Mazhab2 Dalam Islam

Posted: 23/10/2010 in Uncategorized

Sebahagian terbesar umat Islam di Indonesia dewasa ini patut ditenggarai hanya mengetahui mazhab2 dilingkungan umat Islam sepanjang mengenai adanya Mazhab Syafi’i (hampir seluruh umat Islam di Indonesia bermazhab ini), Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali dan Mazhab Hanafi. Di bidang apakah mazhab2 itu ? Apakah masih ada mazhab2 lainnya diluar ke-4 mazhab tersebut? Hampir sebahagian terbesar umat Islam di Indonesia tidak memahaminya.

Padahal anatomi mazhab2 umat Islam tidaklah sesederhana itu.

Segera setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, umat Islam terbelah menjadi 3 (tiga) golongan karena perbedaan pandangan politik, khususnya berkaitan tentang siapakah yang berhak meneruskan kepemimpinan Umat Islam Pasca Rasulullah SAW.  Ketiga golongan itu adalah 1). Golongan Ahlussunah wal Jama’ah (atau disebut juga “Suni”) 2). Golongan Ahlul Bayt atau Syiah Itsna ‘Asyariyyah/ Syiah Duabelas Imam ( atau disingkat “Syiah”), dan 3). Golongan Khawarij. Tetapi yang masih ada sampai kini tinggal Golongan Suni ( 2/3 dari seluruh umat Islam di dunia) dan Golongan Syiah (1/3 umat Islam di dunia), sedangkan Golongan Khawarij sudah tidak ada lagi.

Kemudian sejak awal Abad ke-2 Hijriyah dikalangan umat Islam bermunculan berbagai aliran pemikiran atau Mazhab (School of Thought) sejalan dengan cabang2 Ajaran Islam.

Kemunculan berbagai mazhab ini khususnya terjadi pada Golongan Suni, karena tidak adanya Otoritas Keagamaan pada golongan ini, sehingga setiap ulama pada prinsipnya dapat mengeluarkan fatwa berdasarkan pendapatnya sendiri2 (ijtihad). Akibatnya dilingkungan Suni muncul berbagai aliran pandangan pada setiap cabang ajaran Islam.

Sementara itu Golongan Syiah tetap bisa mempertahankan keutuhan sistem keagamaannya, karena disini terdapat Otoritas Keagamaan yang diakui dan di taati oleh seluruh komunitas Syiah, yaitu Para Imam Ahlul Bayt Keturunan Nabi Muhammad SAW. Segala sesuatu yang berkenaan dengan cabang2 Ajaran Islam  harus dikembalikan kepada Para Imam yang memberikan jawaban melalui fatwa-2 nya. Memang ada juga sebagian kecil dari Golongan Syiah yang memisahkan diri dan membentuk pengelompokan sendiri, misalnya Golongan Zaidiyyah dan Golongan Fatimiyah. Namun secara aqidah, akhlak dan fiqh (Cabang2 Ajaran Islam) kedua golongan yang memisahkan diri itu tidak ada perbedaannya dengan mainstream Golongan Syiah (Duabelas Imam).

Tulisan bertujuan sekedar memberikan pengenalan atas keberadaan mazhab2 yang ada dilingkungan Umat Islam sejalan dengan cabang2 Ajaran Islam.

3 Cabang Ajaran Islam

Sebagaimana telah diketahui bahwa Ajaran Islam terdiri atas 3 cabang ajaran, yaitu :

1.   Aqidah atau Doktrin, yang meliputi subyek2 yang harus dimengerti dan di-imani, seperti : keberadaan Allah, ke-esaan Allah, sifat2 Allah, ke-nabian yang sifatnya universal dan seterusnya (Tauhid dan Nubuwah)

2.   Akhlak atau Moral, yang meliputi subyek2 yang dianjurkan/direkomendasikan untuk di amalkan (dilaksanakan) berkaitan dengan karakteristik spiritual dan akhlak/moral manusia, seperti: adil, taqwa, berani, arif, bersahaja (zuhud), bersih, sabar, setia, jujur, dapat dipercaya, menjaga amanat dan seterusnya. (Pemurnian/pembersihan/penyucian diri/hati).

3.    Hukum atau Fiqh,  yang meliputi subyek2 yang berkaitan dengan cara yang benar dan harus diikuti di dalam menjalankan shalat, puasa, haji, zakat, jihad, ber-amar ma’ruf nahi munkar, jual-beli, sewa-menyewa, menikah, bercerai pembagian warisan dan seterusnya. (Syariat).

Mazhab dan Cabang Ajaran

1. Mazhab Fiqh

Tulisan ini sengaja memulainya dari urutan terbawah, dengan pertimbangan bagian ini mungkin yang paling banyak diketahui oleh umat Islam di Indonesia dewasa ini.

Golongan Suni:

Berkenaan dengan cabang Ajaran Fiqh, dikalangan Suni pada awalnya bermunculan puluhan Mazhab Fiqh, namun karena intervensi Penguasa Islam dimasa lalu, maka mazhab fiqh yang tinggal hanya 4 (empat) mazhab, sedangkan yang lainnya hilang karena tidak mendapat dukungan dari Penguasa Islam. Adapun ke-4 mazhab fiqh itu adalah Mazhab Maliki, Mazhab Hanbali, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi.

Selain memiliki perbedaan2 yang cukup mendasar seputar aspek2 fiqh di antara ke-4 mazhab itu, ternyata secara internal masing2 mazhab juga memiliki perbedaan yang cukup besar. Misalnya pandangan fiqh Mazhab Syafi’i yang berkembang di Mesir berbeda dengan pandangan fiqh Mazhab Syafi’i yang berkembang di Yaman (kemudian menyebar ke Indonesia). Demikian juga pandangan fiqh Mazhab Hanbali di Iraq berbeda dengan yang ada di Jazirah Arab. Demikian seterusnya, sehingga pada masing2 mazhab fiqh ini juga masih terdapat variasi2 yang cukup besar perbedaannya.

Golongan Syiah:

Syiah tidak mengenal adanya mazhab dalam Cabang Ajaran Fiqh, karena semuanya masalah fiqh berpulang kepada fatwa Para Imam Ahlul Bayt as. Memang didalam penyebutan se-hari dikalangan non-Syiah sering dikatakan bahwa mazhab fiqh golongan Syiah dinamakan Mazhab Ja’fari yang diambil dari nama Imam Ja’far Shadiq as, Imam ke-6 dari urutan ke-12 Imam Syiah.

Hal ini se-mata-2 karena Imam Ja’far Shodiq banyak mendakwahkan soal-2 fiqh, sehingga pendapatnya banyak dijumpai pada bahan2 tertulis. Dan pandangan fiqh Imam Ja’far Shodiq as tersebut tidak ada bedanya sama sekali dengan pandangan Imam2 Ahlul Bayt yang sebelumnya maupun sesudahnya.

2. Mazhab Akhlak

Golongan Suni:

Kajian Ahlak disebut sebagai Tasawuf meliputi banyak mazhab atau Tarekat yang masing2 berdiri sendiri, seperti antara lain mazhab2: Zuhd, Kasyf & Makrifat, Ittihad & Hulul, al-‘Isyraq, al-Hubb, Suluk, Akhlaq, Wahdah al-Wujud.

Berbagai mazhab Tasawuf di masyarakat Suni ini pada hakekatnya dapat dibedakan ke dalam 2 kelompok, yaitu Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Amali.  Pada awalnya tawasuf Suni menolak pendekatan syariat (fiqh) dan kalam (aqidah), sehingga kalangan Fuqaha (Ahli Fiqh) Suni menganggap Tasawuf merupakan paham/mazhab bid’ah dan bertentangan dengan Al Qur’an & Sunnah. Kemudian Al-Ghazali menggabungkan Tasawuf Akhlaqi dan Tasawuf Amali serta menyesuaikan dengan Aqidah Asy’ariyah (aqidah Suni) dan Syariah Suni (Fiqh Suni) dengan memperkenalkan Mazhab Tasawuf Dualistik.

Namun karena Fiqh Suni terdiri dari empat mazhab, maka upaya al-Ghazali tidak mendapatkan legitimasi dari kalangan mazhab2 (Tarekat2) Tasawuf yang terlanjur menjamur di dunia Suni, dimana masing2 mazhab/tarekat tersebut lebih mengagungkan para syaikh (guru spiritual) nya masing2.

Golongan Syiah :

Kajian Akhlak dilingkungan Syiah di namakan Irfan sejak awalnya merupakan kajian yang tidak terpisahkan dari cabang Ajaran Islam lainnya, yaitu Aqidah dan Fiqh yang tentunya diyakini oleh Golongan Syiah. Irfan mendorong pensucian diri yang sejalan dengan ketentuan aqidah dan fiqh. Dengan demikian Irfan pada masyarakat Syiah bukanlah merupakan mazhab tersendiri, melainkan merupakan bagian dari keseluruh sistem Ajaran Islam menurut pandangan Syiah.

3. Mazhab Kalam/Aqidah/Ushuluddin.

Golongan Suni :

Munculnya Mazhab Kalam dilingkungan Suni berawal dari perbedaan pandangan dikalangan para Ulama Suni tentang “Takdir”.  Sebagian Ulama berpendapat mengatakan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (termasuk kejadian dan perbuatan manusia) telah ditentukan sepenuhnya oleh Allah SWT. Pandangan ini dinamakan “Jabariyyah” atau “Tauhid Af’ali”. Sedangkan sebagian Ulama lainnya justru sebaliknya berpendapat, bahwa manusia memiliki kebebasan penuh (ikhtiyyar) untuk menentukan takdirnya sendiri. Pandangan ini dinamakan “Qadariyyah” atau “Tauhid Sifati”.

Berangkat dari pandangan “Jabariyyah” dan “Qadariyyah” maka bermunculan banyak mazhab kalam di kalangan Suni, seperti : Mu’tazilah, Murjiah, Batiniah, Asy’ariyah dan lain2-nya. Namun yang patut dikemukakan disini adalah Mazbah Ahluhadist, Mazhab Mu’tazilah dan Mazbah Asy’ariyah saja, sementara mazhab2 kalam lainnya disamping bersifat sektoral (di ikuti sedikit umat Islam pada suatu wilayah tertentu) juga tidak berumur panjang, sehingga pengaruhnya tidak besar terhadap pemikiran Kalam/Aqidah.

Di masa pemerintahan Bani Umayyah, mazhab kalam yang berkembang dan diakui oleh penguasa adalah Mazhab Ahluhadist, yang di dirikan oleh para pengikut mazhab fiqh Hanbali.

Mazhab Ahluhadist in sepenuhnya berpijak pada pandangan “Jabariyyah”, yang sejalan dengan kepentingan politik penguasa Bani Umayyah yang dikenal dalam Sejarah Islam sebagai para penguasa yang dzalim. Dengan berkembangnya pandangan “Jabariyyah”, para penguasa Islam yang dzalim berharap umat Islam dapat menerima semua tindakan penguasa sebagai takdir yang telah ditetapkan sebelumnya oleh Allah SWT. Dilain pihak para penguasa Bani Umayyah menindas habis para ulama yang berpandangan “Qadariyyah”.

Kritikan terhadap Mazhab Ahluhadist yang berlandaskan pandangan Jabariyyah, adalah menutup sepenuhnya pintu ikhtiyar (usaha) manusia untuk merubah nasibnya dan juga bertentangan dengan prinsip Keadilan Ilahi.

Menurut Mazhab Ahluhadis, jika seseorang itu miskin, maka hal itu ada memang sudah ditentukan demikian oleh Allah (predestinasi), sekalipun ia berupaya keras, tetap saja miskin.  Demikian juga seseorang berbuat baik atau berbuat jahat adalah karena sudah ditetapkan demikian oleh Allah.

Pandangan Qadariyyah yang diusung oleh Mazhab Mu’tazilah baru berkembang leluasa di masa pemerintahan Kalifah Al Ma’mun, Al Mu’tasim dan Al Watsiq dari Bani Abbas. Adapun tokoh Mazhab Mu’tazilah yang paling terkemuka adalah Wasil bin Atha’. Namun ketika Al Mutawakkil naik menjadi Kalifah Abbasiyah, keadaan berbalik, kini Mazhab Mu’tazillah ditindas habis2an oleh penguasa. Sejak itu kondisi Mazhab Mu’tazilah tidak pernah pulih kembali sampai sekarang.  Artinya sebagai sebuah mazhab yang terorganir sudah punah, namun ide2 atau metoda/dasar2 pemikirannya masih juga di jadikan rujukan oleh segelintir umat Islam dari waktu ke-waktu.  Seperti misalnya, Kelompok Jaringan Islam Liberal yang ada di Indonesia saat ini nampak memiliki kemiripan dalam metoda berpikir Mazhab Mu’tazilah.

Kebalikan dari Mazhab Ahluhadis, maka Mazhab Mu’tazilah justru menitik beratkan kebebasan sepenuhnya setiap individu untuk menentukan nasibnya/takdirnya. Kritikan terhadap Mazhab Mu’tazilah diantaranya pemikirannya seringkali (bahkan pada umumnya) tidak sejalan atau bertentangan dengan prinsip2 syariat, akhlaq dan aqidah Islam yang tercantum di dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.

Kekosongan mazhab kalam dimasa Al Mutawakkil segera di isi oleh Mazhab Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abul Hasan Al Asy’ari. Mazhab ini seperti juga halnya Mazhab Ahluhadist berpijak pada pandangan Jabariyyah. Hanya saja berbeda dengan Mazhab Ahluhadist yang mengharamkan penggunaan metoda rasional dan argumentasi di dalam mengkaji aspek2 aqidah agama (ushul), maka Mazhab Asy’ariyah sampai batas tertentu masih memperkenankan penggunaan metoda rasional dan argumentasi berkenaan dengan pembahasan aspek2 aqidah agama (ushul). Namun metoda rasional dan argumentasi itu tetap berada di bawah lahiriah kata atau teks agama.

Dalam hal pandangan Jabariyyah-nya Mazhab Asy’ariyah ini sama konservatifnya dengan Mazhab Ahluhadist, oleh karena itu pada sisi ini Mazhab Asy’ariyah berada secara bersebrangan dengan Mazhab Mu’tazilah.

Mazhab Asy’ariyah kemudian berkembang menjadi mazhab kalam (mazhab aqidah) bagi sebagian besar Golongan Suni,  para pengikut mazhab fiqh dari Maliki, Syafi’i, Hanafi dan sebagian Hanbali merujukan pada Mazhab Asy’ariyah dalam hal aqidah, sedangkan sebagian lain dari  pengikut mazhab Hanbali (yang merujuk kepada Ibnu Taimiyyah) tetap menolak Mazhab Asy’ariyah, karena mereka mengharamkan penggunaan metoda rasional dan argumentasi dalam kajian aqidah agama dengan alasan atau batasan apapun juga. Mereka itu tetap berpegang pada Mazhab Ahluhadis sebagai mazhab kalamnya. Berbarengan dengan berdiri-nya Kerajaan Saudi Arabia, Mazhab Ahluhadis ini berubah menjadi Mazhab Wahabbi dengan pendirinya Muhammad Abdul Wahab. Didalam perkembangannya kemudian, Mazhab Wahabbi ini tidak saja merupakan mazhab kalam, tetapi juga berupaya menjadi mazhab fiqh sendiri, sekalipun masih tetap berpegang pada pokok2 fiqh Mazhab Hanbali.

Golongan Syiah :

Seperti juga halnya dalam hal cabang ajaran Akhlaq dan Fiqh, maka Syiah kajian aqidah/kalam merupakan bagian yang integral dengan sistem ajaran Islam, sehingga tidak ada mazhab kalam di kalangan Syiah, tetapi justru kajian kalam Syiah mampu melahirkan Ilmu Kalam.

Syiah menolak pandangan Jabariyyah maupun Qadariyyah secara fatalistik. Tidak ada sepenuhnya Jabr dan tidak ada pula sepenuhnya ikhtiyar. Yang ada dalam beberapa hal tertentu bersifat Jabr (predestinasi/ditentukan sebelumnya) dan dalam beberapa hal ikhtiyar (kebebasan mutlak untuk memilih), di antara keduanya terdapat ruang yang sangat luas, dimana disanalah berperan akal (fikr) yang tunduk pada fitrahnya, yaitu akal yang tunduk pada Tauhid Dzati (ke-Esaan Dzat Allah), Tauhid Ibadi (ke-Esaan Allah yang disembah) dan Prinsip Keadilan Allah.

Penutup

Sesuai dengan maksud dan tujuannya semula, maka melalui tulisan singkat ini diharapkan pembacanya memperoleh informasi awal atau pengenalan tentang mazhab2 yang ada di kalangan umat Islam sejalan dengan ke-3 cabang ajaran Islam, yaitu Aqidah, Akhlaq dan Fiqh.

Akhirnya, melalui tulisan ini pula diharapkan dapat menumbuhkan minat bagi para pembacanya untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang segala hal yang terkaitan dengan mazhab2 di dalam masyarakat Islam, melalui penelusuran literatur terkait yang cukup banyak tersedia di toko2 buku dan perpustakaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s