkali melibatkan unsur naluri (instinct), perasaan dan intelektual

3        Dalam pelaksanaan kegiatan faktor yang cukup yang menentukan keberhasilannya adalah kekuatan pribadi (character) kreatif yang dimiliki

1.3    Pengertian Manajemen (3)

1.3.1    Manajemen Sebagai Proses Kegiatan

Management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating, controlling, utilizing in each both science and art and follow in order to accomplish predetermined objectives.

Management adalah proses yang khas terdiri dari tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dimana dalam masing-masing bidang tersebut digunakan ilmu pengetahuan & keahlian yang diikuti secara berurutan dalam usaha mencapai sasaran & tujuan yang telah ditetapkan.
1.3.2    Pengertian Manajemen

Management will be defined as the application of planning, organizing, staffing, directing, and controlling functions in the most efficient manner possible to accomplish objectives.

Management didefinisikan sebagai penggunaan perencanaan, pengorganisasian, pengerjaan, pengarahan, dan pengendalian dengan cara yang paling efisien untuk mencapai tujuan.

1.4    Manajemen sebagai Profesi (4)

Manajemen sebagai Profesi merupakan suatu bidang pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian dan ketrampilan sebagai kader, pemimpin atau “manajer” pada suatu organisasi / perusahaan tertentu.

Profesi “manajer” merupakan sebuah profesi atau jabatan spesifik dan “prestigious” sebagai “decision maker” yang dapat menentukan berkembangnya suatu organisasi / perusahaan dimasa mendatang.

1.5    Manajemen

Manajemen adalah proses pengkoordinasian berbagai aktifitas pekerjaan dan pengalokasian sumber daya 6M, melalui bantuan dan kerjasama dengan orang lain sehingga pekerjaan tersebut dapat terselesaikan secara efisien dan efektif.

Efisien adalah memperoleh output terbesar dengan input yang terkecil, digambarkan sebagai “melakukan segala sesuatu secara benar / doing things right”.

Efektif adalah menyelesaikan kegiatan-kegiatan sehingga sasaran organisasi dapat tercapai, digambarkan sebagai melakukan sesuatu yang benar / doing the right things”.

Mengapa Mempelajari Manajemen ???

1        Keuniversalan Manajemen

Kenyataan bahwa manajemen dibutuhkan pada segala jenis dan ukuran organisasi, pada semua tingkat organisasi, pada semua bidang organisasi dan pada organisasi di semua negara diseluruh dunia.

2        Realitas pilihan pekerjaan

3        Imbalan dan tantangan sebagai seorang manajer

4        Lingkup manajemen

5        Paradigma manajemen

1.6    Fungsi Dan Proses Manajemen

1.6.1    Fungsi Manajemen

Menurut Stephen P Robbin (1993) fungsi manajemen antara lain meliputi aktifitas merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing), memimpin (leading) dan mengendalikan (controlling) aktifitas bisnis dari suatu organisasi / perusahaan. Planning Organizing Leading Controlling

1.6.2    Proses Manajemen

Proses Manajemen yaitu serangkaian keputusan dan kegiatan kerja yang sedang terjadi yang dialami oleh para manajer sewaktu mereka merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan.

Peran Manajer adalah terjun langsung dalam berbagai aktifitas operasional suatu organisasi perusahaan.

1.7    Peran (Roles) Manajemen

1        Interpersonal Roles adalah Peran manajerial yang melibatkan hubungan dengan pihak lain dan tugas yang bersifat seremonial atau simbolis.

2        Informational Roles adalah peran manajerial yang meliputi menerima, mengumpulkan, dan menyebarkan informasi kepada seluruh anggota organisasi.

3        Decisional Roles adalah peran manajerial yang berkisar seputar membuat pilihan dalam pemngambilan keputusan terhadap suatu permasalahan.

1.8    Keahlian (Skill) Manajemen

1        Technical Skill adalah pengetahuan dan kemahiran dibidang spesialisasi tertentu.

2        Human Skill adalah kemampuan bekerja secara baik dengan orang lain secara individual atau dalam kelompok

3        Conceptual Skill adalah kemampuan berfikir dan konseptualisasi tentang situasi yang abstrak dan rumit

Who is the Manager ?!

Siapakah manajer ?

Manajer adalah seorang yang bekerja dengan memanfaatkan bantuan orang lain dengan cara mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan dan pekerjaan mereka guna mencapai sasaran (objectives) dan tujuan (goals) dari suatu organisasi/perusahan.
Apa goals perusahaan? (P,CS,S)

JENJANG TINGKATAN MANAJERIAL
KEAHLIAN YANG DIBUTUHKAN PADA TINGKAT MANAJEMEN YANG BERBEDA-BEDA
Tujuan Perusahaan

Tujuan “goals” dari suatu organisasi / perusahaan dapat dibedakan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu :

1        Sasaran (objectives) yaitu merupakan hasil yang diinginkan atau target yang akan dicapai pada periode waktu tertentu.

2        Tujuan (goals) merupakan petunjuk umum yang dinyatakan secara luas tentang apa saja yang akan dicapai oleh perusahaan.

Secara umum “sasaran” dan “tujuan” dari suatu perusahaan dalam menjalankan aktifitas bisnisnya adalah Profit oriented, Customer Satisfaction dan Sustainability (going concern).

Sumber Daya (6M)

Dari pengertian yang telah dikemukakan diatas, nampak seakan-akan satu-satunya alat atau sarana manajemen untuk mencapai tujuan adalah pemanfaatan “orang” atau “sumber daya manusia” saja. Hal ini jelas kurang “relevan” sebab dalam mencapai tujuan bisnis dari suatu organisasi / perusahaan juga diperlukan sumber daya lain yaitu : Man, Money, Material, Machine, Method and Market, atau yang dikenal dengan istilah : 6M.
Quiz Bab I

1        Jelaskan pengertian “manajemen” sebagai suatu bidang ilmu, seni, proses dan profesi dalam mengelola suatu organisasi perusahaan ?!

2        Dalam “Manajemen” dikenal adanya prinsip “Efisiensi” dan “Efektifitas” Jelaskan mengenai hal tersebut !

3        Uraikan hal-hal yang berkaitan dengan “fungsi” manajemen !

4        Jelaskan beberapa “peran” (roles) dan “keahlian” (skills) yang harus dimiliki oleh seorang manajer.

5        Jelaskan alasan anda mengapa kita perlu mempelajari ilmu manajemen?!

BAB II
SEJARAH PEMIKIRAN & PERKEMBANGAN TEORI DI BIDANG MANAJEMEN

KOMPETENSI :

1        Menjelaskan Teori Manajemen Ilmiah

2        Menjelaskan Teori Organisasi Klasik

3        Menjelaskan Teori Hubungan Antar Manusia

4        Menjelaskan Teori Behavior Science

5        Menjelaskan Teori Aliran Kuantitatif

6 Menjelaskan Evolusi Pemikiran dan Aplikasinya

2.1 Teori Manajemen Ilmiah

Beberapa variabel yang diperhatikan dalam “Manajemen Ilmiah” antara lain :

1        Pentingnya Peranan Manajer dalam menggerakan dan meningkatkan produktifitas perusahaan.

2 Menetapkan persyaratan tertentu dalam pengangkatan dan pemanfaatan SDM
Memperhatikan kesejahteraan karyawan

Tokoh-Tokoh Perintis Manajemen Ilmiah :

1        Robert Owen (1771-1858)

2        Charles Babbage (1793-1971)

3        Frederick W Taylor (1856-1915)

4        Henry L Gantt (1861-1919)

5        Frank B & Lillian Gilbert (1868-1924)

6        Herrington Emerson (1853-1931)

Robert Owen (1771-1858)

Robert Owen adalah seorang Manajer Pabrik pemintalan kapas di New Landmark Scotland.

Latar Belakang      : Kondisi lingkungan kerja, ketentuan persyaratan kerja dan taraf hidup pekerja yang buruk

Ide & Gagasan :

1        SDM merupakan kunci keberhasilan perusahaan (oleh karena itu perusahaan harus memperlakukan karyawan lebih manusiawi)

2        Memperbaiki kondisi dan persyaratan kerja seperti :

3        Pengurangan standar jam kerja dari 13 jam menjadi 10 jam,

4        Tidak mempekerjakan anak dibawah umur dengan pembatasan usia pekerja minimal berusia 10 tahun.

5        Pembukaan toko-toko (semacam koperasi karyawan) di lingkungan perusahaan untuk memberikan pelayanan kebutuhan para karyawan dengan harga yang lebih murah.

6        Pelopor yang merumuskan prosedur kerja standar (Standard Operating Procedures) untuk meningkatkan “produktifitas kerja para karyawan.

Charles Babbage (1793-1871)

Charles Babbage adalah seorang Profesor dibidang matematika dari Cambridge University England.
Tahun 1832 menulis buku The Economic Of Manufacturer, yang menekankan pada pentingnya effisiensi biaya dan spesialisasi pekerjaan kepada para karyawan.

Ide & Gagasan :

4        Merumuskan cara kerja yang paling effisien dan dapat meminimalisasi pengeluaran biaya (cost reduction).

5        Menganjurkan melaksanakan pembagian spesialisasi pekerjaan pada para karyawan, sehingga setiap karyawan akan diarahkan dan dididik dengan suatu ketrampilan (skill) khusus / tertentu dan kelak karyawan tersebut akan diserahi tugas, tanggung jawab & pekerjaan yang sesuai dengan ketrampilan dan spesialisasinya.

Frederrick W Taylor (1856-1915)

Frederick Winslow Taylor, Manajer produksi pada Midvale Steel Amerika Serikat, dianggap sebagai “Bapak Management Science”, ia adalah orang pertama yang mengemukakan ide dan gagasan mengenai studi tentang waktu kerja (Time & Motion Studies).

Ide & Gagasan :

1        Sistem Upah Differensial (Differential Rate System) yaitu metode pengupahan yang berdasarkan pada kecepatan dan produktifitas kerja karyawan.

Taylor menyatakan bahwa antara waktu penyelesaian pekerjaan dapat dikorelasikan dengan upah yang akan diterimakan, semakin cepat dan tinggi prestasi dalam menyelesaikan pekerjaan maka akan semakin tinggi pula upah yang akan diterima karyawan.

Untuk mencapai hal tersebut maka dilakukan penelitian “time & motions studies” terhadap karyawan yang berprestasi untuk dijadikan standar operating prosedur bidang pekerjaan tertentu.

Henry L Gantt (1861-1919)

Henry L Gantt adalah rekan kerja Taylor pada perusahaan Midvale Steel USA, Gantt juga mengemukakan teori yang sejalan dengan ide dan gagasan Taylor yang berfokus pada upaya peningkatan produktifitas, effisiensi dan effektifitas kerja dengan rangsangan upah dan intensif untuk karyawan.

Ide Gagasan :

2        Menciptakan Gantt Charts yaitu suatu bagan yang disusun sebagai alat untuk membandingkan antara pelaksanaan suatu pekerjaan / produksi dengan standard dan tujuan yang telah ditetapkan.

3        Menolak teori Taylor tentang sistem upah differensial, menurut gagasan Gantt setiap pekerja yang mampu mencapai target output sesuai dengan standard yang telah ditetapkan, maka berhak diberikan “bonus”.

4        Mengembangkan gagasan Owen dengan membuat metode penilaian dan pencatatan hasil prestasi kerja karyawan dalam suatu kartu prestasi pribadi karyawan. (Tanda check mark hitam jika berhasil memenuhi standar, dan warna merah jika gagal memenuhi standar kerja yang telah ditetapkan.

Frank B & Lillian Gilbert (1868-1924)

Frank B & Lillian Gilbert adalah sepasang suami istri merupakan murid dari Taylor yang melakukan pengembangan penelitian tentang studi gerak (motion study).

Ide Gagasan :

1        Meneliti tentang hubungan antara gerakan dan kelelahan dalam pekerjaan, menurutnya antara gerakan dan kelelahan saling berkaitan, Sehingga perlu dibakukan alur urutan gerakan dan aktifitas kerja yang efektif dan effisien untuk mengurangi kelelahan dan mempercepat proses penyelesaian pekerjaan.

2        Mengemukakan ide Program Pengembangan Karyawan yang lebih ditekankan kepada keterlibatan aktif dari obyek pelaku / karyawan itu sendiri artinya setiap karyawan diberikan kesempatan untuk melatih dan mengembangkan diri sesuai dengan ketrampilan dan kemampuan masing-msaing individu.

Herington Emerson (1853-1931)

Herington mengamati bahwa “penyakit” akut yang biasa menggangu kelancaran sistem manajemen didalam suatu industri adalah adanya “pemborosan” dan “in effisiensi”.

Oleh karena itu Herington mencetuskan ide yang terformulasikan dalam 12 prinsip sebagai berikut :

1        Perumusan Tujuan Perusahaan (Goal) secara Jelas

2        Kegiatan yg dilaksanakan harus terencana & masuk akal

3        Tersediaanya Staff yang Cakap & Handal

4        Terciptanya disiplin dalam bekerja

5        Pemberian Jasa / Balas Jasa yang adil dan transparan

6        Pelaporan yg tepat, akurat, cepat dan kontinue (Sistem Informasi dan Sistem Akuntansi)

7        Pemberian Instruksi, Perencanaan & Urutan Kerja

8        Ditetapkannya Standar Waktu, metode kerja dan skedul

9        Ditetapkan Standar Kondisi

10    Ditetapkan Standar Operasi (SOP)

11    Disusun Standar Instruksi Tertulis yang Praktis

12    Disusun Standar Penetapan Balas Jasa, Kompensasi & Isentif

Sumbangan Teori Manajemen Ilmiah

Sumbangan teori manajemen ilmiah diakui banyak memberikan kontribusi dan peningkatan dalam beberapa hal sbb :

1        Produktifitas Kerja

2        Effisiensi Kerja

3        Spesialisasi Pekerjaan

Berbagai teknik effisiensi manajemen misal : studi gerak dan waktu (time & motion study), adanya suatu rancangan sistem kerja yang terstruktur (work desain), Teknik Pencatatan terhadap Prestasi Kinerja (Gantt Charts).

Keterbatasan Teori Manajemen Ilmiah

Dalam pengaplikasian teori manajemen ilmiah kadang justru berdampak merugikan bagi kelancaran sistem manajemen itu sendiri, misalnya :

1        Upaya peningkatan “produktifitas” dengan cara menerapkan teknologi baru dalam prakteknya akan mengurangi skala penggunaan tenaga kerja, dan menyebabkan karyawan menjadi stress dan frustrasi karena peranan serta kedudukannya digantikan oleh mesin & komputer.

2        Tenaga kerja SDM sebagai salah satu faktor produksi kurang mendapatkan perhatian dalam hal pemenuhan keutuhan sosial & personalitynya. Artinya “upah” yang tinggi tanpa diimbangi dengan suasana dan lingkungan kerja yang kondusif & menyenangkan tidak akan mampu “memuaskan” dan membuat karyawan betah bertahan disuatu perusahaan.

2.2 TEORI ORGANISASI KLASIK

Tokoh utama penggagas teori organisasi klasik dipelopori oleh : Henry Fayol dan James D Mooney.

Henry Fayol adalah seorang insinyur (pertambangan) yang menjabat sebagai direktur pada perusahaan pertambangan logam “Commantry Fourchambault & Co” di Perancis.

James D Mooney adalah seorang ekonom yang mengemukakan beberapa ide dan gagasan tentang prinsip & kaidah manajemen.

Henry Fayol

Teori Organisasi pada aliran manajemen klasik yang dipelopori (FAYOL) mengklasifikasikan bagian-bagian tugas manajemen yang terdiri atas :

1        Technical

2        Commercial

3        Financial

4        Security

5        Akuntansi

6        Manajerial

Tugas Manajemen menurut teori organisasi klasik :

1        Technical, merupakan kegiatan memproduksi dan membuat suatu produk tertentu.

2        Commercial, merupakan kegiatan membeli bahan-bahan (material) yang dibutuhkan dan menjual barang (product) hasil produksi.

3        Financial, kegiatan pembelanjaan, yakni meliputi kegiatan mencari modal dan bagaimana menggunakan modal tersebut.

4        Security, kegiatan yang dilakukan untuk menjaga keamanan (keselamatan kerja & harta benda yang dimiliki oleh perusahaan).

5        Accounting, meliputi kegiatan pencatatan, penghitungan, kalkulasi biaya, menyusun laporan keuangan (neraca, rugi laba) dan mengumpulkan data-data statistik lainnya.

6        Managerial, tugas-tugas manajerial ini sering diintrodusir sebagai fungsi manajemen/manajer yaitu meliputi Planning, Organizing (staffing), Coordinating, Commanding (leading), Controlling.

Fungsi & Tugas Manajemen / Manajer :

1        Planning, merupakan kegiatan perencanaan segala langkah dan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan.

2        Organizing, Berarti aktifitas mengorganisasikan, termasuk juga penentuan staf (staffing) sumber daya yang dimiliki terutama SDM untuk melaksanakan rencana yang telah disusun

3        Coordinating, AKtifitas mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang direncanakan agar pekerjaan dapat berjalan secara tertib, lancar, serasi dan terpadu.

4        Directing, Kegiatan memberikan pengarahan bagi karyawan agar bersedia melaksanakan tugas dan pekerjaan yang diberikan dengan penuh disiplin dan tanggung jawab.

5        Commanding, Kegiatan memimpin (leading) dengan memberikan instruksi perintah dan memotivasi para bawahan

6        Controlling, Mengendalikan seluruh aktifitas kegiatan agar dapat berjalan dengan tertib, lancar dan mamu mencapai tujuan seperti yang telah direncanakan.

Asas-asas Umum Manajemen

Henry Fayol mengemukanan 14 asas umum dalam manajemen, sebagai berikut :

1        Devision of work (pembagian kerja)

2        Authority & Responsibility (Wewenag & Tgg Jawab)

3        Discipline

4        Unity of Command (Kesatuan Perintah)

5        Unity of Direction (Kesatuan Arah)

6        Subordination of individual interest into general interest

7        Renumerartion of Personnel

8        Contrllization

9        Scalar of Chain

10    Order (Asas Keteraturan)

11    Equity (Asasa Keadilan)

12    Stability of Tenur of Personell

13    Initiative

14    Sprites de Corps

James D Mooney

Kaidah Organisasi Manajemen

Menurut James D Mooney kaidah-kaidah yang diperlukan dalam menetapkan organisasi manajemen antara lain :

1        Koordinasi, yaitu kaidah yang menghendaki adanya wewenang, saling melayani, perumusan tujuan dan kedisiplinan yang tinggi.

2        Prinsip Skalar, Prinsip yang mendefinisikan hubungan kepemimpian, pendelegasian dan hubungan antar fungsi tertentu.

3        Prinsip Fungsional, prinsip yang mendefnisikan berbagai macam tugas yang harus diselesaikan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

4        Prinsip Staff, yaitu prinsip yang membedakan posisi jabatan, wewenang dan tanggung jawab dari masing2 personell dalam suatu organisasi perusahaan.

2.3 Teori Hubungan Antar Manusia (1930-1950)

Pendekatan yang dilakukan dalam “Teori Hubungan Antar Manusia” menitik beratkan pada pendekatan psicologis terhadap para bawahan, yakni dengan mengetahui perilaku individu dari para karyawan dan perilaku kelompok karyawan sebagai suatu “human relation groups” yang berperan dalam meningkatkan produktifitas kerja.

Tokoh utama penggagas teori hubungan antar manusia antara lain adalah Marry Parker Foller & Elton Mayo.

1 Marry Parker Foller

Mengemukakan bahwa kita sebaiknya membentuk suatu kelompok kerja yang dapat bekerja sama dan membentuk organisasi yang menitik beratkan hubungan antar manusia dengan memperhatikan faktor motivasional dari masing-masing individu & kelompok tersebut.

2 Elton Mayo

Menurut Elton Mayo yang meneliti hubungan antara faktor-faktor fiskal, moneter dan sosial terhadap produktifitas kerja menjelaskan bahwa : Faktor fiskal & moneter bukan merupakan determinant tunggal dari produktifitas, sebab manusia bukanlah mahluk ekonoteknikal namun merupakan suatu dimensi rasioemosional, oleh karena itu kelompok sosial akan sangat berpengaruh terhadap perilaku dan produktifitas kerja karyawan.

Dengan demikian rekomendasi umum dari Teori Hubungan Antar Manusia adalah bahwa organisasi merupakan suatu sistem sosial dan harus memperhatikan kebutuhan sosial & psicologis dari para karyawan agar dapat mencapai tingkat produktifitas seperti yang diharapkan.

2.4 Teori Behavioral Science

Teori Behavioral Science ini ditandai dengan munculnya pandangan dan pemikiran baru mengenai :

1        Perilaku Individu / perseorangan

2        Perilaku kelompok sosial

3        Perilaku Organisasi
Beberapa tokoh penganut teori Behavioral Science antara lain :

1        Abraham Maslow

2        Douglas Mc Gregor

3        Frederrick Herzberg

4        Robert Blake & Jane Moulton

5        Rensis Likert

6        Fred Fieldler

Para TokohPerintis Teori behavioral Science :

1        Abraham Maslow, mengembangkan adanya “Hierarkhi Kebutuhan” dalam menjelaskan hubungan antara perilaku dan motivasi dari masing2 individu.

2        Douglas Mc Gregor, Pencetus Teori X dan Y

3        Frederick Herzberg, Teori motivasi higienis dan teori dua faktor

4        Robert Blake & Jane Mouton, membahas lima gaya kepemimpinan dengan kondisi manajerial (managerial grids)

5        Rensis Likert, Meneliti tentang 4 sistem dalam manajemen

6        Fred Fieldler, menyarankan pendekatan contingency dalam studi kepemimpinan.

7        Stressing Point
Teori behavioral Science :

1        Unsur manusia (SDM) merupakan faktor kunsi penentu kesuksesan pencapaian tujuan organisasi perusahaan.

2        Organisasi perusahaan harus menciptakan iklim kerja yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk dapat memuaskan kebutuhan psicologis mereka, sebagai mahkluk sosial.

3        Komitmen organisasi dapat dikembangkan melalui partisipasi dan keterlibatan dari seluruh karyawan.

2.5 Evolusi Pemikiran Manajemen dan Aplikasinya

Perkembangan Teori Pemikiran Manajemen sejak semula tumbuh dan berkembang dilandasi oleh kondisi lingkungan yang melatarbelakanginya. Dalam situasi, kondisi dan latar belakang serta perkembangan zaman yang sedemikian pesat dan dinamis teori dan pemikiran manajemen akan terus mengalami perkembangan menyesuaikan diri dengan perubahan lingungannya.

Oleh karena itu penerapan dan aplikasi teori pemikiran manajemen pada dimensi waktu dan tempat yang berbeda dilakukan secara lintas sektoral diantara teori-teori yang ada menuju suatu konsep manajemen yang integrated, adaptif bersifat salaing melengkapi dan menyempurnakan.

QUIZ RESPONSI

1        Jelaskan apa saja sumbang saran dan Keterbatasan yang dikemukanan para ahli Teori Manajemen Ilmiah ?

2        Sebutkan Tokoh2 Pelopor Teori Manajemen Ilmiah berserta Ide dan Gagasan yang dikemukakan !

3        Jelaskan Fungsi dan Tugas Manajemen / Manajer berdasarkan Teori Organisasi Klasik !

4        Sebutkan dan uraikan 14 (empat belas) Asas Umum Manajemen yang dikemukanan oleh Henry Fayol ?!

5        Jelaskan Teknik Pendekatan yang digunakan dalam Teori Manajemen berbasis Hubungan ANtar Manusia?

6        Apakah sajakah Ide & Gagasan pemikiran dari Marry parker Foller & Elton Mayo terkait dengan Teori Hubungan ANtar Manusia tersebut !

7        Siapa sajakah para tokoh dan perintis Teori Behavioral Science, Sebutkan Ide dan Gagasan pemikiran mereka !

8        Apakah yang menjadi Streesing Point dari Pemikiran Teori Behavioral Science tersebut?

9        Bagaimanakah cara kita dalam mengadopsi dan mengaplikasikan berbagai teori manajemen diatas dalam kondisi dan situasi sekarang? Apakah teori yang ada masih relevan dan bermanfaat?

BAB III
ANALISIS LINGKUNGAN DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

3.1  Pengaruh Lingkungan Eksternal

Seorang Manajer suatu perusahaan sebaiknya tidak hanya memusatkan perhatiannya pada lingkungan internal organisasi, tetapi juga harus menyadari pentingnya pengaruh lingkungan eksternal terhadap perusahaan yang dikelolanya.

Manajer harus mampu mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, mendiagnosis dan bereaksi terhadap perubahan lingkungan baik berupa peluang/kesempatan, risiko, ancaman, hambatan yang berpengaruh terhadap aktifitas operasional perusahaan. (Analisis SWOT).

3.2  Kondisi Lingkungan Eksternal

Dinamika perkembangan lingkungan eksternal perusahaan bergejolak dan berubah sangat cepat dan dinamis, terkadang dampaknya terhadap aktifitas dan kinerja perusahaan tidak dapat diprediksikan terlebih dahulu.

Contoh : Perkembangan teknologi dibidang Teknologi Informasi & Komunikasi membuat dunia serasa semakin sempit, dan gejolak yang terjadi diluar akan berpengauh secara global terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

3.3  Gejolak Lingkungan Eksternal

1        Kondisi perekonomian dunia yang berfluktuasi naik turun, krisis US berimabas menjadi krisis Global

2        Inovasi teknologi disegala bidang berakibat bermunculan produk-produk baru (PLC semakin Pendek – Out Of Date)

3        Perubahan Life Style & Selera Konsumen

4        Peraturan Pemerintah UU, Sektor Riil, Fiskal, Moneter, Exim yang selalu direvisi berubah-ubah.

5        Himpitan dan tuntutan memasuki era globalisasi (investasi, produksi, marketing, SDM)

3.4  Faktor Eksternal

Yang perlu diperhatikan oleh manajer :

1        Kondisi Persaingan dengan perusahaan Lain dalam Industri Sejenis (Ciptakan Barier to Entry melalui : Strategy Konglomerasi, Integrasi Vertical, Monopoli)

2        Posisi dalam Pangsa Pasar (Market Share)

3        Kebijakan Pemerintah (Fiskal, Moneter, Eksport-Import, UU dan Lembaga lain terkait).

4        Kondisi Makro Ekonomi (Ekonomi cq. krisis, booming, GDP, GNP, Pendapatan Perkapita, buying power, Inflasi, Foreign Exchange, Konflik Politik, Hukum, Sosial budaya, lingkungan lainnya).

5        Munculnya inovasi teknologi yang menghasilkan penemuan produk baru / substitusi dan perubahan trend selera konsumen. PLC jadi semakin singkat produk jadi cepat usang out of date.

Bagaimana sebaiknya sikap manajer ?

1        Manajer dituntut untuk bersikap tanggap dan adaptif, selalu mengikuti dan menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan lingkungan.

2        Manajer harus mampu menyusun berbagai cara & strategi atau pendekatan yang memungkinkannya untuk terus menjaga dan mengembangkan perusahaan dalam lingkungan bisnis yang selalu berubah.

3.5  Faktor Internal

Yang Perlu Diperhatikan Oleh Manajer

1 Dibidang Produksi & Operasional

2        Proses Produksi (pembuatan produk)

3        Desain Produk Barang & Jasa

4        Jenis Produk Barang & Jasa Yang akan dibuat

5        Teknologi yang dipakai dlm proses produksitas

6        Bahan Baku yang dipakai

7        Penentuan Lokasi Pabrik & Tata Letak (Lay Out Fasilitas Produksi)

8        Kapasitas Produksi

9        Pengendalian Mutu dan Kualitas Produk

10 Dibidang Pemasaran

11    Desain Produk Barang & Jasa (Product)

12    Kemasan Produk

13    Penentuan harga Jual produk (Pricing)

14    Strategi Promosi dan Saluran Distribusi (Promotion) & (Place)

15 Dibidang Sumber Daya Manusia

16    Recruitment & Selection

17    Training & Developtment

18    Kompensasi & Karier

19    Kepemimpinan & Manajemen Konflik

20    Dibidang Akuntansi & Keuangan

21    Sources Of Funds (Debt, Bond & Share)

22    Uses Of Funds (Working Capital, Direct Investment, Indirect Investment)

23    Pencatatan & Pembukuan Keuangan

24    Cash Flow & Budgeting

3.6  Lingkungan Perusahaan

Konsep Lingkungan Bisnis

Konsep Lingkungan Bisnis dan Perusahaan Adalah sekumpulan faktor-faktor tertentu yang akan mempengaruhi arah kebijakan dari suatu perusahaan dalam mengelola aktifitas bisnisnya.

Faktor-faktor tersebut meliputi lingkungan eksternal yang dibagi dalam lingkungan jauh (makro) yaitu : Politik, Ekonomi, Sosbud dan teknologi, dan lingkungan industri, serta lingkungan internal yaitu meliputi aspek-aspek dan kebijakan internal didalam lingkungan perusahaan.

1 Lingkungan Jauh(Makro)

Lingkungan jauh (makro) terdiri dari faktor-faktor yang pada dasarnya berada jauh diluar kendali perusahaan (bersifat : uncontrolable). Faktor makro yang biasanya menjadi titik perhatian perusahaan anatra lain : faktor Politik, Hukum, Ekonomi (kebijakan fiskal & moneter), Sosial Budaya dan Teknologi.

Lingkungan makro ini selain memberikan kesempatan dan peluang bagi perusahaan untuk maju dan mengembangkan bisnisnya, sekaligus juga dapat menjadi hambatan dan ancaman yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup suatu perusahaan.

1 Faktor Politik

Bagi para pengusaha, arah, kebijakan dan stabilitas politik menjadi faktor penting dalam berusaha. Situasi politik yang tidak kondusif akan berdampak negatif bagi dunia usaha, begitu pula sebaliknya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan faktor politik antara lain :

1        Stabilitas nasional : hankamnas, makar, sparatis.

2        Jaminan keamanan (travel warning etc)

3        Pemerintahan yang legitimate & demokratis

4        Good Corporate Governance

5        Kepastian Hukum & Undang-undang, HAM dll.

1 Faktor Ekonomi

Kondisi perekonomian disuatu negara/daerah secara langsung dapat mempengaruhi iklim bisnis dari perusahaan. Semakin buruk kondisi ekonomi, maka akan semakin buruk pula iklim bisnisnya.

Beberapa faktor penting terkait dengan kondisi ekonomi disuatu negara/daerah antara lain :

1        GNP, GDP dan Pendapatan Perkapita

2        Tingkat Inflasi, Suku Bunga

3        Investasi (PMA & PMDN)

4        Harga produk & Jasa

5        Ketersediaan Energi dan sarana prasarana lainnya

6        Pasar tenaga kerja

1 Faktor Sosial

2        Kondisi sosial masyarakat memang bersifat dinamis dan selalu berubah dari masa ke masa, oleh karena itu perusahaan senantiasa dituntut mampu mengantisipasi perubahan kultur sosial masyarakat.

3        Kondisi sosial ini banyak sekali aspeknya misalnya sikap, gaya hidup, adat-istiadat, kultural, ekologis, demografis, religius, pendidikan maupun etnis tertentu.

4        Perubahan kondisi sosial biasanya terkait dengan perubahan sikap dan gaya hidup (life style) akibat peningkatan income, perubahan strata sosial maupun ekses dari perkembangan teknologi.

1 Faktor Teknologi

2        Setiap perusahaan yang ingin tetap eksis dan berkembang bisnisnya, maka harus selalu mengikuti trend perkembangan teknologi terkini, sehingga produk dan jasa yang dihasilkan dapat selalu uptodate sesuai dengan keinginan konsumen.

3        Perusahaan harus bersifat responsive, aktif, kreatif terhadap setiap perkembangan inovasi teknologi baru. (lihatlah ketatnya persaingan teknologi di industri automotif dan ponsel).

3.7 Lingkungan Industri

Lingkungan industri lebih mengarah pada persaingan diantara suatu perusahaan penghasil produk yang sejenis dalam suatu area wilayah tertentu, Misal lingkungan industri otomotif untuk produsen motor di Indonesia adalah : Honda, Yamaha, Suzuki, Kawazaki, Kymko, Bajaj, dll.

Ada 6 (enam) variabel yang berpengaruh terhadap strategi bersaing dalam suatu lingkungan industri tertentu, yaitu :

1        Hambatan Memasuki Pasar (Barier to Entry)

2        Kekuatan Tawar (Bargaining Power) Pembeli

3        Kekuatan Tawar (Bargaining Power) Pemasok

4        Ketersediaan Produk Substitusi

5        Persaingan Sesama Perusahaan Dalam Industri

6        Pengaruh kekuatan Stake Holder

Hambatan Memasuki Pasar (barier to Entry)

Masuknya perusahaan pendatang baru akan menimbulkan sejumlah implikasi bagi perusahaan lama yang telah ada, misalnya terjadi perebutan pangsa pasar, sumber daya yang terbatas dsb.

Ada beberapa faktor dan cara yang dapat dipakai untuk dapat menghambat masuknya pendatang baru ke dalam suatu industri tertentu (barier to entry) antara lain :

1        Skala ekonomi & Kecukupan Modal

2        Diferensiasi Produk

3        Peraturan Pemerintah

4        Akses ke Pemasok & Saluran Distribusi

Kekuatan Tawar Pembeli

Pembeli (buyers) mampu mempengaruhi produsen untuk memotong harga produk tertentu, meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan serta mengadu perusahaan dengan kompetitor melalui berbagai keunggulan masing-masing.

Bagaimana hal ini bisa terjadi ?

1        Jika pembeli membeli dalam jumlah yang besar

2        Sifat produk umum, banyak pemasok mudah mencari substitusinya

Kekuatan Tawar Pemasok (Bargaining Power Supplier)

Pemasok dapat mempengaruhi industri lewat kemampuan mereka untuk menaikkan harga bahan baku atau penurunan kualitas produk/jasa.

Pemasok akan kuat apabila :

1        Jumlah pemasok sedikit

2        Produk bahan baku & jasanya bersifat specifik

3        Tidak tersedia produk substitusi

4        Pemasok memiliki kemampuan untuk mengolah produk seperti yang dilakukan perusahaan / produsen

Ketersediaan Produk Substitusi

Perusahaan dalam suatu indsutri tertentu bersaing pula dengan munculnya produk substitusi atau pengganti yang juga beredar dipasaran, sebab meskipun karakteristiknya berbeda barang substitusi mampu memberikan fungsi, manfaat atau jasa yang serupa bagi konsumen.

Konsumen yang realistis akan berpedoman pada prinsip : tiada rotan akarpun jadi.

Persaingan Sesama Perusahaan dalam Industri Sejenis

Kondisi Pasar Persaingan dalam Industri, Misal : Monopolistic, Oligopoly, Pasar Persaingan Sempurna, akan sangat mempengaruhi kebijakan dan kinerja perusahaan.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingkat persaingan bisnis antara lain : Karakteristik jenis dari masing-masing produk (special/unique, convenience, complementer, consumptions), Jumlah kompetitor dan tingkat pertumbuhan industri.

Pengaruh Stake Holder

Stake holder yang dimaksud disini adalah pihak diluar perusahaan yang secara langsung mempunyai pengaruh dan kepentingan terhadap perusahaan tersebut, misalnya : pemerintah, serikat pekerja, kreditor, pemasok, asosiasi, para pemegang saham, lingkungan masyarakat, dll.

3.8  Cara Lingkungan Mempengaruhi Manajer

1        Melalui derajat ketidakpastian lingkungan yang ada sekarang

2        Melalui berbagai hubungan stock holder yang terjadi antara organisasi dengan kelompok pendukung eksternal.

Derajat ketidakpastian ditentukan oleh 2 dimensi :

1        Derajat perubahan

2        Derajat kerumitan lingkungan organisasi

Ketidakpastian adalah derajat perubahan dan kerumitan lingkungan organisasi

Matrik ketidakpastian Lingkungan

3.9 Tanggung Jawab Sosial Dan Etika Manajerial

Pandangan klasik                      : tanggung jawab sosial adalah bahwa tanggung jawab sosial manajemen hanyalah memaksimalkan laba (profit oriented)

Pandangan sosial ekonomi        : bahwa tanggung jawab sosial manajemen bukan sekedar menghasilkan laba, tetapi juga mencakup melindungi dan meningkatkan kesejahteraan sosial

Tanggung jawab sosial (CSR) : kewajiban perusahaann bisnis di luar yang dituntut oleh hukum dan pertimbangan ekonomi, untuk mengejar berbagai sasaran jangka panjang yang baik bagi masyarakat

Etika Manajerial

Etika manajerial adalah peraturan dan prinsip yang mendefinisikan tindakan benar dan salah

Empat pandangan tentang etika :

1        Pandangan etika utilitarian(utilitarian view of ethics)

2        Pandangan etika hak ( rights view of ethics)

3        Pandangan etika teori keadilan (theory of justice view of ethics)

4        Pandangan etika teori kontrak sosial terpadu (integrative social contracts theory)

Empat Pandangan Tentang Etika

Pandangan etika utilitarian                               : keputusan etika dibuat semata-mata berdasarkan hasil atau akibat keputusan itu

Pandangan etika hak                                        : peduli terhadap penghormatan dan perlindungan hak kebebasan pribadi individu

Pandangan etika teori keadilan                        : para manajer memaksakan dan mendorong peraturan secara adil dan tidak memihak dari tindakan itu dilakukan dengan mengikuti seluruh peraturan dan perundang-undangan di bidang hukum.

Pandangan etika teori kontrak sosial terpadu : keputusan atau etika harus didasarkan pada sejumlah faktor empiris (apa yang ada) dan faktor normatis (apa yang seharusnya)

3.10     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Etika Manajemen

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis :

1        Prinsip otonomi

Adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

2        Prinsip kejujuran.

Suatu bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.

Prinsip-Prinsip Etika Bisnis (2) :

1        Prinsip keadilan

Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat dipertanggung jawabkan.

2        Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle)

Menuntut agar bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.

3        Prinsip integritas moral

Terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baik pimpinan/orang2nya maupun perusahaannya.

Bagaimana Penerapan Etika Bisnis di Indonesia?!

1        Di Indonesia tampaknya masalah penerapan etika perusahaan yang lebih intensif masih belum dilakukan dan digerakan secara nyata.

2        Pada umumnya baru sampai tahap pernyataan-pernyataan atau sekedar “lips-service” belaka.

3        Karena memang enforcement dari pemerintah pun belum tampak secara jelas.

Tanggung jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)

Tanggung jawab sosial dan keterlibatan perusahaan dalam berbagai kegiatan sosial merupakan suatu nilai yang sangat positif bagi perkembangan dan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

Keterlibatan sosial perusahaan di masyarakat akan menciptakan suatu citra yang sangat positif. Biaya sosial yang dikeluarkan dianggap sebagai investasi jangka panjang.

Corporate Action dalam CSR

Menjaga kelestarian lingkungan, perbaikan prasarana umum (jalan, jembatan, fasos, dll), penyuluhan, pelatihan ketrampilan, dan perbaikan kesehatan lingkungan.

Aktifitas CSR memerlukan biaya yang signifikan, namun secara jangka panjang sangat menguntungkan perusahaan, karena kegiatan tersebut menciptakan iklim sosial politik yang kondusif bagi kelangsungan bisnis perusahaan tersebut.

CSR : Jamu Air Mancur

CSR PT. Jamu Air Mancur Semarang rutin setiap tahun saat libur merayakan Hari Raya Idul Fitri, PT. Jamu Air Mancur memberikan fasilitas mudik gratis dengan menyediakan sarana transportasi bis bagi masyarakat perantau yang terkait langsung dengan perusahaan, misal : agen, warung dan mbak-mbak bakul jamunya.

Mengapa CSR Penting ?!

1        Karena untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.

2        Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen.

Mengapa CSR Penting (2) ?!

1        Dalam situasi yang semakin mengglobal, ada saling ketergantungan yang kuat antara perusahaan sebagai produsen dengan masyarakat luas (sebagai konsumen).

2        Perusahaan sebaiknya tidak lagi bersikap tertutup atau tidak mau melakukan kegiatan yang sifatnya sosial kemasyarakatan melalui program CSR.

3        Perusahaan yang tidak memperhatikan hal-hal semacam ini, cepat atau lambat akan semakin ditinggalkan oleh pelanggannya.

QUIZ RESPONSI

1        Jelaskan mengenai “Konsep Lingkungan Bisnis & Perusahaan ?

2        Berikan uraian dan penjelasan rinci bagaimanakah pengaruh perubahan kondisi eksternal terhadap aktifitas dan kebijakan bisnis dari suatu perusahaan ?

3        Jelaskan Faktor-faktor Internal apasaja yang perlu dicermati dan diperhatikan oleh manajer dalam mengelola perusahaan?

4        Jelaskan 6 (enam) variabel yang berpengaruh terhadap strategi bersaing dalam suatu lingkungan industri ?

5        Jelaskan mengenai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) berikan contoh2nya !

BAB IX
LEADERSHIP KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI & PERUSAHAAN

Definisi Kepemimpinan

Garry Yukl (1994:2) menyimpulkan definisi yang mewakili tentang kepemimpinan antara lain sebagai berikut :

Kepemimpinan adalah prilaku dari seorang individu yang
memimpin aktifitas-aktifitas suatu kelompok kesuatu tujuan
yang ingin dicapai bersama (share goal) (Hemhill& Coons,
1957:7)

Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang
dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan
melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau
beberapa tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler &
Massarik, 1961:24)

Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung
pengertian sebagai suatu perwujudan tingkah laku dari
seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya
dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya
membentuk suatu pola atau bentuk tertentu.
Davis dan Newstrom (1995) menyatakan bahwa pola
tindakan pemimpin secara keseluruhan seperti yang
dipersepsikan atau diacu oleh bawahan tersebut dikenal
sebagai gaya kepemimpinan.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 4
Tiga Aliran Teori
tentang Gaya Kepemimpinan
1) Teori Genetis (Keturunan)
2) Teori Sosial
3) Teori Ekologis

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 5
Teori Kepemimpinan
Genetis (Keturunan)
Inti dari teori menyatakan bahwa “Leader are born
and nor made” (pemimpin itu dilahirkan (bakat)
bukannya dibuat).
Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia
telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam
keadaan yang bagaimanapun seseorang
ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi
pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai
pemimpin.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 6
Teori Kepemimpinan
Sosiologis
Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa “Leader are
made and not born” (pemimpin itu dibuat atau
dididik bukannya kodrati).
Jadi teori ini merupakan kebalikan inti teori
genetika.
Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat
yang mengatakan bahwa setiap orang bisa
menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan
dan pengalaman yang cukup.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 7
Teori Kepemimpinan
Ekologis
Teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa
seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin
yang baik apabila ia telah memiliki bakat
kepemimpinan.
Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman yang
memungkinkan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua
teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan
teori yang paling mendekati kebenaran.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 8
Teori Gaya Kepemimpinan
Hersey dan Blanchard (1992)
Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa
gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan
perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu
sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses
kepemimpinan tersebut diwujudkan.
Berdasarkan pemikiran tersebut, Hersey dan
Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya
kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari
pimpinan (p), bawahan (b) dan situasi tertentu (s).,
yang dapat dinotasikan sebagai : k = f (p, b, s).

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 9
Teori Gaya Kepemimpinan
Hersey dan Blanchard (1992)
Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang
dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk
kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan
organisasi.
Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai
kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai
keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi
dan konseptual.
Sedangkan bawahan (b) adalah seorang atau sekelompok orang
yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang
setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah
disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu organisasi,
bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena sukses
tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya
ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih
bawahan dengan secermat mungkin.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 10
Teori Gaya Kepemimpinan
Hersey dan Blanchard (1992)
Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah
suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan
berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku
orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka
mencapai tujuan bersama.
Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada
beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang
dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya
telah berlainan.
Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya
kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi
merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya,
dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 11
Tipe & Gaya
Kepemimpinan
1) Otorite/Authoritarian
2) Militeristik
3) Paternalistis
4) Demokratis
5) Kharismatis

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 12
Gaya Kepemimpinan
Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang
memusatkan segala keputusan dan
kebijakan yang diambil dari
dirinya sendiri secara penuh.
Segala pembagian tugas dan
tanggung jawab dipegang oleh si
pemimpin yang otoriter tersebut,
sedangkan para bawahan hanya
melaksanakan tugas yang telah
diberikan.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 13
Gaya Kepemimpinan
Militeristik
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis
ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan
bawahan sistem perintah yang lebih sering
dipergunakan; Dalam menggerakkan
bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya; Senang pada
formalitas yang berlebih-lebihan; Menuntut
disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahan; Sukar menerima kritikan dari
bawahannya; Menggemari upacaraupacara
untuk berbagai keadaan.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 14
Gaya Kepemimpinan
Paternalistik
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai
pemimpin yang paternalistis ialah seorang
yang memiliki ciri sebagai berikut :
menganggap bawahannya sebagai manusia
yang tidak dewasa; bersikap terlalu
melindungi (overly protective); jarang
memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengambil keputusan;
jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengambil inisiatif;
jarang memberikan kesempatan kepada
bawahannya untuk mengembangkan daya
kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap
maha tahu.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 15
Gaya Kepemimpinan
Kharismatik
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil
menemukan sebab-sebab-sebab mengapa seseorang
pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa
pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang
amat besar dan karenanya pada umumnya
mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat
besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak
dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi
pengikut pemimpin itu.
Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab
musabab seseorang menjadi pemimpin yang
karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa
pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan
gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur,
kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai
kriteria untuk karisma.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 16
Gaya Kepemimpinan
Demokratis
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin
yang memberikan wewenang secara luas kepada para
bawahan. Setiap ada permasalahan selalu
mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh.
Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin
memberikan banyak informasi tentang tugas serta
tanggung jawab para bawahannya.
Senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari
bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama
dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian
diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan
yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan
yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya
lebih sukses daripadanya; dan berusaha mengembangkan
kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 17
Model Kepemimpinan
Kontingensional
Model Kepemimpinan Kontingensi. Model kepemimpinan
kontingensi dikembang-kan oleh Fielder. Fielder dalam
Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa
gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah
organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin
bekerja.
Menurut model kepemimpinan ini, terdapat tiga variabel
utama yang cenderung menentukan apakah situasi
menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel
utama tersebut adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan
para anggota kelompok (hubungan pemimpin-anggota);
kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok
untuk dilaksanakan (struktur tugas); dan kekuasaan dan
kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi).

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 18
Model Kepemimpinan
Kontingensional
Berdasar ketiga variabel utama tersebut, Fiedler
menyimpulkan bahwa : para pemimpin yang berorientasi
pada tugas cenderung berprestasi terbaik dalam situasi
kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak
menguntungkan sekalipun; para pemimpin yang berorientasi
pada hubungan cenderung berprestasi terbaik dalam situasisituasi
yang cukup menguntungkan.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 19
Kompetensi Kepemimpinan
Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau
kesuksesan pemimpin (kepemimpinan) dan manajer
(manajemen) dalam mengemban peran, tugas, fungsi,
atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah
kompetensi.
Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya
dipopulerkan oleh Boyatzis (1982) yang didefinisikan
kompetensi sebagai “kemampuan yang dimiliki
seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai
dengan kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan
organisasi dan memberikan hasil yang diinginkan”.

Pgt Manajemen AI Hamdhani, SE,MM. 20
QUI RESPONSI
BAB-IX.
1) Jelaskan definisi dari “kepemimpinan” dan
“gaya kepemimpinan”.
2) Jelaskan perbedaan “tiga” aliran teori yang
membahas masalah “gaya kepemimpinan”
tersebut !
3) Jelaskan dan berikan contoh perbedaan 5
(lima) tipe gaya kepemimpinan !
4) Menurt pendapat anda “tipe gaya
kepemimpinan” seperti apakah yang cocok
untuk dipilih sebagai presiden pada pemilu
tahun 2009 mendatang ?

Pengertian Manajemen
Istilah manajemen berasal dari kata management (Bahasa Inggris), berasal dari kata “to manage” yang artinya mengurus atau tata laksana. Sehingga manajemen dapat diartikan bagaimana cara mengatur, membimbing dan memimpin semua orang yang menjadi bawahannya agar usaha yang sedang dikerjakan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Banyak ahli yang memberikan definisi tentang manajemen, diantaranya:
1. Harold Koontz & O” Donnel dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” mengemukakan, “Manajemen adalah berhubungan dengan pencapaian sesuatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang-orang lain” (Dayat, n.d,p.6).
2. George R. Terry dalam buku dengan judul “Principles of Management” memberikan definisi: “Manajemen adalah suatu proses yang membedakan atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan pelaksanaan dan pengawasan, dengan memanfaatkan baik ilmu maupun seni, agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya” (Dayat, n.d,p.6).
3. Ensiclopedia of The Social Sciences
Manajemen diartikan sebagai proses pelaksanaan suatu tujuan tertentu yang diselenggarakan dan diarvasi.
4. Mary Parker Follet
Manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
5. Thomas H. Nelson
Manajemen perusahaan adalah ilmu dan seni memadukan ide-ide, fasilitas, proses, bahan dan orang-orang untuk menghasilkan barang atau jasa yang bermanfaat dan menjualnya dengan menguntungkan.
6. G.R. Terri,
Manajemen diartikan sebagai proses yang khas yang terdiri atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan dan usaha mencapai sasaran-sasaran dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya.
7. James A. F. Stoner
Manajemen diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan upaya (usaha-usaha) anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
8. Oei Liang Lie
Manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengawasan sumber daya manusia dan alam, terutama sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Prinsip manajemen adalah dasar-dasar atau pedoman kerja yang bersifat pokok yang tidak boleh diabaikan oleh setiap manajer/pimpinan. Dalam prakteknya harus diusahakan agar prinsip-prinsip manajemen ini hendaknya tidak kaku, melainkan harus luwes, yaitu bisa saja diubah-ubah sesuai dengan kebutuhan. Prinsip-prinsip manajemen terdiri atas :
1. Pembagian kerja yang berimbang
Dalam membagi-bagikan tugas dan jenisnya kepada semua kerabat kerja, seorang manajer hendaknya bersifat adil, yaitu harus bersikap sama baik dan memberikan beban kerja yang berimbang.
2. Pemberian kewenangan dan rasa tanggung jawab yang tegas dan jelas Setiap kerabat kerja atau karyawan hendaknya diberi wewenang sepenuhnya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan mempertanggung jawabkannya kepada atasan secara langsung.
3. Disiplin
Disiplin adalah kesedian untuk melakukan usaha atau kegiatan nyata (bekerja sesuai dengan jenis pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya) berdasarkan rencana, peraturan dan waktu (waktu kerja) yang telah ditetapkan.
4. Kesatuan perintah
Setiap karyawan atau kerabat kerja hendaknya hanya menerima satu jenis perintah dari seorang atasan langsung (mandor/kepala seksi/kepala bagian), bukan dari beberapa orang yang sama-sama merasa menjadi atasan para karyawan/kerabat kerja tersebut.
5. Kesatuan arah
Kegiatan hendaknya mempunyai tujuan yang sama dan dipimpin oleh seorang atasan langsung serta didasarkan pada rencana kerja yang sama (satu tujuan, satu rencana, dan satu pimpinan).

Jika prinsip ini tidak dilaksanakan maka akan timbul perpecahan diantara para kerabat kerja/karyawan. Karena ada yang diberi tugas yang banyak dan ada pula yang sedikit, padahal mereka memiliki kemampuan yang sama (Dayat,n.d,pp.7-9).
manajemen adalah proses pencapaian tujuan melalui kerja orang lain. Dengan demikian berarti dalam manajemen terdapat minimal 4 (empat) ciri, yaitu:
1. Ada tujuan yang hendak dicapai
2. Ada pemimpin (atasan)
3. Ada yang dipimpin (bawahan)
4. Ada kerja sama.

Fungsi dan Tujuan Manajemen
Keberhasilan suatu kegiatan atau pekerjaan tergantung dari manajemennya. Pekerjaan itu akan berhasil apabila manajemennya baik dan teratur, dimana manajemen itu sendiri merupakan suatu perangkat dengan melakukan proses tertentu dalam fungsi yang terkait. Maksudnya adalah serangkaian tahap kegiatan mulai awal melakukan kegiatan atau pekerjaan sampai akhir tercapainya tujuan kegiatan atau pekerjaan.
Pembagian fungsi manajemen menurut beberapa ahli manajemen, di antaranya yaitu :
1. Menurut Dalton E.M.C. Farland (1990) dalam “Management Principles and Management”, fungsi manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
2. Menurut George R. Ferry (1990) dalam “Principles of Management”, proses manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pelaksanaan (Activating).
3. Menurut H. Koontz dan O”Donnel (1991) dalam “The Principles of Management”, proses dan fungsi manajemen terbagi menjadi :
• Perencanaan (Planning).
• Pengorganisasian (Organizing).
• Pengawasan (Controlling).
• Pengarahan (Directing).

Fungsi – Fungsi manajemen :

l) Fungsi perencanaan
Pada hakekatrya perencanaan merupakan proses pengambilan keputusan yang merupakan dasar bagi kegiatan-kegiatan/tindakan-tindakan ekonomis dan efektif pada waktu yang akan datang. Pross ini memerlukan pemikiran tentmg apa yang perlu dikerjakan, bagaimana dan di mana suatu kegiatan perlu dilakukan serta siapa yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaannya.
2) Fungsi pengorganisasian
Fungsi Pengorganisasian dapat didefinisikan sebagai proses menciptakan hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, personalia dan faktor fisik agar kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan disatukan dan diarahkan pada pencapaian tujuan bersama.
3)Fungsi pengarahan
Pengarahan merupakan fungsi manajemen yang menstimulir tindakan-tindakan agar betul-betul dilaksanakan. Oleh karena tindakan-tindakan itu dilakukan oleh orang, maka pengarahan meliputi pemberian perintah-perintah dan motivasi pada personalia yang melaksanakan perintah-perintah tersebut.
4)Fungsi pengkoordinasi
Suatu usaha yang terkoordinir ialah di mana kegiatan karyawan itu harmonis. terarah dan diintergrasikan menuju tujuan-tujuan bersama. Koordinasi dengan demikian sangat diperlukan dalam organisasi agar diperoleh kesatuan bertindak dalam rangka pencapaian tujuan organisasi.
5)Fungsi pengawasan
Fungsi pengawasan pada hakekatnya mengatur apakah kegiatan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan dalam rencana. Sehingga pengawasan membawa kita pada fungsi perencanaan. Makin jelas. lengkap serta terkoordinir rencana-rencana makin lengkap pula pengawasan.