Pandangan masyarakat yang kolektivitis, holistis, dan organistis

Posted: 26/10/2010 in Uncategorized

A.     AUGUST COMTE (1798-1857)

Positivisme adalah paham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan yang benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metode ilmu pengetahuan.

Positivisme adalah ajaran bahwa hanya fakta atau hal yang dapat ditinjau, melandasi pengetahuan sah.

Comte yakin bahwa kemampuan akal-budi manusia untuk mengenal gejala dunia agak terbatas, oleh karena itu manusia harus bersahaja dalam aspirasinya untuk mencari pengetahuan yang layak disebut ilmiah. Ia harus membatasi usahanya, dan hanya mengolah data indrawi yang obyektif dan nyata. Ada tiga hal yang dapat dilakukannya yaitu :

1.      Menerima dan membenarkan gejala empiris sebagai kenyataan

2.      Mengumpulkan dan menggolong-golongkan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka

3.      Meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang berdasarkan hukum-hukum itu, dan mengambil tindakanyang merasa perlu.

Dalam abad yang ke-19 banyak sarjana yakin bahwa seluruh alam termasuk dunia sosial akan dikuasai oleh hukum alam. Hukum itu berperan dengan lepas, bebas dari kemauan manusia. Pandangan ini disebut determinisme. Bukanlah manusia membangun dunia dan memberi arah kepada sejarahnya, melainkan hukum yang otonom. Sejarah dimengerti sebagai proses otonom yang berevolusi dari sendirinya dan tidak mungkin diberhentikan atau dibelokan oleh manusia. Maka manusia harus ikut saja dan mengadaptasikan diri. Ketidaktahuan manusia menyebabkan pepercahan masyarakat, konflik antar kelas sosial, dan segala akibat negatif dari keadaan tidak pasti di bidang-bidang sosial, politik, dan etis.

  1. Hukum Evolusi Masyarakat

Pandangan Comte tentang masyarakat bercorak “Holistis”. Masyarakat dilihat sebagai kesatuan, yang dalam bentuk dan arahnya tidak bergantung pada inisiatif bebas anggotanya, melainkan pada proses spontan, otomatis perkembangan akal-budi manusia. Akal-budi dan cara orang berfikir berkembang dengan sendirinya. Proses itu berlangsung tahap demi tahap dan merupakan proses alam yang tak terlelakan dan tak terhentikan. Perkembangan itu dikuasai oleh suatu hukum universal yang berlaku bagi semua orang dimana pun dan kapan pun.

Comte membedakan tiga tahap dalam proses perkembangan akal-budi yaitu tahap religius, tahap metafisik, dan tahap positif.

a.)    Tahap agama

Fetisysme dan animisme termasuk bentuk-bentukpaling awal dari cara berfikir manusia. Alam semesta dianggap berjiwa. Ciri utama animisme ialah bahwa dunia dihayati sebagai kediaman roh-roh atau bangsa halus.

Politeisme merupakan bentuk pemikiran yang lebih maju. Pikiran manusia mulai menyatukan dan mengelompokan semua benda dan kejadian alam dengan berdasar pada kesamaan-kesamaan diantara mereka. Bukan lagi tiap-tiap desa atau tiap-tiap sawah yang mempunyai jiwanya atau rohnya sendiri, melainkan tiap-tiap jenis atau kelas. Roh-roh pelindung dari masing-masing desa diganti dengan satu dewa. Jadi politaisme harus kita lihat sebagai usaha akal-budi manusia untuk mengatur, menertibkan dan menyederhanakan alam semesta yang pusparagan dan merupakan suatu kemajuan.

b.)    Tahap Metafisika

Dalam tahap ini semua gejala dan kejadian tidak lagi dilihat sebagai langsung disebabakan oleh roh, dewa, atau yang mahakuasa. Sekarang akal-budi mencari pengertian dan penerangan dengan membuat abstraksi-abstraksi dan konsep-konsep metafisik. Menurut Comte, sebenarnya tahap kedua ini hanya suatu modifikasi saja dari tahap pertama.

c.)    Tahap Positivisme

Pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal-budi beerdasarkan hukum yang dapat ditinjau, diuji, dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental. Manusia diharapkan mampu untuk menerapkan dan memanfaatkannya demi suatu penguasaan atas lingkungan alam dan perencanaan masa depan yang lebih baik. Dalam tahap positif ini agama harus menimbang dan menyerahkan hegemoninya atas ordre intellectuelle (Wilayah akal-budi) kepada ilmu pengetahuan empiris.

Kesimpulan Comte ialah bahwa gagasan-gagasan yang dahulu mendasari struktur masyarakat dan negara, sekarang harus ditinggalkan sebab sudah using. Oleh karena itu harus diganti dengan konsep-konsep dan bentuk-bentuk yang rasional. Inti ajaran Comte dapat kita rumuskan sebagai berikut :

1.         Sejarah pada pokoknya adalah proses perkembangan bertahap dari cara manusia berfikir, dan.

2.      Proses perkembangan ini bersifat mutlak, universal, dan tak terelakkan.

Sehubung dengan teori evolusi Comte, bahwa ia tidak manganut determinisme yang radikal. Ia tidak mengajarkan bahwa manusia sama sekali tidak bebas dan sama sekali tidak berpengaruh atas proses evolusi. Walaupun ia berpendapat bahwa proses evolusi akal-budi serta pemantulannya oleh masyarakat berjalan terus dan pasti mencapai tujuannya, namun menurut dia manusia juga masih memainkan peranan bebas. Oleh karena itu peranannya manusia dapat mempercepat atau memperlambat datangnya zaman baru.

  1. Statika dan dinamika sosial

Dengan statika sosial dimaksudkan semua unsur strukturalyang melandasi dan menunjang orde, terbit, dan kestabilan masyarakat. Statika sosial itu disepakati oleh anggota dan karena itu disebut volonte general (kemauan umum). Mereka mengungkapkan hasrat kodrati manusia akan persatuan, perdamaian, dan kestabilan. Tanpa unsur-unsur struktural struktual ini kehidupan bersama tidak dapat berjalan. Pertengkaran dan perpecahan mengenai hal-hal yang dasar, sehingga suatu kesesuaian paham tidak tercapai, menghancurkan masyarakat.

Dinamika sosial adalah daya gerak sejarah yang pada setiap tahap evolusi mendorong ke arah tercapainya keseimbangan baru yang setinggi dengan kondisi dan keadaan zaman. Dalam abad ke-18 dinamika sosial paling menonjol dalam perjuangan dan usaha untuk mengganti gagasan-gagasan agama yang lama dengan konsep-konsep positif dan ilmiah yang baru. Tiap-tiap tahap baru cara manusia berfikir menghasilkan bentuk masyarakat yang baru juga.masyarakat baru yang didasarkan atas cara berfikir yang rasional dan positif itu adalah masyarakat industri. industri  itu dimengerti sebagai penyebab perubahan sosial yang besar sekali

B.     HERBERT SPENCER (1820-1903)

1. Hukum evolusi

Di waktu Spencer belajar tentang gagasan Darwin, ia bertekad untuk mengenakan prinsip evolusi tidak hanya pada bidang biologi, melainkan pada semua bidang pengetahuan juga. Ia mengajarkan, bahwa pada permulaannya materi mempunyai struktur serba sama (homogeneous), tanpa diferensiasi. Materi sederhana itu terbentuk dari sejumlah besar partikel-partikel yang semuanya sama, tetapi dalam keadaan terkuasai oleh suatu gaya gerak dari dalam, yang membuat mereka bergabung. Begitu juga dengan proses evolusi masyarakat. Perorangan-perorangan bergabung menjadi keluarga, keluarga-keluarga bergabung menjadi kelompok, kelompok menjadi desa, desa menjadi kota, kota menjadi negara, dan negara menjadi perserikatan bangsa-bangsa.

2. Evolusi masyarakat

Dalam bukunya Social Stastics masyarakat disamakan dengan suatu organisme. Ciri-ciri yang dikenakan pada badan hidup, dapat dikenakan juga pada badan masyarakat. Masyarakat adalah organisme Semua gejala sosial diterangkan berdasarkan suatu penentuan oleh hukum alam. Hukum yang memerintah atas proses pertumbuhan fisik badan manusia, memerintah juga atas evolusi sosial. Manusia tidak bebas dalam hal ini. Ia tidak memainkan suatu peranan bebas dalam mengembangkan masyarakat. Artinya, masyarakat diumpamakan suatu organisme, sebab para anggotanya berkewajiban untuk membangun masyarakat menjadi satu. Masyarakat bisa menjadi badan yang berintegrasi, asal anggotanya menyadari tanggung jawab mereka dan menyesuaikan prilaku mereka dengan norma itu. Menurut Spencer, masyarakat adalah organisme, yang berdiri sendiri dan berevolusi sendiri lepas dari kemauan dan tanggung jawab anggotanya, dan di bawah kuasa suatu hukum.

Sebagaimana Comte membagi tiga tahap evolusi dalam caranya manusia berpikir, demikian Spencer membedakan empat tahap dalam proses penggabungan materi.

a.         Tahap pertama

adalah tahap penggandaan atau pertambahan. Baik tiap-tiap makhluk individual maupun tiap-tiap orde sosial dalam keseluruhannya selalu bertumbuh atau bertambah.

b.         Tahap kedua

adalah tahap kompleksifikasi. Salah satu akibat proses pertambahan adalah makin rumitnya struktur organisme yang bersangkutan.

c.          Tahap ketiga

ialah tahap pembagian atau diferensiasi. Baik evolusi badan maupun evolusi sosial menonjolkan pembagian tugas atau fungsi, yang semakin berbeda-beda. Perbedaan antara kesatuan-kesatuan tambah waktu tambah menyolok.

d.         Tahap keempat

ialah tahap pengintegrasian. Dengan mengingat bahwa proses diferensiasi mengakibatkan bahaya perpecahan, maka kecenderungan negatif ini perlu dibendung dan diimbangi oleh proses mempersatukan. Semakin heterogenlah bagian-bagian, semakin terasa kebutuhan akan adanya koordinasi dan hubungan timbal-balik yang menuju ke keadaan seimbang.

3. Morfologi masyarakat-masyarakat

Spencer membuat juga suatu pengelompokan tipe-tipe masyarakat berdasarkan ciri-ciri mereka. Ia membadakan antara dua bentuk kehidupaan bersama, yaitu masyarakat militaristis dan masyarakat industri.

Dalam masyarakat militaristis orang bersikap agresif. Mereka lebih suka merampas saja daripada bekerja produktif untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kepemimpinan atas tipe masyarakat ini berada di tangan orang yang kuat dan mahir di bidang peperangan atau pertempuran.

Masyarakat industry itu adalah masyarakat di mana kerja produktif dengan cara damai diutamakan di atas ekspedisi-ekspedisi perang. Spencer memakai kata “industri” bukan untuk “teknologi” atau “rasionalisasi proses kerja”, melainkan dalam arti kerja sama spontan bebas demi tujuan damai.

Dalam bukunya The Man versus yhe State Spencer menarik beberapa kesimpulan dari tesisnya, bahwa individu bermasyarakat dan bernegara untuk kepentingannya sender. Kerja sama antara orang dimaksudkan untuk melengkapi kekurangan individu. Jadi masyarakat hanya salah satu sarana saja, yang ditambahkan dari luar pada hidup individu. Individu mendahului masyarakat. Oleh karena itu di satu pihak individu mempunyai kebutuhan yang bermacam-macam, sedang di lain pihak ia merasa lemah dan terbatas dalam kemampuannya, maka atas dasar pertimbangan rasional ia membentuk suatu “kongsi” atau “kumpulan perseroan” atau badan kerja sama, yang disebut masyarakat atau negara.

C.     DARWINISME SOSIAL

1. Teori Naluri

Menurut teori ini, kesatuan masyarakat dan koherensinya disebabkan oleh suatu kecenderungan biologis di dalam diri manusia, yaitu suatu naluri sosial yang disebut herd instinct atau gregarious instinct (naluri kelompok) yang membuat manusia mengakui dan menyukai teman-teman sesama. Manusia disebut sosial karena kodratnya bukan karena kemauannya. Itu sebabnya bahwa pengasingan atau perceraian dari orang lain mengakibatkan hancurnya manusia.

2. Teori Ras

Teori ras didasarkan atas teori poligenetisme, yaituajaran bahwa asal-usul umat manusia tidak dari satu pasang manusia saja, tetapi dari banyak pasang yang berbeda-beda dalam gennya. Pada suatu saat dalam proses evolusi alam, garis pemisah antara makhluk yang tidak berakal-budi dengan homo sapiens dilintasi di berbagai tempat dan berbagai waktu ini telah mengakibatkan bahwa di sana-sini telah muncul kelompok-kelompok manusia yang masing-masing serba sama ke dalam (intra kelompok), tetapi serba beda satu sama lain (antar kelompok). Tiap-tiap kelompok mempunyai struktur genetic sendiri. Jadi bangsa manusia tidak berasal dari satu pasang saja (teori monogenetis), melainkan dari banyak pasang yang berbeda (teori poligenetis).

3. Teori Determinisme

Menurut teori ini ada tiga tipe keluarga yang bersifat dasar yaitu:

a. Tipe family patriarkal yang kokoh dan fungsional bagi masyarakat-masyarakat pengembala. Ciri khasnya ialah si ayah semua putranya yang telah kawin untuk tinggal serumah dengan dia.

b. Tipe family tidak stabil, yang mirip dengan family yang sekarang disebut keluarga inti atau keluarga batih (nuclear family). Tipe ini bersifat agak goyah karena kurang berdaya dalam menghadapi kesulitan ekonomi.

c. Tipe family pangkal (stem family or famille souche). Merupakan semacam keluarga patriarkal, di mana hanya satu dari antara para ahli waris tetap tinggal di rumah orang tua. Yang lain menerima mas kawin, supaya dapat menetap di tempat lain.

4. Teori-teori Evolusi

Terlebih dahulu kita harus membedakan konsep-konsep evolusi, pembangunan (development) dan kemajuan (progress). Kalaw kitra memakai konsep evolusi, kita menole ke belakang yaitu kesuatu keadaan dahulu, lalu menelusuri tahap-tahap pendahuluan yang telah dilalui sebelum sampai kepada keadaan sekarang.

Kata pembangunan berarti bahwa kita melihat ke depan, bertitik-tolak dari apa yang sudah ada sekarang dan menuju suatu keadaan yang akan ada di kemudian hari. Sedangkan kemajuan adalah sama seperti evolusi dan pembangunan, hanya di tambahkan penilaian positif. Keadaan baru dikatakan lebih baik dari pada keadaan sebelumnya.

D.     Ringkasan

Semua teori yang telah kita tinjau, memandang masyarakat sebagai kesatuan nyata yang berdiri sendiri dan mempunyai dinamika dari diri sendiri. Masyarakat melebihi jumlah anggotanya dalam arti bahwa masyarakat mempunyai “ada” yang tersendiri. Dua ciri menonjol pada masyarakat, yaitu kesatuannya dan kesaling tergantungan bagian-bagiannya. Masyarakat atau realitas sosial itu berevolusi dan membuat sejarahnya sendiri lepas dari kemauan dan kesadaran individu-individu bukan mereka yang membangun dan menopang masyarakat, melainkan masyarakat membangun dan menopang mereka.

Semua teori tersebut mengandung sebagian kebenaran. Tetapi dalam keseruruhannya mereka tidak memadai dengan citra manusia yang sebenarnya. mereka tidak menyingkapkan aspek subyektifitas manusia yang bersifat hakiki, yaitu aspek kesadaran dan kebebasan manusia yang membuat dia pencipta dan penanggung jawab hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s