MASYARAKAT SEBAGAI MEKANISME.

Posted: 09/10/2010 in Uncategorized

Pandangan Masyarakat Yang Individualistis, Atomistis, Dan Mekanistis

A.     Tinjauan Umum

1.      Pandangan yang berlainan

Ada sejumlah teori lain yang sedemikian berbeda dari teori-teori yang disebut dalam kelompok pertama yaitu Masyarakat. Sehingga teori tersebut perlu dikelompokkan dan dipelajari sendiri.

a.       Hanya ada individu-individu

Maksud dari hanya individu-individu disini adalah masyarakat itu hanya dianggap sebagai plurality yang terdiri dari individu-individu, yang kelihatannya merupakan kesatuan namun kesatuan tersebut bersifat semu.

Masyarakat itu hanya kemauan-kemauan individual yang mampu memilih antara hidup bersama atau hidup sendirian, dan apabila mereka hidup bersama mereka tetap memiliki dan tetap mempertahankan individualistis mereka masing-masing. Jadi individu mendahului masyarakat, kebebasan individu adalah merupakan nilai yang paling asli. Argumentasi yang mendasari teori individualistis ini yaitu “Keluarkan;lah individu dari masyarakat, lalu masyarakat akan berhenti; tetapi bubarkanlah masyarakat serta lembaga-lembaganya, individu masih tetap akan ada!”.

Menurut Jean Jecques Rousseau (1712-1778) pernah mendefinisikan masyarakat sebagai “kontrak sosial” yang diadakan antara pihak-pihak otonom. Dengan kata lain, tidak ada kaitan sosial batiniah yang dari dalam diri manusia mempersatukan mereka menjadi masyarakat. Tidak ada sosialitas berdasar relasi-relasi batiniah yang menjadikan individu makhluk sosial.

b.      Tidak ada evolusi / perubahan sosial

Maksudnya adalah masyarakat tidak berevolusi dan tidak maju. Oleh karena hanya ada individu-individu yang mengadakat relasi-relasi lahiriah, dan mereka sendiri tidak berubah.

Pandangan ini disebut the seesaw theory of history. Yaitu masyarakat adalah bagaikan ungkat-ungkit (seesaw), yang selalu mencari keseimbangan antara kedua ujungnya. Hanya keseimbangan yang dicari bukan perubahan.

c.        Mekanisme sebagai bagan masyarakat

Masyarakat dibayangkan seakan-akan merupakan mekanisme, mesin atau aparat raksasa, yang digerakkan oleh “roda pemerintahan”. Mesin terdiri dari banyak suku cadang yang dari diri sendiri tidak pernah membentuk suatu kesatuan.  Suku cadang dipasang dan disambung satu sama lain dari luar; hubungan antara mereka tetap bersifat lahiriah saja, sewaktu-waktu mereka akan dapat dibongkar dengan social engineering.

Sosiologi yang memakai “organisme” menjadi bagannya, akan berpikir secara teologis, dalam arti bahwa ia akan menerangkan gejala sosial dengan mengarahkan diri kepada tujuan atau causa finalis mereka yang terletak dimasa mendatang.

2.      Beberapa tokoh pendasar mekanisme

Pandangan mekanisme berakar di dalam filsafat Thomas Hobbes, John Locke, dan Charles Carey.

1.      Thomas Hobbes (1588-1679) adalah seorang filusuf di bidang ilmu negara, dalam bukunya Leviathan (1651) berpendapat bahwa pengalaman empiris merupakan satu-satunya sumber pengetahuan ilmiah yang sah. Menurut pengalaman itu masyarakat adalah himpunan individu-individu yang masing-masing atas cara egoistis mengejar kepentingan mereka sendiri. Akibatnya ialah “perang semua lawan semua”, keadaan homo homini lupus, dan rasa takut. Kalau orang mendirikan ikatan-ikatan sosial, itu hanya suatu cease fire saja. Rasa takut mendorong orang untuk mengusahakan suatu keseimbangan antara mereka. Kalau mereka berhasil dam semua pihak antagonistis menjadi sama kuat, akan muncul suatu koeksistensi yang berdasar kekuatan dan ketakutan.

2.      John Locke (1632-1704) juga mengatakan hal yang sama yaitu bahwa individu bersedia untuk mengikat diri kepada hidup negara, supaya tercapailah suatu keadaan diman atak seorangpun yang lebih kuat daripada yang lain. Di muka hukum semua orang menjadi sama.

3.      Henry Charles Carey (1793-1879) dalam karangannya yang berjudul Principles of Social Science mengatakan bahwa manusai disebut “molekul” masyarakat. Masyarakat dijadikan satu bukan karena adanya naluri sosial di dalam diri manusia (Trotter), melainkan karena pengaruh daya penarik antara anasir-anasir positif dan negative. Tiap-tiap unit atau anasir menarik dan ditarik sekaligus. Carey memakai istilah “hukum gaya berat sosial”  (berasal dari konsep hukum gaya berat alam) yang isinya adalah : “semakin banyak orang berkumpul disuatu tempat, semakin berat daya penariknya”. Hukum ini dibuktikan menunjuk kepada kota-kota besar yang menarik bagaikan magnet. Proses urbanisasi adalah efek magnetism kota.

B.     VILFREDO PARETO (1848-1923)

1.      Catatan biografi

Ia berkebangsaan Italia, belajar pada sekolah Politeknik kota Turino. Kemudian ia bekerja pada jawatan kereta api, mula-mula sebagai insinyur, kemudian menjadi pimpinan. Ia menaruh minat besar terhadap soal-soal ekonomi sejauh mereka mempunyai implikasi politik, sehingga dengan itu ia aktif dalam politik. Ia sering kali mengkritik pemerintah, tapi keritikannya tidak digubris oleh yang bersangkutan.

Pada tahun 1882 ia gagal dalam pemilihan anggota DPR. Pada tauhun 1893 ia diangkat menjadi maha gurudi bidang ekonomi politik di universitas Lausanne. Ia banyak mengarang buku diantaranya yaitu : The socialist System (1901-1902) dan Treatise on General Sociology (1916)

2.      Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan positif

Pareto berpedapat bahwa sosiologi di zamannya belum bermutu. Walaupun Agust Comte telah digelari sebagai “Bapak Positivisme”, pareto membenarkan gelar itu. Menurut dia, tiap-tiap ilmu pengetahuan positif harus mengurangi ambisinya dan hanya mencari kebenaran yang dapat dibuktikan dan di uji dengan eksperinen. Iolmu pengetahuan positif tidak boleh berkecimpung ke dalam pandangan spekulatif yang sekalipun barangkali berguna, namun tidak merupakan bidangnya. Menurut Pareto, reformasi masyarakat bukan tugas sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan empiris tidak bertujuan untuk menyebarluaskan gagasan mengenai masyarakat ideal yang seharusnya dibentuk, melainkan menyajikan fakta masyarakat yang nyata ada dan dapat ditinjau dan diuraikan oleh tiap-tiap orang. Sosiologi positivistis harus menjauhkan diri dari metafisika. Menurut istilah Pareto, sosiologi harus bersifat logis dan eksperimental.

Kata “logis” dalam konteks ini berarti bahwa kesimpulan-kesimpulan sosiologi tidak boleh melebihi premis-premis yang mendahului dan mendasari mereka. Kalau seluruhnya premis itu benar dan tak terbantah, kesimpulan yang ditarik dari mereka bersifat benar juga, sehingga harus dibenarkan oleh setiap orang yang berakal-budi sehat. Pareto mencita-citakan suatu sosiologi yang dibenatkan atas kriteria matematika rasional, yang selalu sah dan tidak terubahkan.

Kata eksperimental” berarti bahwa satu-satunya landasan sosiologi adalah realitas yang merupakan obyek observasi indrawi. Tiap-tiap konsep, proposisi, dan teori harus berpangkal pada fakta yang ditinjau atau mungkin dapat ditinjau.

Mengingat syarat-syarat ini  maka sosiologi tidak dapat menjadi basis untuk suatu orde sosial baru, karena tujuan-tujuannya tidak ditemukan melalui metoda logis dan eksperimental. Berdasarkan metoda ini, sosiologi hanya dapat menghasilkan pengertian yang lebih baik tentang masyarakat yang ada. Pengertian itu dapat diperoleh dengan mengambil dua langkah.

Pertama, realitas sosial yang dialami sebagai serbaneka dan jamak, disederhanakan oleh akal budi. Proses ini disebut dengan konseptualisasi. Artinya, akal budi hanya memilih beberapa aspek atau ciri umum yang terlihat pada sejumlah kejadian partikuler, lalu memeras mereka pada suatu konsep kesatuan, agar kemudian dianalisis.

Kedua, hasil konseptualisasi dan analisis harus disusun kembali, sehingga melukiskan masyarakat sebagaimana nyata adanya. Pelukisan itu akan membebaskan orang dari penafsiran salah baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

3.      Masyarakat terdiri dari prilaku manusia

Pareto menekankan bahwa hidup bermasyarakat terdiri dari apa yang dilakukan oleh individual. Mereka merupakan the material points or molecules dari sitem yang disebut masyarakat. Disini Pareto tidak memakai kata “badan” melainkan memakai kata “sistem” . suaru sistem dibentuk dari bagian-bagian yang tergantung satu dari yang lain karena dikonstruksi demikian. Untuk sebagian besar kelakuan manusia bersifat mekanis atau otomatis. Sehubungan dengan itu, ia membedakan antara perbuatan logis dan nonlogis.

Prilaku disebut logis, kalau direncanakan oleh akal budi dengan pedoman pada tujuan yang mau dicapai, dan menurut kenyataan mencapai tujuan. Maka, prilaku lain yang tidak berpedoman secara rasional pada tujuan, atau tidak mencapai tujuan, disebut nonlogis.

Menurut Pareto, hamper seluruh kehidupan masyarakat terdiri dari perbuatan-perbuatan nonlogis. Dua tipe prilaku yang nonlogis paling sering menonjol, yaitu :

a.       Orangnya menyaka secara subyektif bahwa suatu langkah tertentu pelu diambil untuk mencapai suatu tujuan, padahal tidak ada hubungan obyektif antara langkah itu dengan tujuan itu. Misalnya, orang menginginkan kesembuhan, lalu ia pergi ke dukun, bertahayul, atau sembahyang saja.

b.      Ada perbuatan lain, yang mencapai sasaran mereka dengan perhitungan dan perencanaan sebelumnya, dan semestinya disebut “logis”. Tetapi sesudah tercapainya tujuan itu, timbul suatu keadaan yang merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan. Sejauh akibat-akibat itu tidak diduga dan dipikir sebelumnya, maka perbuatan itu bersifat nonlogis juga.

Sistem sosial atau masyarakat yang ditegakkan oleh individu-individu senantiasa mengarah kepada keseimbangan yaitu akibat proses mekanis. Seandainya perasaan otomatis itu tidak ada, tiap-tiap usaha untuk merombak untuk merubah sistem sosial, tidak akan menghadapi perlawanan yang berarti. Masyarakat akan goyah terus menerus, tidak akan memberi kepastian, dan menghancurkan dirinya sendiri. Akibat adanya “stabilizing forces” yaitu perasaan-perasaan otomatis yang aktif menentang setiap hal yang mengancam atau mengganggu  kestabilan. Diantara stabilizing forces Pareto menyebut :

a.       Kondisi-kondisi geografis berupa tanah, flora, dan fauna.

b.      Unsur-unsur pengaruh baik dari masyarakat luar maupun dari tradisi lama masyarakat itu sendiri.

c.       Unsur-unsur mekanisme di dalam diri manusia yang tadi disebut “perasaan-perasaan”, yaitu naluri-naluri, residu-residu, derivasi-derivasi, kepentingan, dan factor-faktor rasial, dan etnis.

4.      Unsur-unsur mekanis di dalam individu yang menegakkan sistem sosial dan melandasi keseimbangannya.

a.       Residu-residu

Dengan istilah “residu” yang arti harfiyahnya yaitu endapan, dimaksudkan struktur-struktur dasar manusia yang selalu sama, mantap, dan tidak berubah sepanjang zaman. Struktur dasar ini malandasi dan menentukan prilaku.

Dalam mempelajari tingkah laku manusia, kita menhadapi kenyataan bahwa perbuatan manusia dapat digolongkan menurut beberapa jenis. Jenis-jenis ini membuktikan adanya unsur-unsur structural dalam diri manusia. Di satu pihak unsur-unsur ini harus dibedakan dari naluri-naluri biologis, di lain pihak mereka melahirkan sikap kelakuan yang otomatis. Jadi mereka mirip dengan naluri-naluri. Mereka disebut residu-residu yang membentuk kepribadian seseorang.

Pareto menyebutkan ada 50 residu-residu. Enam yang paling menonjol karena paling menentukan, yaitu :

Pertama, pada tiap-tiap orang tampak kecenderungan untuk menggabungkan hal-hal yang tidak ada hubungan satu sama lain, sehingga menjadi kombonasi baru. Hal-hal yang barlainan diceraikan dari konteks atau kombinasi lama mereka disatukan kembali dalam kombinasi baru.

Kedua, adalah kecenderungan untuk mempertahankan dan melestarikan kombonasi yang telah dibuat. Residu ini disebut The persistence of aggregates.

Ketiga, adalah kecenderungan unruk mengungkapkan emosi secara lahiriah melalui tangisan, teriakan, tepuk tangan, demonstrasi, aksi mogok, menentang bahaya, dan lain sebagainya.

Keempat, ialah sosialitas atau kecenderunagn untuk bersatu dengan yang lain. Residu ini mendorong orang untuk mendirikan masyarakat dan bermacam-macam kumpulan selain keluarga.

Kelima, ialah kecenderungan untuk mempertahankan diri sebagai individu uang utuh.tiap-tiap orang menjaga nama baiknya dan identitasnya. Ia melawan orang lain dalam memperjuangakan kedudukan dan kepentingannya.

Keenam, adalah kecenderungan untuk mengarahkan dan mengungkapkan seksualitas. Pareto menyebut antara lain pemujaan terhadap phallus, praktek-praktek pertapaan tertentu seperti siksaan badannya sendiri dengan cambuk, pelacuran sacral, dan sebagainya.

b.      Derivasi-derivasinya

Rasionalisasi atau pembenaran perbuatan yang non logis dinamakan derivasi. Derivasi secara harfiah berarti “penurunan”. Maksudnya mereka disebut post factum. Manusia bertindak lebih dahulu, baru kemudian ia mencari motivasi. Jadi pembenaran dengan teori berasal atau diturunkan dari perbuatan. Derivasi selalu menyusul.

Menurut Pareto, the derivations are rapidly transformed but the residues are relatively constant ( derivasi-derivasi dengan mudah diganti-ganti, tetapi residu-residu yang menentukan pola prilaku manusia pada umumnya tetap sama). Pareto menyebutkan tiga jenis derivasi, yaitu:

Pertama, cara membenarkan diri yang paling mudah dan sederhana, namun sering sudah memadai, ialah menyatakan saja, bahwa sesuatu memang begini atau begitu. Titik! Tanpa pendasaran, pembuktian, atau motivasi.

Kedua, cara membanarkan diri lain yang sering dipakai ialah menumpang pada kewibawaan orang lain atau kekuasaan Tuhan sendiri.

Ketiga, orang yang mudah membenarkan apa yang cocok atau bersesuaian dengan perasaan, kepentingan, atau keinginan mereka.

c.       Kesukaan

Unsur ketiga yang membentuk mekanisme masyarakat adalah perasaan suka, senang, atau merasa diri tertarik kepada hal-hal tertentu. Alasan Pareto menyebut unsr ini secara tersendiri disamping residu-residu adalah bahwa biasanya orang tidak membuat derivasi atau teori pembenaran untuk hobi atau kegemaran mereka. Jadi boleh dikatakan bahwa kesukaan berbeda dari residu yang hanya sejauh kecenderungan ini mendasari prilaku yang tidak dipermasalahkan, tidak didiskusikan atau perlu dirasionalisasikan.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s